Lesung Berumur Ratusan Tahun Dirawat Budayawan Pangandaran

Lesung berumur ratusan tahun dirawat budayawan Pangandaran. Foto: Enceng/HR.
Lesung berumur ratusan tahun dirawat budayawan Pangandaran. Foto: Enceng/HR.

Berita Pangandaran (harapanrakyat.com),- Lesung berumur ratusan tahun dirawat dan diabadikan Anton Rahanto, seorang budayawan asal Kecamatan Langkaplancar, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat.

Lesung merupakan alat tradisional untuk menumbuk padi menjadi beras. Dulu alat ini digunakan oleh para petani. Alat penumbuk padi ini terbuat dari kayu. Bentuknya menyerupai perahu kecil dengan ukuran panjang sekitar 2 meter, dan lebar sekitar 50 centimeter.

Anton Rahanto, mengatakan, lesung dalam bahasa Sunda terkenal dengan sebuatan lisung yang merupakan alat tradisional mengolah padi menjadi beras.

Namun, seiring dengan kemajuan teknologi, tradisi petani menumbuk padi menggunakan lesung sudah tidak terlihat lagi. Kalaupun mungkin masih ada, tapi sangat sulit kita jumpai.

“Para leluhur kita selalu melakukan tradisi mengolah padi dengan cara tumbuk lesung. Hal itu menandakan sikap gotong-royong. Karena, dalam melakukan tradisi tumbuk lesung biasanya ramai-ramai, sesuai dengan ukuran lesung itu sendiri,” terang Anton, kepada HR Online, Sabtu (25/10/2020).

Baca Juga : Pemprov Bangun Pusat Kebudayaan di Karangpawitan Ciamis

Saat mengadakan tumbuk lesung, dulu para petani biasanya sambil kakawihan yang terkenal dengan sebutan seni Gondang. Seni Gondang sendiri mempergunakan alat lesung dan alu.

“Apabila melakukannya secara bersama-sama, maka akan mengeluaran suara yang terdengar enak,” ujarnya.

Untuk mengingatkan dan mengedukasi anak-anak saat ini, Anton berusaha mengoleksi beberapa lesung. Salah satunya lesung yang berusia sekitar 120 tahun.

Lesung berumur ratusan tahun itu ia dapatkan dari nenek Ijah, warga Dusun Bangunsari, Blok Banjaran, Desa Karangkamiri, Kecamatan Langkaplancar, Kabupaten Pangandaran.

“Ketika saya bawa, kondisi lesung ini kurang terawat dengan baik. Karena pemiliknya sudah tua dan tak bisa lagi merawatnya. Saya harap para budayawan atau para pegiat wisata bisa kembali menghidupkan lagi budaya ini melalui seni gondang,” pungkas Anton. (Cenk/R3/HR-Online)

Editor : Eva Latifah