Kisah Wartawan Tertular Covid-19, Tak Alami Gejala Hingga Negatif

Kisah Wartawan Tertular Covid-19, Tak Alami Gejala Hingga Negatif
Ilustrasi positif Covid-19. Foto: Ist/net

Kisah wartawan tertular Covid-19 ini berawal ketika sore menjelang petang, tepatnya Senin tanggal 6 Juni 2020. Riza Muhammad Irfansyah, seorang wartawan media online, mendapat telepon dari temannya. Tanpa diduga, temannya memberi kabar yang sangat mengejutkan.

“Gimana kabarnya Riza? Lagi dimana?,” tanya temannya diujung telepon, kepada Riza pada sore itu.

“Alhamdulillah baik. Saya lagi di kantor PWI Ciamis. Ada apa A? (Aa sapaan Abang bagi orang Sunda),” Riza balik bertanya.

Dalam percakapan telepon itu temannya yang juga Ketua PWI Kabupaten Ciamis memberi kabar bahwa hasil test Swab massal yang diikuti oleh para wartawan, anggota TNI dan Polri yang digelar di halaman Dinas Kesehatan Ciamis, Jawa Barat, Selasa, 2 Juni 2020, sudah keluar.

Riza merupakan salah satu wartawan yang ikut serta dalam test Swab tersebut.  

“Riza, tenang ya jangan panik. Barusan Kepala Dinas Kesehatan Ciamis kasih kabar. Tapi jangan panik,”

“Iya ada apa A,” tanya Riza penasaran.

“Tenang. Sabar. Istighfar. Yang pasti ini cobaan. Hasil tes Swab Riza positif Covid-19. Hanya satu orang yang positif, Riza saja,” kata temannya meyakinkan.

Lantas temannya meminta Riza untuk segera pulang ke rumahnya untuk melakukan isolasi mandiri. Selain itu petugas medis pun akan segera datang ke rumahnya untuk melakukan penanganan.

“Waktu itu saya tidak percaya saat diberi kabar bahwa saya positif Covid-19. Sebab saya tidak merasakan gejala apapun. Saya merasa sehat-sehat saja,” kenang wartawan berusia 28 tahun ini, saat diwawancara untuk berbagi kisah dan pengalamannya saat tertular Covid-19, Minggu (31/10/2020).

Baca juga: Sebelum Dianggap Manjur, Keamanan Vaksin Covid-19 Paling Utama Diuji

Namun, kata Riza, setelah temannya mengirim surat keterangan hasil Swab atas nama dirinya via pesan WhatsApp baru dia percaya. “Pada surat itu tertulis bahwa saya positif Covid-19 dengan CT 31,” ujarnya.

Setelah yakin, kemudian Riza melakukan isolasi mandiri di rumahnya. Sementara istrinya diungsikan ke rumah orangtuanya. “Kebetulan rumah saya di kelilingi kebun dan kolom atau tidak punya tetangga yang bersebelahan. Rumah saya memang cocok untuk isolasi,” katanya.

Kisah Wartawan Tertular Covid-19: Stres Saat Menjalani Karantina

Setelah satu malam tinggal di rumahnya, keesokan harinya Riza ditelepon oleh petugas Dinas Kesehatan Ciamis. Petugas itu meminta Riza agar bersiap berangkat ke Bandung untuk dilakukan karantina di Wisma BPSDM Cimahi Bandung.

Wisma milik Pemerintah Provinsi Jawa Barat itu khusus untuk menampung dan menangani pasien Covid 19 dengan kategori OTG atau Orang Tanpa Gejala.

“Sebelum dibawa ke Bandung, saya sempat diperiksa kesehatan di RSUD Ciamis. Saat berada di ruang pemeriksaan saya sudah pasrah. Sampai-sampai punya perasaan akan menghadapi kematian,” katanya.

Sesampainya di Bandung, Riza menempati sebuah kamar di Wisma BPSDM atau tempat karantina pasien Covid-19 khusus OTG. Di sana dia menjalani perawatan untuk penyembuhan Covid-19.

“Selama menjalani karantina saya lalui dengan ikhlas. Waktu itu lebih banyak istirahat. Karena selama proses penyembuhan aktivitasnya cuma pemeriksaan dokter, makan, minum obat dan vitamin, terapy, olahraga dan istirahat. Setiap hari begitu sudah terjadwal,” terangnya.

