Serikat Indonesia Baru, Manuver PKI Kuasai Indonesia Saat Jepang Kalah

Serikat Indonesia Baru
Potret salah satu saksi sejarah PKI dan peranan Serikat Indonesia Baru di Australia bernama Charles Olke van der Plas. Foto: Ist/Net

Keberadaan Serikat Indonesia Baru merupakan salah satu strategi PKI untuk mempertahankan Indonesia agar tak kembali ke tangan Belanda. PKI berusaha bangkit kembali saat Jepang kalah.

Belanda banyak mengasingkan pentolan PKI sebelum masa kemerdekaan. Peristiwa itu bermula sejak Belanda menetapkan PKI bersalah karena telah melakukan pemberontakan pada tahun 1926-1927.

Baca Juga: Profil Haji Misbach, Penganut Ajaran Komunisme di Masa Kolonial

Selepas peristiwa tersebut, Belanda menahan para anggota dan simpatisan PKI dengan cara mengasingkannya ke Boven Digul Papua. Belakangan mereka terkenal dengan sebutan “Digulis”.

Hary A Poez mencatatnya dalam “PKI SIBAR: Persekutuan Aneh Antara Pemerintah Belanda dan Orang Komunis di Australia 1943-1945” (2014:3). Ia menyebut bahwa pemerintah kolonial Belanda mengurung tahanan komunis di Digul.

Tak tanggung-tanggung Belanda mengasingkan mereka hingga berpuluh-puluh tahun lamanya. Sampai perang dunia kedua berkecamuk mereka masih berada dalam kamp pengasingan Digul.

Selain itu Hary juga menyebut di kamp pengasingan Digul terdapat seorang tokoh PKI senior yang berperan penting dalam pemberontakan PKI tahun 1926-1927. Tokoh PKI tersebut bernama Sardjono.

Baca Juga: Kisah Sukarno dengan Gadis Belanda, Cinta Ditolak Berbuah Merdeka

Sardjono adalah salah seorang komunis tulen, ia tidak hanya sendiri dalam kamp pengasingannya. Sardjono membawa anak dan istrinya ke kamp pengasingan di Boven Digul Papua.

Sementara Serikat Indonesia Baru merupakan sebuah organisasi politik bentukan kelompok PKI yang didirikan di Australia.

Menurut Sejarawan Hary A. Poeze, Serikat Indonesia Baru yang kemudian disingkat menjadi SIBAR ini, diketahui merupakan organisasi PKI  yang berkamuflase dan menyimpan strategi mengelabui Belanda agar tak bisa menguasai Indonesia kembali.

Sejarah Serikat Indonesia Baru (SIBAR)

Menurut Hary (2014:4), setelah kegagalan pemberontakan yang dilakukan Partai Komunis Indonesia (PKI) pada tahun 1926-1927, pemerintah Hindia Belanda mengirim ribuan pengikutnya ke kamp Digul Papua. 

Mereka dikirim ke sana tanpa prosedur hukum dan tidak pula diberikan hukuman. Pembuangan ini dilakukan dalam jangka waktu tak tentu.

Meskipun banyak tawanan yang dibebaskan sejak tahun 1927, terdapat ratusan lainnya tetap tinggal di sana, sekalipun ketika pada Desember 1941, Belanda menyatakan perang terhadap Jepang.

Seiring dengan datangnya Jepang ke Indonesia sekitar tahun 1943, orang-orang Belanda dan para tahanan Digul lebih awal terbang meninggalkan kamp pengasingan untuk menghindari Jepang dan pergi ke Australia.

Menurut Hary A. Poeze diterbangkannya para tahanan Digul ke Australia adalah upaya pemerintah Belanda menyelamatkan orang-orang penting yang nantinya akan dimanfaatkan Belanda dalam melawan Jepang.

Adapun masa tahanan Sardjono dan seribuan orang yang ditahan karena kasus yang sama mendapat remisi pembebasan. Hal itu dilakukan dengan syarat instruksi pemerintah Hindia Belanda agar ikut terbang bersama ke Australia, saat itu Sardjono mengiyakan.

Ch.O. van Der Plas Tokoh Belanda yang Memprakarsai SIBAR di Australia

Ketika rombongan Digul tiba di Australia, mereka disambut hangat oleh Ch.O.van Der Plas, seorang Belanda militan yang sangat anti Jepang.

