BUMDes Kujang Kota Banjar Miliki Mesin Produksi Air Mineral

BUMDes Kujang Kota Banjar Miliki Mesin Produksi Air Mineral
BUMDes Kujang Desa Kujangsari saat menunjukkan mesin produksi air mineral. Foto: Muhafid/HR

Berita Banjar (harapanrakyat.com).- Dalam rangka memaksimalkan keberadaan potensi daerah, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Kujang, Kecamatan Langensari, Kota Banjar, terus melakukan berbagai inovasi untuk menambah Pendapatan Asli Desa (PADes).

Seperti adanya mata air sekitar lereng Gunung Sangkur yang pengelolaannya oleh Perhutani, BUMDes Kujangsari pun tergerak untuk mengembangkannya agar lebih produktif.

Direktur BUMDes Kujang, Embib Habibulloh, menjelaskan, sudah hampir dua tahun pihaknya bekerjasama dengan Perhutani untuk memanfaatkan mata air tersebut.

“Kami mengembangkan depot air isi ulang galon. Nah, untuk airnya itu diambil dari lereng gunung. Alhamdulillah sudah berjalan, dan respon masyarakat juga sangat bagus,” kata, kepada Koran HR, Selasa (20/10/2020).

Miliki Mesin Produksi Air Mineral

Selain depot air minum, BUMDes Kujang berinovasi dengan memproduksi air mineral kemasan cup maupun botol. Bahkan, kini mesin press gelas air mineral 2 line sudah terbeli dan berjalan untuk memenuhi kebutuhan setiap kegiatan Pemdes Kujangsari.

“Karena perizinan belum selesai, kita tidak berani untuk menjualnya keluar. Repot urusannya kalau berbenturan dengan Undang-Undang. Jadi sementara ini hanya untuk memenuhi kegiatan-kegiatan pemerintah desa saja,” ungkap Embib.

Ia menjelaskan, dari mesin tersebut, dalam satu jam bisa memproduksi sekitar 2.000 cup atau sekitar 200 dus. Selain bisa mengisi air secara otomatis dan pengemasannya, juga memiliki coding atau alat cetak kedaluwarsanya. Namun karena terbentur modal dan perizinan, sehingga pihaknya masih menggunakan satu line dan produksinya masih terbatas.

“Pesan plastik penutupunya itu kan harus borongan, belum termasuk labelnya juga harganya sangat besar untuk ukuran kami, sekitar Rp 25 jutaan. Makanya kita ecer saja daripada gagal kan repot, terlebih konsepnya juga harus matang,” ujarnya.

Sedangkan, untuk bisa memenuhi persyaratan itu, BUMDes harus memiliki tempat produksi sendiri, termasuk kantor dan perlengkapan lainnya.

“Mesinnya ini memang tergolong paling murah, sekitar Rp 75 juta. Meskipun belum bisa produksi banyak karena terbentur banyak hal, namun ini sebagai wujud keinginan kami agar kegiatan BUMDes bisa lebih produktif,” kata Embib.

Baca Juga: BUMDes di Jabar Dituntut Lakukan Inovasi Di Tengah Pandemi

Pendapatan Rp 300 Juta

Manajer Administrasi BUMDes Kujang, Muhsorin Kamil, menambahkan, meskipun masih banyak kendala, namun pihaknya terus mengembangkan berbagai potensi yang ada.

Dari total anggaran Rp2,4 miliar sejak 11 tahun yang dikelola pihaknya, hampir setiap tahun bisa menghasilkan pendapatan kotor sekitar Rp300 juta.

“Saat ini kita selain bergerak dalam bidang air minum, juga mengelola jasa pembayaran pajak, listrik, BPJS, kredit barang. Bahkan untuk pengelolaan gula Jawa menjadi penghasil pendapatan paling besar,” terangnya.

Untuk ke depannya, imbuh Kamil, pihaknya berharap secara perlahan badan usaha tersebut bisa semakin maju dan berkembang, hingga benar-benar bisa berjalan secara mandiri.

Kepala Desa Kujangsari, Ahmad Mujahid, membenarkan bahwa, perizinan Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) masih dalam proses agar bisa memproduksi secara massal.

Pihaknya pun sudah menyampaikan kepada Pemkot Banjar agar kemudian hari memfasilitasi pemasarannya dalam berbagai kegiatan pemerintahan, yaitu dengan menggunakan produk-produk UMKM maupun BUMDes.

“Dengan begitu, secara tidak langsung membantu mengambangkan produk lokal. Saya kira kemajuan desa dan BUMDes tidak terlepas dari campur tangan pemangku kebijakan,” kata Mujahid. (Muhafid/Koran HR)