Sejarah Konferensi Asia Afrika, Peran Soekarno Menentang Perang Dingin

Sejarah Konferensi Asia Afrika, Peran Soekarno Menentang Perang Dingin
Potret Soekarno sedang mengisi Podium di dalam suasana Konferensi Asia Afrika 1955. Foto: Istimewa

Dalam sejarah Konferensi Asia Afrika (KAA) ternyata ada fakta-fakta yang menarik untuk dibahas. Salah satunya adalah peran Presiden Soekarno yang menentang perang dingin. Awal perlawanan Soekarno berawal dari peristiwa yang mengkhawatirkan.

Suasana keamanan dunia pasca perang dunia II belum normal. tapi muncul perang dingin antara dua blok berseberangan yakni Blok Barat (Amerika Serikat) dan Blok Timur (Uni Soviet). Kedua kekuatan besar yang saling berkecamuk, baik secara kepentingan dan juga ideologis. Mereka saling berlomba membangun senjata modern sehingga situasi dunia , sampai ada kecemasan rencana perang nuklir.

Kondisi ini mendorong Soekarno untuk menggelar Konferensi Asia Afrika. Tujuannya guna menggalang persatuan serta mencari jalan keluar untuk meredakan ketegangan dunia serta menjaga perdamaian.

Lahirnya Konferensi Asia Afrika dari Politik Luar Negeri Indonesia

Arifin Suryo Nugroho pada jurnal sejarah berjudul “Soekarno dan Diplomasi Indonesia” (Jurnal Sejarah dan Budaya, Tahun Kesepuluh, Nomor 2 Desember 2016: 125), proklamasi telah membawa bangsa ini menuju suatu era yang baru, yang mana Indonesia resmi menjadi sebuah negara.

Indonesia membutuhkan pengakuan dari negara lain. Negara Indonesia sudah berdiri dan siap untuk menjadi anggota dari komunitas internasional. Pasca kemerdekaan Indonesia dan berakhirnya Perang Dunia II politik dunia terbagi menjadi kekuatan besar, antara Blok Barat Amerika Serikat (Liberal), dan Blok Timur Uni Sovyet (Komunis).

Baca Juga: Sejarah Pendidikan Indonesia Berawal dari Masa Portugis

Banyak negara ikut terpengaruh kontelasi tersebut. Mereka berlomba menjadi aliansi salah satu blok. Tapi, Indonesia tidak ikut berlomba seperti negara lain sampai tercetus ‘Gerakan Non-Blok’.  Kemudian gerakan ini berkembang untuk menyatukan negara asia dan afrika. Sampai akhirnya terselenggara Konferensi Asia Afrika.

Legge, J.D dalam bukunya “Sukarno Sebuah Biografi Politik” (1972: 255-276), menjelaskan mengapa Indonesia tidak berada pada dua blok besar saat perang dingin. Itu karena Indonesia lahir dari kepribadian politik yang seimbang. Sehingga menjadi alasan Indonesia tidak memihak kepada blok manapun.

Perjuangan Soekarno mengagas Konferensi Asia Afrika Berhasil

Nugroho A.S dalam bukunya “Fatmawati Soekarno: The First Lady” (2010: 145-148) menerangkan pada Januari 1950, Presiden Soekarno melakukan kunjungan internasional pertamanya ke India, Pakistan, dan Birma.

India mempunyai hubungan sejarah yang panjang dengan Indonesia. Selain itu juga salah satu negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia. Dalam kunjungan itu, Soekarno menjalin komunikasi intensi dengan Presiden India, Rajendra Prasad dan Perdana Menteri India yaitu Jawaharlal Nehru.

Soekarno dan Nehru  berhubungan dan bersahabat baik. Hal ini terlihat dalam berabagai peristiwa termasuk pada Kongres Asia Afrika nanti.

Dalam kunjungannya ke berbagai negara Asia seperti India, Soekarno mengajak negara-negara Asia untuk bertindak tegas dalam menanggapi berbagai permasalahan Internasional yang banyak berdampak terhadap negara dan bangsa.

Pada akhir kunjungan, Soekarno mendapat reaksi yang menggembirakan. Para pemimpin Asia menyambut hangat Soekarno yang mendiskusikan berbagai rencana mengenai suatu masyarakat baru. Negara-negara  yang bebas dan baru merdeka untuk mendirikan Konferensi Asia Afrika pada tahun 1955 di Bandung, Jawa Barat.

Konferensi Asia Afrika Ciptakan Solidaritas Kuat bagi Negara Asia dan Afrika

KAA menghasilkan pengaruh solidaritas dan perjuangan kemerdekaan bangsa Asia dan Afrika.  Konferensi ini menjadi dasar dalam membina solidaritas bangsa-bangsa. Semua bangsa harus hidup berdampingan dengan damai. Selain itu, KAA pun mampu mendorong perjuangan kemerdekaan negara lainnya terutama Asia dan Afrika.

Konferensi  Asia Afrika ini juga berdampak penting dalam perkembangan dunia saat itu. Negara-negara besar seperti Australia dan Amerika Serikat mulai berusaha menghapuskan diskriminasi ras pada negaranya. KAA juga mampu menjadi mediator dua blok yang tengah berkonflik. (Erik/R9/HR-Online)

Editor: Dadang