Selanjutnya Van Der Plas dengan Sardjono yang dituakan oleh para pengikut PKI dahulu, membangun kerja sama dengan Belanda di Australia. Lantas mereka mendirikan organisasi bernama Serikat Indonesia Baru (SIBAR) yang dibentuk pada Mei 1944.

Adapun menurut Hary. A Poze, hal ini merupakan sebuah persekutuan aneh yang dibangun Belanda dengan mantan PKI.

“Jelas sejak dahulu mereka dianggap musuh, karena terlibat pemberontakan komunis tahun 1926-1927 dan beberapa kerusuhan di dalam pemerintahan, namun sekarang mereka menjalin kerja sama yang cukup baik,” tulis Poze.

Setelah kerjasama mereka terjalin, SIBAR bertujuanmembangun strategi melumpuhkan Jepang yang tengah menduduki Indonesia.

Van Der Plas kemudian membangun kekuatan yang lebih kuat dengan mengerahkan mantan Digulis dari kelompok Komunis yang dipimpin Sardjono untuk lebih sering melakukan propaganda anti Jepang terhadap orang Indonesia yang berada di Australia.

Seiring dengan berjalannya waktu, usaha Sardjono serta kawan-kawannya berhasil. Akhirnya van Der Plas memilih Sardjono sebagai pemimpin SIBAR.

Namun di tengah kepercayaan Van Der Plas terhadap Sardjono, ia mendapati gerak gerik yang aneh terhadap Sardjono, ia seolah sedang menyiapkan strategi perlawanan kepada Belanda.

Pembubaran Serikat Indonesia Baru

Van Der Plas semakin mengetahui bagaimana peran Sardjono dalam tubuh Serikat Indonesia Baru. Sardjono semakin terlihat memanfaatkan kesempatan ini untuk mengatur strategi komunis supaya kembali berkembang menjadi partai besar di Indonesia nanti.

Meskipun Sardjono selalu bersikap manis kepada Van Der Plas, tapi tidak membuat Van Der Plas lengah, ia selalu curiga ketika ada perilaku yang tidak beres dalam pemikiran Sardjono.

Van Der Plas menuduh Sardjono memiliki rencana lain yang lebih jauh dari pada hanya kerjasama dengan pemerintah Belanda melawan Jepang di Indonesia.

Belakangan diketahui Sardjono tengah berencana menghimpun kekuatan massa dan mengatur strategi mengembalikan eksistensi Partai Komunis di Indonesia melalui organisasi Serikat Indonesia Baru.

Menurut Hary A. Poeze, Sardjono, Sardjono diketahui telah membangun kerjasama dengan jaringan komunis internasional seperti di Helidon dan Budanberg.

Hal itu bertujuan mengantongi massa untuk melawan musuhnya kelak. Inilah yang membuat Van Der Plas naik pitam. Ia pun akhirnya membubarkan perkumpulan Serikat Indonesia Baru. Bahkan mencapnya sebagai organisasi terlarang.

Akhir Hayat Sardjono

Akhir hayat kepemimpinan Serikat Indonesia Baru yang dipegang oleh Sardjono sudah berujung tragis. Setelah berakhirnya perang dunia kedua, para kelompok Serikat Indonesia Baru kembali diantarkan ke pengasingan di bawah kekuasaan Belanda dulu. Mereka dikirim ke Jayapura, dan Morotai atau Maluku bagian utara.

Seperti ditulis oleh Nasution dalam “Seputar Perang Kemerdekaan Jilid I” (1977: 427), orang-orang yang terhimpun dalam Serikat Indonesia Baru di Morotai banyak dijadikan sebagai Opsir NICA (Nederlandsch Indie Civiele Administratie).

Namun berbeda dengan Sardjono, ia memilih pulang dan kembali ke Jawa, lantas ia menikahkan anaknya dengan anak Abdoelrachman sobatnya dari Jawa. Namun Sardjono bernasib apes ia terbunuh pada peristiwa pemberontakan PKI pada tahun 1948.

Begitulah sejarah Serikat Indonesia Baru, yang merupakan strategi PKI untuk menguasai Indonesia setelah Jepang kalah yang layak dibaca. (Erik/R7/HR-Online)

Loading...