Sistem Saraf Otonom, Pengertian, Jenis dan Fungsinya Terhadap Organ

Sistem Saraf Otonom
Ilustrasi Sistem Saraf Otonom. Foto Istimewa

Sistem saraf otonom memiliki banyak kegunaan bagi tubuh. Semua makhluk hidup yang ada pada dunia ini mempunyai bagian masing-masing dalam tubuh mereka yang sangat unik.

Mereka juga mempunyai manfaat serta kegunaan masing-masing. Yang kemudian, akan berguna dalam mengontrol kerja suatu organ dalam tubuh. Semua aktivitas yang kita kerjakan secara langsung bergerak akibat adanya sistem yang mengontrol dari pusat.

Sistem pusat tubuh kita adalah otak. Sehingga otak memiliki kegunaan yakni mengontrol setiap aktivitas atau gerakan serta apa yang nantinya akan kita lakukan.

Baca Juga: Fungsi Otot Polos, Struktur, dan Cara Kerja untuk Tubuh

Sistem Saraf Otonom

Menurut Wikipedia, sistem otonom adalah sistem saraf yang mewakili sistem saraf pada motorik otot polos, otot jantung, dan juga pada sel-sel kelenjar. Sistem ini juga kita kenal dengan sistem saraf tak sadar.

Ia melakukan perintah atau bekerja dengan tanpa kita sadari. Ia juga bergerak dengan cara otomatis yang tak kita kehendaki melalui saraf pusat (otak) terlebih dahulu.

Dengan kata lain, sistem saraf otonom bekerja tanpa mendapat perintah kita terlebih dahulu. Contoh dari sistem saraf ini adalah perubahan pada pupil mata, denyut pada jantung, mengeluarkan keringat, gerakan pencernaan, dan masih banyak lagi.

Sistem saraf ini terdiri atas 12 pasang saraf otak. Mereka adalah kranial serta terdiri atas 31 pasang saraf spinal atau sumsum tulang belakang.

Sistem saraf ini juga terpengaruh dari hipotalamus yang terdapat dalam otak. Hipotalamus tersebut bisa terangsang dan memberikan pengaruh pada gerakan otonom. Kemudian, sistem saraf tak sadar ini adalah gabungan dari saraf motorik dan saraf sensorik.

Jenis-Jenis serta Fungsi Saraf Otonom

Berikut ini adalah beberapa jenis dan fungsi dari sistem saraf tak sadar, antara lain:

Sistem Saraf Simpatik

Salah satu sistem saraf otonom ini terdapat pada depan tulang rusuk bagian belakang yang ada pada pangkal sumsum tulang belakang. Bisa kita sebut jika letak dari sistem saraf ini berupa medula spinalis yang ada pada bagian dada dan juga pinggang.

Saraf ini juga terkenal dengan sebutan saraf torakolumbar. Hal ini karena saraf preganglion keluar yang berasal dari tulang belakang pada torak dari pertama hingga ke-12.

Dalam sistem saraf simpatik terdapat 25 pasang ganglion atau simpul sumsum tulang belakang. Banyak sekali kegunaan atau fungsi dari keberadaan sistem saraf simpatik ini.

Pada umumnya, sistem ini memiliki fungsi dalam memacu kerja organ tubuh kita. Namun, ada pula yang dapat menghambat kerja dari organ tersebut.

Fungsi sistem saraf otonom simpatik antara lain mampu memperbesar bagian pupil mata, memperbesar bronkus, menghambat ereksi, menghambat sekresi dari empedu, dan mempercepat detak jantung.

Lalu, fungsi lainnya yakni memperlambat kerja sistem pencernaan, menurunkan tekanan darah, meningkatkan sekresi adrenalin, dan menghambat kontraksi dari kantung kemih.

Baca Juga: Sistem Pencernaan Manusia Bukan Hanya Usus dan Lambung, Apa Saja?

Sistem Saraf Parasimpatik

Sistem saraf parasimpatik merupakan sistem saraf yang mempunyai pangkal pada sumsum tulang belakang lanjutan atau medula oblongata. Pada sistem ini juga sering kita sebut dengan sistem saraf kranosakral.

Karena saraf preganglion keluar dari sakral dan juga dari otak. Saraf parasimpatik ini terdiri atas jaringan yang terhubung dengan ganglion yang tersebar pada seluruh tubuh kita.

Sedangkan, fungsi dari sistem saraf otonom parasimpatik ini berbeda atau berbanding terbalik dengan sistem saraf simpatik. Jika sistem saraf simpatik pada umumnya mempercepat kerja organ, maka tidak untuk sistem saraf parasimpatik.

Seperti yang sudah kita ketahui jika sistem ini adalah kebalikannya, yaitu memperlambat kerja dari organ. Jadi, dengan cara kerja kedua sistem saraf ini, maka kerja organ menjadi seimbang dan normal.

Fungsi dari sistem saraf parasimpatik diantaranya adalah mengecilkan ukuran pupil mata, merangsang ereksi, dan memperkecil bronkus.

Kemudian, juga berfungsi sebagai sistem yang meningkatkan tekanan darah, menghambat sekresi dari adrenalin dan menghambat detak jantung. Selain itu, mampu meningkatkan sekresi empedu, menghambat pencernaan, serta mempercepat kontraksi dari kantung kemih.

Sistem saraf otonom sangat berpengaruh dalam proses yang terjadi dalam tubuh kita. Karena dengan adanya saraf ini, kita tak harus memberikan perintah terlebih dahulu melalui otak sebagai sistem saraf pusat. Jadi, organ tubuh yang seharusnya tidak berhenti dan terus bekerja tersebut tidak terganggu fungsinya. (R10/HR Online)

Loading...