Sejarah Kyai di Banten, Meneladani Sifat Gigih dari Figur K.H Sjam’un

Sejarah Kyai di Banten, Meneladani Sifat Gigih dari Figur K.H Sjam’un
Sejarah Kyai di Banten, Meneladani Sifat Gigih dari Figur K.H Sjam’un. Foto:Ist/Net

Sejarah Kyai di Banten menarik untuk dibahas. Pada kesempatan kali ini, figur K.H Sjam’un yang akan dibahas sebagai salah satu Kyai di Banten yang memiliki kisah perjalanan panjang dalam catatan sejarah di Indonesia.

Para pembaca tentu belum banyak mengenal, bagaimana sejarah para Kyai di Banten bukan? demikian akan dibahas secara lebih lanjut dibawah ini.

Biografi K.H Sjam’un, Berasal dari Keluarga Ulama Terkenal di Banten

Menurut Rahayu Permana dalam jurnal sejarah berjudul “Nilai Gigih dalam Biografi K.H Sjam’un (1883-1949)” (Historia, Jurnal Pendidik dan Peneliti Sejarah, Vol. I, No. 1 Oktober 2017: 28), mengatakan bahwa, K.H Sjam’un dilahirkan pada tanggal 15 April tahun 1883 di kampung Beji desa Bojonegara kecamatan Cilegon, Kabupaten Serang Karesidenan Banten.

K.H Sjam’un merupakan keturunan kyai Banten, yaitu dari perkawinan H.Alwijan dan Hj. Siti Hadjar ia adalah anak tunggal. Ibunya, Siti Hadjar adalah putri K.H Wasjid, ia mempunyai saudara kandung yang bernama Yasin.

Sementara menurut Sartono Kartodirjo, dalam disertasinya yang berjudul “Pemberontakan Petani Banten” (1984: 269), menyebut kakek K.H Sjam’un yang bernama K.H Wasjid, adalah salah satu tokoh terkenal dalam peristiwa Geger Cilegon tahun 1888.

Pada masa kejayaan Hindia Belanda, keluarga keturunan K.H Wasjid kerap mendapat pengawasan dari Belanda, karena takut keturunan K.H Wasjid akan membalaskan dendam.

Untuk menghindari kejaran Belanda keluarga Siti Hadjar pada tahun 1888 pergi ke Mekkah dan menetap disana. Adapun anaknya yaitu K.H Sjam’un ketika dibawa ke Mekkah baru berusia lima tahun.

Baca Juga: Kisah Kyai Banteng Loreng di Kota Banjar

Riwayat Pendidikan K.H Sjam’un, Pernah Belajar di Mekkah

Ketika K.H Sjamun tumbuh remaja, beliau mengawali pendidikan sama halnya dengan yang dialami oleh kebanyakan santri muslim seusiannya.

Pada tahun 1901-1904 belajar pengetahuan agama di Pesantren Dalingseng dan Kamasan. Kemudian pada tahun 1905, K.H Sjam’un berangkat ke Mekkah untuk mendalami lebih jauh tentang ilmu-ilmu keislaman.

Selama tahun 1905-1910, K.H Sjam’un berada di Mekkah, berguru dan belajar di Mekkah.

Menurut Muhyidin Mansyur dalam bukunya berjudul “Karya Seorang Prajurit Asal Banten (K.H Sjam’un)” (1990: 25) mengatakan bahwa, ketika di Mesir, K.H Sjam’un banyak berguru dan mmpelajari Ilmu Fiqih.

Pasca tamat dari studinya di Mesir, awal tahun 1916, K.H Sjam’un kembali ke Mekkah untuk tinggal di sana.

Lalu ia mengamalkan ilmu agama yang ia dapat hingga tahun 1916.

Selama menjadi guru agama di Mekkah, K.H Sjam’un ia begitu serius mengajari para muridnya dengan dukungan kecerdasaan dan penguasaan terhadap ilmu Fiqih.

Ia diakui dan disegani di Mekkah, sehingga orang-orang dari negeri lain berdatangan padanya, terutama dari Indonesia, seperti Jawa dan Banten.

Untuk mengakhiri kehidupannya di Mekkah, beliau pun menikah dengan perempuan yang sangat Islami bernama Hasun Binti Sam’un pada tahun 1919, namun tidak dikaruniai keturunan.

Lantas pada tahun 1920 menikah lagi dengan Adawiyah binti Rasdam.

Beliau dikaruniai dua orang putera, yakni Rahmatoellah Sjam’un, dan Atoellah Sjam’un.

Adapun pada tahun 1936 beliau menikah lagi dengan Fauziah binti Abdul Fatah yang dikaruniai putra bernama Fatullah Sjam’un.

Pada tahun 1940 menikah dengan Mahdiyah binti Yasin yang dikaruniai dua orang putera.

Yakni bernama Abdul Qosid Sjam’un, dan Abdoel Karim Sjam’un.

Baca Juga: Para Kiai di Balik Pemberontakan Petani Banten Tahun 1888

Meneladani Sikap Gigih K.H Sjam’un, Belajar sabar dari Perilaku Sang Kyai

Prilaku gigih dan sabar merupakan salah satu sikap K.H Sjam’un yang paling tersohor didalam berbagai catatan peninggalan sejarah kyai di Banten.

Sebagaimana Muhyidin (1990: 36), mengatakan bahwa K.H Sjam’un selalu membiasakan diri menghadapi masalah, bukan menghindar atau lari dari masalah.

Kualitas mental yang matang dari K.H Sjam’un terbangun dari fondasi yang kuat. beliau percaya bahwa, orang sukses bukan tidak pernah gagal, melainkan mereka tidak pernah menyerah.

Sudah pasti sikap tersebut memerlukan mentalitas yang gigih. Kegigihan K.H Sjam’un adalah salah satu unsur kehidupan yang sangat penting .

Begitulah sepenggal sejarah Kyai di Banten, yaitu K.H Sjam’un yang patut diteladani.

Adapun artikel ini mengajak para pembaca supaya lebih memahami sejarah Islam, terutama kisah perjalan hidup para Ulama di Indonesia. Semoga bermanfaat. (Erik/R8/HR Online)

Editor: Jujang