Serat Piwulang Estri: Pedoman Kesehatan Reproduksi Perempuan Jawa

Serat Piwulang Estri
Potret halaman pertama naskah Serat Piwulang Estri, yang masih menggunakan aksara Jawa Kuno. Foto: Ist/Net

Serat Piwulang Estri merupakan salah satu dari sekian banyak naskah-naskah klasik yang pada masa Raja Pakualam I. Naskah ini terbit dalam lingkungan kerajaan Pakualam. Kerajaan ini merupakan sebuah kerajaan yang berasal dari kejayaan Mataram Islam (Daerah Istimewa Yogyakarta Sekarang)

Pokok-pokok ajaran untuk kaum perempuan Jawa ini lahir pada masa Panembahan Senopati antara tahun 1575 sampai 1601.

Banyak ajaran yang bersifat mendidik khusus bagi kaum wanita. Sejumlah isinya meliputi, pendidikan karakter, dan pendidikan kesehatan khusus untuk kaum perempuan Jawa.

Baca Juga: Sejarah Jemparingan, Alat Olahraga Tradisional Khas Kerajaan Mataram

Beberapa kalangan sejarah melibatkan kajian naskah Piwulang Estri sebagai kajian yang menarik. Hal ini karena kajian Piwulang Estri dapat membantu kaum wanita Jawa. Terutama untuk memahami bagaimana seharusnya berperilaku baik dan sehat dalam kehidupan sehari-hari, terutama pada suami.

Sejarah Lahirnya Serat Piwulang Estri

Pria Esna Agung, dalam “Merawat Nilai-nilai Budaya Jawa Melalui Perspektif Kearifan Lokal di Yogyakarta” (2016: 123), menjelaskan naskah Piwulang Estri memuat informasi berupa ajaran-ajaran moral. Terutama ajaran-ajaran penting yang memuat tentang bagaimana caranya menjadi sosok seorang istri yang ideal untuk para lelaki Jawa.

Sementara S.R Sakti Mulya, dalam bukunya yang berjudul “Katalog Naskah-Naskah Perpustakaan Pura Pakualaman” (2005:93), menerangkan Piwulang Estri merupakan salah satu naskah kuno dari kerajaan Pakualaman.

Naskah ini mulai ditulis pada hari Sabtu, 19 Sapar tahun 1756 (Tahun Jawa) atau tanggal 30 Agustus tahun 1828 (Kalender umum).

Baca Juga: Biografi Pangeran Diponegoro dan Sejarah Perang Diponegoro

Catatan yang sama (2005:93), juga menyebut naskah ini berisi anjuran atau peraturan dari Raja Pakualam I kepada putranya, Suryaningrat yang kelak akan menjadi (Raja Pakualam II).

Adapun anjuran tersebut berisi tentang:

(1) Ajaran tentang filsafat kehidupan dan agama, untuk wanita yang kelak menjadi istrinya.

(2) Ajaran tentang pernikahan dan hal-hal yang yang berkaitan dengan seorang wanita dan laki-laki, khususnya suami.

(3) Sebuah ajaran bagaimana memilih wanita yang ideal untuk dijadikan menjadi seorang istri. 

Serat Piwulang Estri Berisi pedoman Kesehatan bagi Perempuan Jawa

Fetiani Yuniayana Ismawarsari, Dkk, dalam Jurnal Ilmiah UNY, berjudul “Kesehatan Wanita Berdasarkan Studi Teks Serat Piwulang Estri dalam Kajian Filologi sebagai Khazanah Kebudayaan jawa” (Pelita UNY, Vol. IX, No. 2 , Agustus 2016: 6), menyebut Piwulang Estri sebagai naskah kuno yang berisi informasi tentang kesehatan intim bagi wanita.

Fetiani Yuniayana (2016: 17) juga menuturkan, Piwulang Estri menjabarkan berbagai hal tentang kesehatan reproduksi pada wanita. Antara lain seperti, haid, nifas, dan istihadoh (pendaharan pada area intim wanita).

Naskah Piwulang Estri menjelaskan aturan-aturan mengenai seorang wanita yang sedang haid, nifas, haram untuk melakukan salat, dan ibadah tertentu karena tidak memenuhi syarat sahnya ibadah tersebut.

Baca Juga: Kisah Sukarno dengan Gadis Belanda, Cinta Ditolak Berbuah Merdeka

Selain itu, dalam Serat Piwulang Estri melarang seorang wanita yang sedang haid bersenggama atau dalam bahasa Jawa (saresmi). Karena sedang mengeluarkan darah kotor yang dapat menimbulkan penyakit pada organ reproduksi wanita.

Meskipun demikian, Pria Esna Agung (2016: 141), menyimpulkan bahwa Serat Piwulang Estri adalah sebuah ajaran Raja Pakualam I untuk setiap orang tua.

Orang tua dapat memberikan pengajaran bagi anak-anak perempuan mereka tentang hakikat bagaimana menjadi seorang wanita Jawa yang sehat lahir dan batiniahnya.

Aturan-Aturan Perempuan Jawa

Seperti yang diungkapkan Pria Esna Agung (2016: 141), dalam Serat Piwulang Estri terdapat aturan-aturan yang harus dipenuhi wanita. Salah satunya adalah, hakikat bagaimana menjadi wanita Jawa yang menarik.

Wanita harus mengerti, dan tetap ingat sebutan mereka sebagai “Putri” dalam bahasa Jawa yang berarti memiliki tiga arti.

Pertama, adalah berbakti kepada lelaki atau suami. Kedua, seorang wanita tidak boleh merasa berani terhadap suami karena suami itu ibarat seorang guru.

Guru merupakan representasi orang yang harus dihormati seperti halnya Nadhinira Gusti, sehingga seorang perempuan tidak boleh membantan atau melawannya.

Sementara ketiga, seorang wanita harus mampu menghormati suami, sekalipun status sosialnya seorang wanita lebih tinggi daripada lelaki atau suaminya.

Seorang perempuan Jawa harus mengikuti ajaran-ajaran tersebut saat sedang belajar mengamalkan Serat Piwulang Estri.

Beberapa kajian menyebut, Serat Piwulang Estri mampu dipercaya oleh hampir semua wanita di kalangan Istana Pakualam sebagai pedoman rumah tangga agar tetap langgeng dan harmonis hingga saat ini. (Erik/R7/HR-Online)

Loading...