Saat menjalani hari-hari di tempat karantina Riza mengaku tidak mengalami gejala apapun. Dia merasa sehat dan tidak merasakan gejala umummya pasien Covid-19. Kondisi itu bertahan hingga dia dinyatakan negatif.

“Saya hanya stres saja menjalani karantina yang harus berdiam diri di dalam kamar. Selain itu saya memikirkan nasib ibu saya, istri dan teman-teman wartawan lain yang selama seminggu kontak erat dengan saya,” katanya.

Sementara itu, orang-orang yang selama seminggu terakhir kontak erat dengan Riza semuanya menjalani karantina dan kembali dilakukan test Swab. Di komunitas wartawan, sebanyak 20 orang harus menjalani karantina di Wisma Haji Islamic Center Ciamis.

Baca juga: Aplikasi Perubahan Perilaku 3M Pantau 3,8 Juta Titik Tangkal Corona

“Yang menjadi beban berat saya waktu itu takut menularkan kepada orang lain. Saya akan merasa bersalah jika ada keluarga atau teman tertular Covid-19 dari saya. Itu yang membuat saya stres dan terus menjadi pikiran selama menjalani karantina,” katanya.

Kisah Wartawan Tertular Covid-19: Pentingnya Imunitas Tubuh

Setelah memasuki 4 hari masa karantina, Riza mendapat kabar baik. 20 orang wartawan, keluarganya dan orang-orang yang kontak dengannya dari hasil tracking, ternyata hasil Swab-nya semua negatif. Dengan kata lain tidak ada satupun orang yang kontak erat dengan Riza dinyatakan tertular Covid-19.

“Setelah mendapat kabar itu saya sedikit lega. Terutama ketika mendengar hasil swab istri saya pun negatif. Padahal selama seminggu terakhir saya beberapa kali berhubungan suami-istri,” katanya.

Memasuki hari ke 6 karantina, kondisi kesehatan Riza sudah dianggap baik. Dia pun kemudian menjalani test Swab pertama pasca dinyatakan postif Covid-19. Ternyata hasil test Swab-nya menyatakan Riza sudah negatif. Namun dia harus kembali menjalani test kedua dalam 2 hari kedepan.

Tepatnya tanggal 15 Juni 2020, Riza menjalani test Swab kedua. Hasilnya sama negatif atau sudah dinyatakan sembuh dari Covid-19.

“Setelah test kedua negatif saya mulai lega dan seperti hidup lagi. Tanggal 16 Juni 2020 saya diperbolehkan pulang,” katanya.

Ambil Hikmahnya

Dari pengalamannya yang mengisahkan seorang wartawan tertular Covid-19 ini masih terdapat misteri yang belum terpecahkan. Seperti dirinya divonis positif Covid-19, tapi selama karantina tidak merasakan gejala apapun. Begitupun dari hasil tracking tidak ada satupun orang yang kontak dengannya positif Covid-19.

“Tapi saya tidak memiliki pikiran untuk mencari siapa orang yang telah menularkan Covid-19 kepada saya. Rasanya tidak penting. Lebih baik ambil hikmahnya saja. Musibah yang menimpa saya dijadikan pelajaran untuk introspeksi diri,” katanya.

Setelah 5 bulan sembuh dari Covid-19, Riza mengaku banyak perubahan yang lebih baik pada dirinya. Seperti tidak pernah lagi begadang, rajin berolahraga dan selalu taat mematuhi protokol kesehatan.

Baca juga: Menristek: Vaksin Covid-19 Buatan Indonesia Sangat Dibutuhkan

“Dokter bilang imunitas saya kuat sehingga tidak mengalami gejala apapun saat terpapar Covid-19. Hikmah yang bisa dipetik dari musibah saya adalah menjaga imunitas. Artinya, di masa pandemi seperti sekarang menjaga imunitas tubuh sangat diperlukan sekali,” katanya.

Riza berharap untuk kedepannya jangan ada lagi kisah wartawan tertular Covid-19. Wartawan yang dalam pekerjaannya banyak menemui orang memiliki resiko tinggi terpapar penyakit menular ini.

“Patuhi protokol kesehatan setiap melakukan liputan. Istirahat cukup dan konsumsi vitamin setiap hari untuk meningkatkan imunitas tubuh. Mau tidak mau wartawan yang selalu memberikan informasi kepada publik harus menjadi pionir perubahan perilaku protokol kesehatan 3M,” pungkasnya. (Bgj/R2/HR-Online)

Editor: Subagja Hamara