Kamis, Juni 30, 2022
BerandaBerita TerbaruSejarah Kerajaan Sunda Galuh, Prasasti Kebon Kopi II 932 sebagai Petunjuk

Sejarah Kerajaan Sunda Galuh, Prasasti Kebon Kopi II 932 sebagai Petunjuk

Sejarah Kerajaan Sunda Galuh, ternyata menarik untuk dibahas. Menurut beberapa ahli sejarah, perjalanan kerajaan Sunda Galuh dapat terlacak dari prasasti Kebon Kopi II.

Menariknya kerajaan Sunda Galuh disebut-sebut sebagai kerajaan yang menggantikan hancurnya kerajaan Tarumanegara, penasaran kan.

Prasasti Kebon Kopi II berangka tahun 932 yang menggunakan bahasa Melayu kuno menyebutkan, “Seorang Raja Sunda menduduki takhtanya kembali”.

Apa yang tertulis pada prasasti tersebut diinterpretasikan bahwa Raja Sunda telah ada sebelumnya. Artinya sebelum Tarusbawa menjabat sebagai raja, kerajaan Sunda sudah ada. Namun waktu itu masih menjadi bawahan Tarumanegara.

Apa yang diungkapkan di dalam Prasasti Kebon Kopi II dikukuhkan kebenarannya oleh naskah Wangsakerta.

Naskah tersebut menyatakan bahwa Sunda merupakan kerajaan yang berdiri menggantikan Tarumanegara.

Kerajaan yang didirikan oleh Tarusbawa tahun 591 Saka (669 Masehi) tersebut memiliki wilayah yang kini menjadi wilayah Provinsi Banten, Jakarta, Provinsi Jawa Barat, dan bagian Barat Provinsi Jawa Tengah. Berikut akan dijelaskan sejarah Kerajaan Sunda dibawah ini.

Sejarah Kerajaan Sunda Galuh, Terbentuk dari Pecahan Kerajaan Tarumanegara

Menurut Bayu Kresna Adji dalam bukunya yang berjudul “Sejarah Runtuhnya Kerajaan-kerajaan di Nusantara” (2014: 119) menyebut bahwa Kerajaan Sunda Galuh merupakan penyatuan dari 2 kerajaan pecahan Tarumanegara di Tanah Sunda yang didirikan oleh Sanjaya pada tahun 723 masehi.

Namun oleh para ahli sejarah, gabungan dari 2 kerajaan tersebut hanya dikenal dengan nama kerajaan Sunda.

Penyebutan kerajaan Sunda- Galuh menjadi kerajaan Sunda tersebut bersumber dari catatan perjalanan pertama Prabu Jaya Pakuan (Bujangga Manik) yang mengelilingi Pulau Jawa, dan catatan perjalanan Tome Pires pada tahun 1513, serta prasasti di Bogor dan Sukabumi.

Sumber-sumber tersebut menyatakan bahwa kerajaan Sunda Galuh yang bermula dari pemerintahan Sanjaya hingga Prabu Detya Maharaja Sri Jayabupati, lebih dikenal dengan nama Kerajaan Sunda.

Terdapat 20 raja yang berkuasa secara berurutan di Kerajaan Sunda sejak pemerintahan Sanjaya hingga Sri Jayabupati.

Adapun sebagian nama raja-raja dan masa pemerintahannya adalah sebagai berikut, Sanjaya (723-732), Tamperan Barmawijaya (732-739), Rakryan Banga (739-766), Rakryan Medang Prabu Hulukujang (766-783), Prabu Gilingwesi (783-795), Pucukbumi Darmeswara (795-819), Prabu Gajah Kulon Rakryan Wuwus (819-891), dan seterusnya.

Baca Juga: Sejarah Kesultanan Cirebon, Kerajaan Tersohor di Bumi Nusantara

Legenda Ciung Wanara

Kresna Bayu Adji (2014: 122) mengungkapkan bahwa legenda Ciung Wanara, berasal dari sejarah kerajaan Sunda Galuh.

Peristiwa ini berawal dari kisah skandal antara Tamperan (Raja pengganti Sanjaya dalam kerajaan Sunda) dan Pangrenyep hingga melahirkan Kamarasa (Banga).

Perselingkuhan itu disebabkan Tamperan dan Pangrenyep sama-sama menderita batin. Karena sebagai orang Sunda di Galuh, mereka kurang disenangi.

Adapun menurut sejarahnya, Tamperan menjadi penguasa Sunda- Galuh untuk melanjutkan kedudukan Sanjaya dari tahun 732 hingga 739.

Sementara secara diam-diam, Manarah (Ciung Wanara) yang mendapatkan dukungan ki Balangantrang dari Geger Sunten mempersiapkan rencana untuk merebut tahta Galuh.

Pada siang hari bertepatan pesta sabung ayam, pasukan Manarah menyerbu Galuh. Kudeta Manarah meuai hasil.

Dalam waktu singkat, Galuh dapat dikuasai oleh Manarah atau si Ciung Wanara. Sementara Tamperan, Pangrenyep, dan Banga ditawan digelanggang sabung ayam.

Banga yang dibiarkan bebas oleh Manarah, membebaskan Tamperan dan Pangrenyep dari tahanan.

Namun naas, Tamperan dan Pangrenyep yang melarikan diri pada malam hari tewas dihujani anak panah dari pasukan Geger Sunten.

Berita kematian Tamperan terdengar oleh Sanjaya yang waktu itu tengah memerintah di Mataram Kuno (Jawa Tengah). Karenanya, Sanjaya segera mengerahkan pasukannya untuk menyerang Galuh yang saat itu sedang dipimpin oleh Ciung Wanara.

Manarah (Ciung Wanara) yang mendapatkan dukungan dari sisa-sisa pasukan dari Mataram Kuno.

Dengan mendapatkan dukungan dari pasukan Indraprahasta dan raja-raja Kuningan, Pasukan Galuh yang dipimpin Ciung Wanara menyerang Mataram Kuno.

Baca Juga: Sejarah Boven Digoel, Kamp Tahanan Paling Seram Zaman Belanda

Runtuhnya Kerajaan Sunda Galuh

Menurut Kresna Bayu Adji (2014: 127), mengungkapkan bahwa runtuhnya kerajaan Sunda Galuh, salah satunya disebabkan oleh pecahnya hubungan keluarga.

Peristiwa ini berawal dari ketika Wastu Kancana meninggal. Hal ini menyebabkan Kerajaan Sunda Galuh kembali terpecah menjadi dua wilayah.

Wilayah Pakuan yang dipimpin oleh Susuktunggal, dan wilayah Kawali yang dikuasai oleh Dewa Niskala.

Akan tetapi pada perkembangannya yang tak terduga, Sri Baduga Maharaja yakni anak dari Dewa Niskala dan yang juga menantu Susuktunggal mempersatukan lagi kerajaan Galuh dan kerajaan Sunda.

Sesudah runtuhnya kerajaan Sunda Galuh oleh Maulana Hasanuddin (putra Sunan Gunungjati) dari Kesultanan Banten, bekas kerajaan itu disebut oleh banyak sejarawan sebagai kerajaan Pajajaran.

Begitulah catatan sejarah tentang kerajaan Sunda Galuh yang pernah ada, sebagaimana biasa tulisan ini dapat dijadikan pengetahuan baru untuk memahami sejarah- sejarah kerajaan di Indonesia. Semoga bermanfaat. (Erik/R8/HR Online)

Editor: Jujang

- Advertisment -