Kisah Ibnu Hajar Al-Asqalani yang Ispiratif

Kisah Ibnu Hajar Al Asqalani
Makam Syekh Ibnu Hajar Al-Asqalani. Foto: Ist/net

Kisah Ibnu Hajar Al-Asqalani sangat terkenal di berbagai belahan dunia terlebih bagi kalangan umat muslim. Kisah Ibnu Hajar juga telah menjadi inspirasi bagi banyak orang.

Para santri atau orang yang sedang belajar di pesantren tentunya sudah tidak asing lagi dengan tokoh dan ulama besar ini.

Selama hidupnya Ia berhasil membuat beberapa karya terkenal yang hingga saat ini masih digunakan sebagai bahan perlajaran Agama Islam.

Karya tersebut antara lain Fath Al-Bari, Bulugh Al-Maram, Tahdzib al-Tahdzib dan beberapa karya lainnya berupa kitab kuning.

Salah satu karya monumental yang oleh banyak ulama saat itu menyepakatinya sebagai kitab penjelasan hadist paling detail adalah Fath Al-Bari.

baca juga: Asal Usul Air Zam Zam Sebagai Keajaiban Dalam Sejarah Islam

Kisah Ibnu Hajar Al-Asqalani Saat Belajar

Salah satu kisah yang terkenal dan sangat populer di kalangan para santri serta para cendekiawan muslim adalah saat beliau belajar.

Ibnu Hajar awalnya terkenal sebagai seorang santri yang bodoh, karena telah belajar dalam waktu lama tetapi belum bisa mendapatkan ilmunya.

Sampai pada suatu saat, ia sempat merasa putus asa hingga akhirnya berkeinginan berhenti mengaji dan pulang ke rumah.

Namun, beberapa kali Ibnu Hajar memohon pamit pulang, gurunya tidak mengijinkan dan menyuruhnya untuk tetap belajar.

Hanya saja, karena beliau terus meminta pulang, sang guru pun mengijinkan dan berpesan kepadanya untuk tidak pernah berhenti belajar di manapun berada.

Belajar dari Batu

Bagian dari kisah Ibnu Hajar Al-Asqalani yang banyak menjadi inspirasi Pendidikan bermula dari sini, yaitu saat Ia menempuh perjalanan pulang.

Selama perjalanan pulang Ibnu Hajar sempat berteduh di sebuah gua karena hujan lebat dan tidak memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan.

Karena hujan tidak kunjung reda, Ia pun memutuskan untuk beristirahat lebih lama di gua tersebut dan masuk lebih kedalam lagi.

Setelah masuk lebih dalam, Ibnu Hajar mendengar gemericik air dan Ia pun melihatnya, ternyata air tersebut menetes ke atas batu besar dalam waktu yang sangat lama.

Terlihat batu besar tersebut sampai berlubang karena terus-menerus terkena tetesan air, Ibnu Hajar pun mulai merenungi proses belajarnya dan caranya berfikir.

Ibnu Hajar berpikir kalau otak atau pikirannya tentu tidak lebih keras dari batu, Batu besar yang keras saja bisa berlubang oleh air yang lembut.

Menurutnya, tidak mungkin otaknya tidak memiliki bekas sama sekali jika terus-menerus belajar dan menempanya dengan Ilmu pengetahuan.

Kisah Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam menempuh proses belajar pun berlanjut, karena setelah itu Ia mengurungkan niat pulang dan kembali kepada gurunya untuk belajar.

Mulai dari sini, beliau memiliki semangat yang besar untuk belajar dan terus berusaha menuntut ilmu sampai pada akhirnya menguasai banyak Ilmu pengetahuan.

Dari kisah ini juga kemudian beliau mendapat julukan Ibnu Hajar yang dalam Bahasa Indonesia berarti Anak Batu.

Baca juga: Doa Kedua Orang Tua, Dapatkan Keutamaan Memanjatkannya

Sekilas Biografi Ibnu Hajar

Ibnu Hajar Al-Asqalani memiliki nama lengkap Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Kinani Al-Asqalani dan dikenal sebagai salah satu ulama ahli hadist.

Beliau lahir pada tahun 773 dan wafat pada tahun 852 Hijriah pada umur 79 tahun, namun terdapat dua pendapat yang mengatakan tempat kelahirannya.

Terdapat pendapat yang mengatakan kalau Ibnu Hajar lahir di Kota Asqalan, Palestina. Namun pendapat lain mengatakan Ia lahir dan hidup di Mesir.

Terlepas dari itu, dalam kisah Ibnu Hajar Al-Asqalani yang tertulis dalam buku 60 Biografi Ulama Salaf karya Syekh Ahmad Farid memberi gambaran cukup detil tentang beliau.

Salah satunya, Ibnu Hajar digambarkan memiliki sosok berkulit putih, memiliki raut wajah yang berseri-seri dan bercahaya.

Selain itu, Ia memiliki bentuk tubuh yang baik dengan tinggi badan sedang, berjenggot lebat namun berkumis pendek.

Tumbuh Besar Sebai Yati Piatu

Ibnu Hajar tumbuh besar sebagai seorang yatim piatu dan hidup bersama kakaknya. Al-Maktab, Makkah adalah tempat pertama beliau menuntut ilmu untuk mempelajari Al-Qur’an.

Kemudian, beliau juga pernah belajar terhadap seorang Ahli Fiqih di Makkah, Mesir dan berbagai daerah lainnya.

Setelah melalui proses belajar yang panjang, Ibnu Hajar kembali ke mesir untuk mengamalkan ilmu yang telah beliau pelajari dan menjadi tokoh di mesir sampai akhir hayatnya.

Kisah Ibnu Hajar Al-Asqalani beserta biografinya telah banyak tertulis dalam kitab atau pun buku dan menjadi bahan pelajaran serta inspirasi yang menarik. (Muhafid/R6/HR-Online)

Editor: Muhafid