Sejarah Barus dan Kemenyan, Harganya Setara dengan Emas

Sejarah Barus dan Kemenyan
Potret kontrolir Belanda di Barus bernama Dr. J Brandes, penemu prasasti Tamil yang menyebutkan Barus dan Kemenyan sebagai komoditas laris dipasaran Internasional. Foto: Ist/Net

Sejarah Barus dan Kemenyan mencatat dua komoditas ini pernah menjadi barang dagangan paling laku di pasar dunia. Bahkan harganya disebut-sebut hampir setara dengan emas. Para peneliti sejarah menemukan fakta menarik tentang hal ini.

Selain kopi dan teh, ternyata barus dan kemenyan mampu menjadi daya tarik orang barat datang ke Nusantara. Mereka ingin memperoleh suatu komoditas rempah-rempah yang paling laku dalam perdagangan dunia.

Hal yang paling menarik lainnya adalah, kemenyan dan kapur barus ternyata berawal dari daerah Sumatera. Akan tetapi banyak orang yang belum mengenal sejarah barus dan kemenyan di Sumatera telah berlangsung ribuan tahun lamanya.

Sejarah Barus dan Kemenyan Jadi Komoditas Paling Laris di Pasaran Dunia

Ichwan Azhari dalam jurnal sejarah berjudul “Politik Historiografi Sejarah Lokal: Kisah Kemenyan dan Kapur dari Barus, Sumatera Utara” (Jurnal Sejarah dan Budaya, tahun kesebelas, Nomor 1 Juni 2017: 10), mengungkapkan, di antara banyaknya jenis komoditas internasional, terdapat dua jenis komoditas hasil hutan khas Nusantara yang memiliki daya pikat tinggi.

Baca Juga: Sejarah Kesultanan Cirebon, Kerajaan Tersohor di Bumi Nusantara

Selain itu, dua komoditas ini tercatat sebagai barang dagangan yang sangat dicari. Sejarah mencatat,  harga dari komoditas ini hampir setara dengan emas.

Komoditas tersebut adalah kapur barus dan kemenyan. Kedua tanaman ini tumbuh di hutan-hutan Sumatera, terutama di bagian utara.

Keberadaan kapur barus (kamper) di kawasan ini membuat salah satu Bandar dagang paling penting di kawasan Pantai Barat Sumatera diberi nama Barus.

Hal ini diperkuat oleh pendapat Claudius Ptolemaeus pada abad ke-2 M, dalam bukunya yang berjudul Geographyke Hyphegeiss yang menyebut Barus sebagai Barousai.

Adapun kegunaan kapur barus dan kemenyan yang biasa dilakukan oleh orang-orang adalah diolah menjadi bahan kosmetik, pengobatan, dan minyak wewangian.

Baca Juga: Sejarah Boven Digoel, Kamp Tahanan Paling Seram Zaman Belanda

Selain pendapat Claudius, asal-usul kapur barus dan kemenyan menjadi komoditas berharga nampak pada prasasti Tamil yang ditemukan di Desa Lobu Tua, Kec, Andam Dewi, pada tahun 1873 oleh kontrolir Belanda di Barus bernama Dr. J Brandes.

Berdasarkan analisisi epigraf yang dilakukan oleh Y. Subralayu disebutkan bahwa prasasti itu adalah prasasti perkumpulan pedagang Tamil yang bermukim di Lobu Tua.

Infrastruktur Laut di Sumatera Dibangun dari hasil Dagang Kapur Barus dan Kemenyan

Menurut catatan sumber yang sama (Ichwan Azhari, 2017: 11), menyebutkan bahwa keberadaan kapur barus dan kemenyan sebagai salah satu komoditi dagang cukup berpengaruh terhadap eksistensi dan berkembanganya bandar-bandar pelabuhan yang ada di Pulau Sumatera.

Di Barus misalnya, perdagangan kapur barus dan kemenyan menjadi salah satu indikator maju dan mundurnya pelabuhan di kawasan tersebut. Sumber-sumber tertulis asing juga sering kali menginformasikan mengenai perdagangan kapur barus dan kemenyan yang banyak diambil dari hutan-hutan Sumatera.

Adapun  catatan asing, mengungkapkan bahwa lokasi sumber kapur barus yang paling sering disebut dilihat adalah di suatu wilayah bernama Fansur. Akan tetapi terdapat perbedaan pendapat dari beberapa ahli sejarah mengenai di mana lokasi bernama Fansur itu saat ini.

E. Edward Mc Kinon berpendapat bahwa Fansur terletak di ujung barat Aceh dengan nama Teluk Pancu. Hipotesis itu pun diperkuat dengan pertimbangan letak geografis berikut berbagai sumber kuno yang ditemukan.

Perdagangan Kapur Barus dan Kemenyan Saat Ini

Meskipun kejayaan perdagangan kapur barus dan kemenyan di Sumatera sudah lama berlalu, akan tetapi hingga dewasa kini kapur barus dan kemenyan masih diperjual belikan di Sumatera.

Saat ini pohon kapur barus masih dapat ditemukan antara lain di hutan-hutan di Kabupaten Tapanuli Tengah, Kabupaten Humbang Hasundutan dan Kabupaten Aceh Singkil.

Sementara status keberadaan pohon kapur barus di habitat alaminya sekarang berada dalam kondisi yang kritis karena telah langka dan cukup sulit untuk ditemukan.

Saat ini beberapa petani dari Kecamatan Sirondorung dan Kecamatan Manduamas sudah melakukan upaya pembudidayaan bibit kapur barus dalam skala kecil dan dengan cara yang sederhana.

Adapun dalam perihal perdagangan, para petani Barus di sana sering kali menjual bibit-bibit barus berusia dua tahun. Bibit tersebut dijual kepada para petani yang membutuhkan. Para petani tersebut kemudian menanamnya di kebun yang telah disiapkan.

Akan tetapi banyak pula dijumpai masyarakat umum yang berminat dan memesan bibit Barus ini untuk berbagai kepentingan.

Mengutip Ichwan Azhari, (2017: 20), dari informasi yang didapatkan dari petani pembudidaya pohon kapur Barus di Kecamatan di Kecamatan Manduamas, menyebutkan bahwa biasanya hanya dua puluh persen dari jumlah bibit kapur barus yang disemai yang akan berhasil hidup hingga dewasa.

Begitulah sejarah panjang kapur barus dan kemenyan sebagai komoditas laris di pasaran dunia. Bahkan saat itu saking pentingnya barus dan kemenyan, dua komoditas ini disamakan dengan emas. (Erik/R7/HR-Online)

Editor: Ndu