Selasa, Agustus 9, 2022
BerandaBerita TasikmalayaDiduga Keracunan Sarden Bansos, Warga Tasikmalaya Muntah-muntah

Diduga Keracunan Sarden Bansos, Warga Tasikmalaya Muntah-muntah

Berita Tasikmalaya (harapanrakyat.com),- Diduga keracunan sarden dari bantuan sosial (bansos), seorang warga Kampung Nanggela, RT. 04/06, Keluarahan Cigantang, Kecamatan Mangkubumi, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, mengalami muntah-muntah.

Warga bernama Zelda (33), mengalami muntah-muntah dan mencret saat buang air besar setelah mengonsumsi sarden kemasan kaleng merek Brilian dari bansos provinsi.

“Saya merasakan mual setelah makan sarden itu. Sekarang juga masih merasakan mual dan lesu,” ungkap Zelda, kepada HR Online, di rumahnya, Sabtu (14/11/2020) malam.

Sebelum makan sarden, lanjut Zelda, ia tidak merasakan apa-apa. Tapi sesudah mengonsumsi sarden tersebut, selang satu jam ia merasakan mual, muntah, dan buang air besar.

“Saya dapat sarden itu dari tetangga yang mendapatkan bansos provinsi. Kalau saya sendiri tidak kebagian bansos,” ungkap Zelda.

Baca Juga : Sempat Keracunan Makanan, 196 Warga Tasikmalaya Dinyatakan Sembuh

Ketua RW setempat, Budi, membenarkan bahwa warganya tersebut tidak mendapatkan bansos. Namun, tetangganya ada yang memberikan bansos berupa sarden kemasan kaleng kepada Zelda.

“Sardennya tidak kadaluwarsa, cuma warnanya saja pucat, beda dari sarden-sarden pada umumnya. Atas kejadian ini, saya mengimbau kepada masyarakat, kalau masih punya sarden dari bantuan provinsi jangan dulu memakannya. Ini untuk jaga-jaga terjadi hal serupa,” kata Budi.

Sementara itu, petugas kesehatan Puskesmas Mangkubumi, Dewi, menjelaskan, setelah melakukan pemeriksaan, kondisi pasien tersebut stabil. Kalaupun misalkan keracunan, pasien tersebut akan mengalami muntah terus-menerus.

“Jika melihat kondisinya secara umum bagus, BAB mencret baru dua kali. Jadi intinya tidak dehidrasi. Namun, untuk mengantisipasi terjadi keracunan, warga yang sama-sama memiliki sareden dari bansos sebaiknya jangan dulu mengonsumsinya. Kita akan bawa sarden ini untuk sempel ke laboratorium Bandung,” pungkas Dewi. (Apip/R3/HR-Online)

Editor : Eva Latifah