Kisah Pasien Positif Covid-19 yang Tertular Saat Pergi Liburan

Kisah Pasien Positif Covid-19
Ilustrasi Kisah Pasien Positif Covid-19. Foto: Ist/net

Berita Nasional, (harapanrakyat.com),- Ketua Bidang Data dan TI Satgas Penanganan Covid-19, Dr. Dewi Nur Aisyah, menceritakan kisah pasien positif Covid-19 yang tertular saat pergi liburan. Menurutnya, area wisata yang ramai kerumunan manusia kerap menjadi tempat penyebaran Covid-19.

“Meski berada di area terbuka, namun dipenuhi kerumunan manusia, sangat rentan menjadi tempat penyebaran atau penularan virus corona. Karena dengan berkerumun sulit melakukan jaga jarak atau sosial distancing,” kata Dr. Dewi Nur Aisyah, saat memberikan pemaparan pada acara talkshow yang ditayangkan Channel YouTube BNPB, belum lama ini.

Kisah Pasien Positif Covid-19 Tertular Saat Berwisata

Dewi menceritakan kisah 4 karyawan di sebuah perusahaan di Surabaya yang pergi liburan bersama ke salah satu kota di Indonesia. Setelah pulang berlibur, keempat karyawan tersebut dinyatakan positif Covid-19.

“Saat pergi berlibur ke salah satu kota, keempat karyawan ini mengunjungi tempat keramaian di kawasan Alun-alun. Tanpa menerapkan protokol kesehatan, mereka berbaur dengan pengunjung lain, makan-makan dan menikmati suasana keramaian sembari nongkrong,” terangnya.

Baca juga: Kepala Daerah Diminta Batasi Aktivitas Tempat Wisata Saat Libur Panjang

Dewi mengatakan, meski menggunakan masker, namun berlama-lama berada di tempat kerumunan dengan mengabaikan jaga jarak tetap berpotensi tertular Covid-19.

“Menggunakan masker hanya menurunkan risiko tertular Covid-19 antara 40 sampai 70 persen. Sementara menjaga jarak bisa menurunkan resiko tertular sampai 80 persen,” katanya saat menanggapi kisah pasien positif Covid-19 yang tertular saat berwisata karena abai menerapkan sosial distancing.

Artinya, terang Dewi, menjaga jarak hal yang paling penting dalam penerapan protokol kesehatan. Namun harus juga dengan ditambah menggunakan masker. Selain itu selalu membersihkan tangan menggunakan sabun atau hand saniteser serta hindari tangan memegang area wajah.

“Satu hal yang paling penting adalah hindari area berkerumun manusia. Pilih tempat yang tidak terlalu ramai agar bisa menjaga jarak dengan orang yang tidak kita kenal atau tidak diketahui status kesehatannya,” ujarnya.

Pentingnya Menerapkan Protokol Kesehatan

Dewi mengatakan kisah pasien positif Covid-19 yang merupakan empat karyawan di Surabaya itu bisa dipetik pelajarannya. Menurutnya, di saat pandemi yang belum bisa diperkirakan kapan berakhirnya, menerapkan protokol kesehatan merupakan hal yang paling penting.

“Ketika belum ditemukan vaksin, menerapkan protokol kesehatan merupakan vaksin yang paling efektif untuk terhindar dari penularan Covid-19,” ungkapnya.

Kisah Tertular Covid-19 Rombongan Wisata

Selain empat karyawan tersebut, terdapat juga kisah lainnya yang sama tertular virus corona pada saat berwisata. Dia mengatakan kisah ini dialami oleh sebuah keluarga di Indonesia.

“Sepasang suami istri berlibur dengan mengajak adik ipar dan teman kerjanya. Setelah 2 minggu pasca berlibur ternyata mereka dinyatakan positif Covid-19. Kemudian dilakukan tracking ke orang yang kontak erat. Ternyata si adik ipar menularkan kepada orangtua dan saudaranya di rumah,” ujarnya.

Kisah pasien positif Covid-19 ini sungguh tragis. Karena meski orantunya tidak ikut berlibur, tetapi tetap ikut tertular. Penularan pada kasus ini seperti merketing level yang menularkan dari satu orang ke lainnya secara berjejaring.

Baca juga: Meski Vaksin Covid-19 Ditemukan, Belum Menjamin Pandemi Berakhir

“Ada dugaan bahwa salah seorang yang pergi berlibur secara bersama-sama ini sebelumnya sudah tertular Covid-19 dengan status tanpa gejala. Kemudian mereka bersamaan dalam satu mobil, makan bersama dalam satu meja dan kemanapun mereka pergi bersama selama berlibur,” terangnya.

Resiko Tertular Saat Berada di dalam Mobil

Proses penularan Covid-19, lanjut Dewi, dipastikan selama mereka pergi berlibur bersama. “Bisa tertular saat tengah berada di dalam mobil. Karena pergi saat berwisata dipastikan lebih dari satu jam bersama-sama berada dalam mobil,” ujarnya.

Menurut Dewi, ketika lebih dari satu jam berada dalam mobil, satu orang postif berpotensi besar menularkan ke orang lain yang berada dalam satu mobil.

“Sirkulasi udara di dalam mobil mengandalkan dari AC. Otomatis percikan droplet yang keluar dari mulut orang positif akan lama memutar di dalam mobil. Jika kondisinya begitu, sulit untuk tidak menularkan kepada orang yang berada dalam satu mobil,” ungkapnya saat menanggapi asal penularan pada kisah pasien positif Covid-19 yang diduga tertular dari salah satu rombongan wisatanya.

Bila tidak satu mobil, tambah Dewi, penularan Covid-19 saat pergi berlibur bersama bisa terjadi saat makan bersama. Karena orang yang bersama-sama berlibur pasti akan melakukan makan bersama.

“Ketika kita makan masker pasti dilepas. Setelah makan dilanjutkan dengan berbincang santai di meja makan. Dalam suasana santai begitu pasti akan lupa pada protokol kesehatan. Di saat itulah rentan terjadi penularan Covid-19,” ujarnya.

Libur Panjang Akhir Oktober Lebih Baik Tidak Bepergian

Dewi mengingatkan pada libur panjang di akhir Oktober nanti sebaiknya masyarakat tidak berpergian ke luar kota. Lebih baik, kata dia, hari libur panjang diisi dengan acara keluarga di rumah.

“Jika menyimak kronolgis kisah pasien positif Covid-19 tersebut perlu berpikir ulang apabila telah berencana akan pergi ke luar kota pada saat libur panjang nanti. Jika berencana akan mengunjungi sanak saudara lebih baik dilakukan secara virtual melalui aplikasi komunikasi online,” katanya.

Baca juga: Angka Kasus Covid-19 Dikhawatirkan Melonjak Pasca Libur Panjang

Dewi menegaskan pada liburan panjang nanti jangan sampai terjadi lonjakan mobilitas warga yang bergerak dari satu kota ke kota lainnya. Karena dari berbagai pengalaman sebelumnya, peningkatan mobilitas warga saat libur panjang selalu berdampak pada peningkatan angka kasus Covid-19 aktif pada bulan berikutnya.

“Kisah pasien positif Covid-19 tadi harus menjadi pelajaran bagi kita semua agar terhindar dari penularan Covid-19 sampai pandemi ini berakhir. Jangan lelah untuk terus menerapkan protokol kesehatan agar kita menjadi bagian dari orang yang memutus rantai penyebaran Covid-19,” ujarnya. (Bgj/R2/HR-Online)

Editor: Subagja Hamara