Sejarah Tionghoa di Indonesia, Awal Mula Sikap Anti Cina

Sejarah Tionghoa di Indonesia
Potret pasukan Jawa dan Cina yang sedang berperang, Ilustrasi sikap anti Cina di Masa Kolonial. Foto: Ist/Net

Sikap anti Cina ternyata sudah terjadi bertahun-tahun, bahkan sejak zaman kolonial. Hal ini berkaitan erat dengan sejarah Tionghoa di Indonesia. Sekitar tahun 1812, pernah terjadi suatu peristiwa kelam yang menimpa etnis Tionghoa di Yogyakarta.

Peristiwa tersebut merupakan sebuah hal yang tak pernah terlupakan dalam tinta hitam catatan sejarah Indonesia. Lantas, peristiwa apa yang sebenarnya terjadi?

Beberapa ahli sejarah, menyebut bahwa peristiwa kelam itu adalah “sikap anti Cina” yang dilakukan oleh masyarakat Jawa. Hal ini terjadi karena beragam penyebab yang belum pasti.

Berbagai analisis terhadap penyebab sikap anti Cina di Jawa telah dilakukan oleh para ahli, dan menghasilkan beragam hipotesis dan jawaban.

Baca Juga: Sejarah Kuliner di Indonesia, Benarkah Terpengaruh Budaya Eropa?

Para ahli menganalisis penyebab sikap anti Cina itu berawal dari terjadinya eksploitasi  sumber ekonomi yang pernah dilakukan oleh orang Cina pada masa itu.

Namun ahli lain menyebut bahwa konflik ini disebabkan oleh penghianatan orang Cina terhadap pribumi Jawa dalam menentukan pakjak, dan yang paling akhir yaitu disebabkan oleh politik settingan kolonial Inggris.

Sejarah Tionghoa di Indonesia, Presepsi Anti Cina di Jawa (1812)

Arip Permana Putra pernah membahas peristiwa tahun 1812 dalam jurnal sejarah berjudul “Perubahan Persepsi Masyarakat Jawa terhadap Masyarakat Cina tahun 1812” (Jurnal Sejarah dan Budaya, Tahun Kesembilan, Nomor 1 Juni 2015: 4).

Ia mengungkapkan bahwa persepsi “anti Cina” di Jawa pada tahun 1812 berawal dari konflik Gerbang Tol.

Sementara Peter Carey dalam bukunya yang berjudul “Orang Jawa dan Masyarakat Cina (1755- 1825)” (1985: 49) menyebut bahwaPeristiwa ini bermula dari periode pemerintahan bangsa Inggris di Pulau Jawa. Saat itu terjadi pertikaian antara masyarakat Cina dengan masyarakat Jawa yang terjadi di Yogyakarta.

Bulan Juni 1812 di Yogyakarta telah terjadi penghancuran Gerbang Tol dan rumah masyarakat Cina oleh masyarakat Jawa. Penghancuran Gerbang Tol dapat dipandang sebagai suatu usaha untuk merintangi penarikan pajak serta menghadapi tekanan dari tentara inggris.

Sejarah Tionghoa di Indonesia juga mencatat penghancuran rumah masyarakat Cina oleh orang-orang Jawa saat itu. Hal ini disebabkan oleh peran orang Cina bernama Tan Ji Sing yang saat itu memihak Inggris.

Baca Juga: Sejarah Perkawinan di Jawa dan Kisah Menarik Pada Masa Kolonial

Tan Ji Sing memihak Inggris dengan tujuan membuka dan menyewakan kembali tol dan pasar yang pernah dihancurkan karena bertentangan dengan penarikan pajak yang berlebihan.

Pengangkatan Tan Ji Menjadi Bupati, Mempertajam Konflik orang Cina dengan Masyarakat Jawa

Arip Permana Putra (2015: 4), menyebut Tan Ji Sing sebagai orang kepercayaan Inggris, pernah berperan penting dalam penyerangan Kraton pada tanggal 19-20 Juni 1812. Hal ini dilakukan untuk menjamin keperluan pasukan Inggris dan India.

Sejarah Tionghoa di Indonesia juga mencatat, begitu Keraton jatuh ke tangan pasukan Inggris serta Putera Mahkota (yang kelak menjadi Sultan Hamengkubuwono III) di bawah pengawasan pihak Inggris.

Tan Ji Sing juga memberikan perlindungan kepada para pengawal pribadi Putera Mahkota. Ji Sing juga diangkat menjadi Bupati dengan gelar Raden Tumenggung Secadiningrat oleh Sultan Hamengkubuwono III.

Pengangkatan Tan Ji Sing sebagai Bupati, dilakukan oleh Hamengkubuwono III untuk membalas budi. Tan Ji Sing merupakan utusan dalam perundingan dengan orang Inggris. Hal ini rupanya memberikan jaminan kepada Sultan Hamengkubuwono III untuk dapat naik tahta kerajaan. Selain itu juga larena adanya tekanan dari orang-orang Inggris.

Tan Ji Sing juga menyepakati perjanjian dengan militer Inggris. Tan Ji Sing mewakili keraton setuju dengan pengambilalihan semua gerbang tol dan pasar. Nantinya, gerbang tol dan pasar itu kemudian disewakan kepada orang-orang Cina. Hal ini tentu saja membuat masyarakat Jawa tidak nyaman.

Mereka menganggap, dengan dibukanya kembali gerbang tol dan pasar yang disewa oleh orang Cina, telah terjadi pengekploitasian sistem pajak yang memberatkan bagi pribumi.

Gerbang Tol pada masa Kolonial, Pemicu Konflik Masyarakat Jawa dan Cina

Menurut Peter Carey (1985: 72) dalam catatan sejarah Tionghoa di Indonesia, sistem gerbang-gerbang tol yang terdapat di negara Mataram (Jawa) pada awalnya didirikan sebagai tempat pemberhentian dalam perjalanan perekonomian ke pusat kerajaan. Dalam pemberhentian Gerbang Tol dikenakan pajak “bea cukai”.

Teorinya pedagang Cina dan pedagang Jawa sama-sama membayar bea cukai atas penggunaan Gerbang Tol. Akan tetapi, dalam pelaksanaannya Gerbang Tol lebih dikuasai dan menguntungkan bagi pedagang Cina.

Penguasaan Gerbang Tol oleh Cina tentu saja merugikan petani Jawa. Hal ini karena tidak ada ketentuan yang tetap mengenai pajak yang harus dibayar oleh para petani Jawa ini.

Lantas hal lain yang lebih membuat marah dan anti orang Cina bagi orang Jawa yaitu disebabkan juga oleh sikap dan prilaku orang Cina penjaga Gerbang Tol yang kaku dan dan keras. Terutama kepada para pedagang pribumi yang singgah di sana.

Itulah sepenggal sejarah Tionghoa di Indonesia terkait asal dari sikap anti Cina yang ternyata sudah sejak zaman kolonial Belanda. (Erik/R7/HR-Online)

Editor: Ndu