Tjipto Mangoenkoesoemo, Pahlawan Nasional dari Keluarga Ningrat

Dr Tjipto Mangoenkoesoemo, Pahlawan Nasional dari Keluarga Ningrat
Dr Tjipto Mangoenkoesoemo, Pahlawan Nasional dari Keluarga Ningrat. Foto: Istimewa

Pada awal abad ke-20, terdapat kaum nasionalis yang gigih berjuang dalam dunia politik bernama Tjipto Mangoenkoesoemo. Ia lulusan Sekolah Dokter Jawa (Stovia) Jakarta. Walaupun berprofesi sebagai dokter, namun bidang politik yang menjadi fokus utamanya dalam menunaikan darma baktinya untuk tanah air dan bangsa.

Tindakan-tindakan berpolitiknya sangat radikal dan revolusioner. Hobinya mengkritik pemerintah Hindia Belanda, ia salurkan melalui partai politik bersama kawannya Ernest Douwes Dekker, dan R.M Soewardi Soerjaningrat (Ki Hadjar Dewantara) dengan membentuk Indische Partij.

Meskipun revolusioner, tapi bukan berarti huru-hara yang membabi buta. Maksud dari revolusioner ini adalah menyalurkan gagasan yang bersifat perlawanan melalui partai politik.

Sejarah Dr Tjipto Mangoenkoesoemo, Keluarganya dari Kalangan Bangsawan

Menurut Soegeng Reksodihardjo dalam bukunya yang berjudul “Dr. Cipto Mangunkusumo” (1992: 30) mengungkapkan bahwa, pahlawan nasional ini berasal dari keluarga ningrat, atau bangsawan Jawa yaitu dari lingkungan Kraton Yogyakarta.

Kakek buyutnya yang bernama Mangudiwirjo merupakan Demang yang sangat dihormati dalam lingkungan kraton. Soegeng menyebut jiwa kepemimpinan Tjipto Mangoenkoesoemo mewarisi Demang Mangundiwirjo. Sementara watak yang kaku, keras dan penuh kritik, warisan dari sang ayah bernama Mangunkoesoemo.

Sementara Ibu Tjipto Mangoenkoesoemo yang bernama R.A Suratmi merupakan seorang wanita yang sederhana. Menurut penuturan Soegeng, beliau tidak pernah mendapat kesempatan mengikuti pendidikan sistem Barat. Sebagaimana nampak dalam silsilah keluarga dari garis nenek dari ibunya Tjipto, beliau bukan datang dari golongan keluarga royal, melainkan sederhana (1992: 31).

Baca Juga: Romo Mangunwijaya, Arsitek Mulia bagi Wong Cilik di Yogyakarta

Ibu Suratmi mendapatkan pendidikan barat dari suaminya yaitu bapaknya Tjipto. Dalam keterangan, beliau sebagai seseorang yang penuh dengan kesabaran mengajari istrinya ibu Suratmi membaca dan menulis dengan menggunakan huruf latin. Kebiasaan ini terbawa hingga mereka mempunyai anak bernama Tjipto Mangoenkoesoemo.

Hingga suatu saat sejarah pernah mencatat, hampir semua putranya dapat memperoleh gelar kesarjanaan. Hal tersebut jarang dapat diperoleh banyak orang pada zaman penjajahan.

Kisah Masa Kecil, Pernah Diramal Akan Menjadi Orang Cerdas

Tjipto Mangoenkoesoemo lahir pada 4 Maret 1986, di Desa Pecangakan, Jepara. Dari daerah inilah ibu Tjipto berasal. Karena ibu Tjipto berasal dari keluarga ningrat, maka tanahnya luas dan sebagian besar untuk tanaman tebu (pabrik gula). Daerah ini yang merupakan salah satu wilayah yang tertimpa kesengsaraan pada zaman Tanam Paksa.

Ketika lahir, Tjipto lahir memiliki tanda keningnya yang lesung. Menurut omongan orang Jawa sebagai suatu pertanda bahwa bayi itu kelak akan menjadi seorang yang pandai. Sementara mengutip tulisan Soegeng (1992: 34), menurut keterangan orang tua Tjipto, semasa kecilnya, Tjipto sudah menunjukan watak semangatnya, kerap berbuat nakal, namun cerdas dan bersifat ksatria.

Tjipto Mangoenkoesoemo membuktikan ramalan itu ketika menjadi dokter lulusan Stovia Jakarta. Menurut Soegeng, Tjipto merupakan anak yang paling pandai dari kesepuluh saudara-saudaranya.

Dokter yang Berpolitik Radikal dan Revolusioner

Berawal dari kesenangannya menulis pada harian De Locomotief sejak tahun 1907, Dr. Tjipto mulai tertarik dengan politik. Tjipto sering menulis kritikan pedas kepada pemerintah kolonial Belanda tentang keadaan masyarakat Hindia yang tidak sehat.

Dr. Tjipto mengkritik baik hubungan feodal maupun kolonial sebagai sumber penderitaan rakyat. Dalam hubungan feodal, nyata sekali kepincangan-kepincangan nilai dalam masyarakat.  Rakyat umum sangat terbatas ruang gerak dan aktivitasnya, sebab banyak kesempatan yang tertutup bagi mereka.

Keadaan inilah yang sangat ditentang dan dikritik oleh Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo. Ia berusaha agar keadaan ini cepat berubah. Usahanya ia lakukan melalui tulisan-tulisannya yang amat berani dalam harian De Locomotief (1907).

Ia mengkritik kepalsuan untuk melebihi hak golongan-golongan yang berkuasa dan ningrat, sehingga keadaannya sebagai pegawai negeri sudah tidak dapat mempertahankannya lagi.  Pada akhirnya, karena tulisan-tulisannya itu, maka segera Dr. Tjipto mendapatkan peringatan dari atasanya untuk berhati-hati dalam menulis.

Akan tetapi karena watak Tjipto yang revolusioner, kebiasaan mengkritik itu tak pernah padam dalam jiwanya, hingga ia meninggal pada tahun 1943 karena menderita penyakit asma akut. Begitulah sepenggal sejarah Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo. (Erik/R9/HR-Online)