Sejarah Tionghoa di Indonesia, Gemar Beramal Sampai Ketagihan Berjudi

Tionghoa di Indonesia
Potret dua orang Tionghoa di Batavia, ketika menghisap candu atau opium. Foto: Istimewa

Sejarah Tionghoa di Indonesia ternyata dulunya mereka gemar berderma atau kegiatan amal seperti pemberian kepada fakir miskin. Mereka biasanya banyak berderma untuk penguatan institusi, organisasi, perkumpulan, ataupun suatu kegiatan sosial.

Namun dari semua itu, banyak yang menyandikan orang Tionghoa dengan perilaku menyimpang, seperti Madat, pemasok opium dan ketagihan judi. Untuk mengetahui sejarah Tionghoa di Indonesia dari dua pandangan yang seimbang.

Wildan Sena Utama dalam jurnal sejarah berjudul “Kehidupan Sosial Budaya Tionghoa di Batavia 1900-an-1930-an” mengatakan kedatangan orang Tionghoa ke Nusantara sudah lama. Bahkan mendahului orang-orang Belanda. Groeneveltdt dalam jurnal Wildan (2012: 20), menyebut sudah sejak tahun 400-an orang Tionghoa telah menginjak bumi Nusantara.

Orang Tionghoa yang migrasi ke Asia Tenggara kebanyakan berasal dari Kwangtung dan Fukien. Orang yang berasal dari Fukien berlogat Hokkien. Sedangkan yang dari Kwangtung, disebut Hakka, biasanya berasal dari Kanton, Hoklo dari Swatow, Haifoeng dari pulau Hainan.

Mona Lohanda dalam bukunya yang berjudul “Sejarah Para Pembesar Mengatur Batavia” (2007: 42-43), menuturkan umur rata-rata orang Tionghoa ketika bermigrasi antara 20-45 tahun. Menurut Wang Gungwu, sejarah Tionghoa di Indonesia ada dua pola imigrasi, yaitu Huashang dan Huagong.

Huashang adalah pola migrasi mengikuti perdagangan maritim, sementara Huagong adalah migrasi karena kebijakan pemerintah kolonia yang sedang membutuhkan banyak tenaga untuk pembangunan emporium wilayah timur.

Pola kedatangan mereka bervariasi. Biasanya jika yang datang ke Jawa migrasinya perorangan atau dalam jumlah kecil, sementara yang datang ke Sumatera mereka dalam komunitas laiaknya tradisi Bedol Desa.

Akhirnya pada abad kedua puluh sekitar 14-15 juta orang Tionghoa sudah ke luar China, sekitar 6 juta orang Asia Tenggara. Sedangkan Jawa paling banyak orang Tionghoa terkonsentrasi pada daerah Batavia. Sisanya berada pada daerah Semarang dan Pantai Pesisir Utara Jawa (Pantura).

Sejarah Orang Tionghoa di Indonesia, Pola Hidup Positif dengan Berderma

Salah satu kebiasaan yang jadi sorotan mengenai kehidupan orang Tionghoa dari kehidupan religiusnya. Tapi sedikit sejarawan yang melihat kebiasaan lain yang cukup menarik ini. Salah satunya menyisihkan sebagian penghasilan untuk membantu atau beramal.

Menurut Wildan (2012: 26), terdapat dua jenis kegiatan berderma  masyarakat Tionghoa ini, antara lain (1) berderma untuk institusi, organisasi, perkumpulan atau kegiatan, dan (2) berderma  untuk kegiatan sosial.

Dari kegiatan beramal yang rajin ini menimbulkan dampak yang positif terhadap keberlanjutan dan keberlangsungan, sebuah perkumpulan Tionghoa pada awal abad kedua puluh. Salah satunya seperti, terbangunnya jaringan antar masyarakat peranakan untuk sama-sama membangun sebuah organisasi perkumpulan. Demi mewujudkan kehidupan masyarakat Tionghoa yang lebih baik.

Sejarah Orang Tionghoa, Pemasok Opium dan Gemar Berjudi

Sejarah Orang Tionghoa. Meskipun orang Tionghoa gemar berderma, akan tetapi sejarawan memandang terdapat sisi lainnya. Ternyata banyak yang mengnal orang Tionghoa juga sebagai pemasok terbesar opium dan gemar berjudi.

 Kegiatan madat oleh orang Tionghoa, menurut Wildan (2012: 28), berawal dari orang Tionghoa cabang atas yang sering melakukan tugas semacam konsesi untuk mengurusi perdagangan opium ke Jawa.

Selain Jawa, mereka juga sering mendapat kepercayaan untuk mengurus impor opium dari Jawa ke berbagai daerah seluruh Asia Tenggara seperti, Malaya, Singapura, Siam, dan Indochina. Selain itu banyak juga orang Tionghoa yang yang menjual opium secara eceran.

Baca Juga: Sejarah Tionghoa di Indonesia, Gemar Beramal Sampai Ketagihan Berjudi

Persaingan yang ketat, membuat penyelundupan opium harus terstruktur hingga melibatkan jaringan luar negeri. Meskipun begitu, pemakai opium mayoritas bukan berasal dari etnis Tionghoa, meskipun banyak terlibat dalam bisnis opium. Justru warga pribumi yang menjadi penikmat madat terbanyak.

Namun intensitas pemakaian opium antara pribumi dan Tionghoa, orang Tionghoa lebih intens dalam mengkonsumsi opium.

Sama seperti kecanduan opium, orang Tionghoa saat itu juga kecanduan berjudi. Mereka biasanya berjudi dengan bermain kartu.  Orang Tionghoa ada lima macam dalam menggunakan kartu.

Kalangan orang Hakka menggemari permainan tujuh puluh kartu atau Phien-kim atau dengan tiga puluh delapan kartu atau tjap –dji-pai. Begitulah sejarah orang Tionghoa dari dua sudut pandangan yang seimbang, semoga bermanfaat. (Erik/R9/HR-Online)

Editor: Dadang