Pembagian Ahli Waris dan Syarat Ketentuan Menurut Ajaran Islam

Pembagian Ahli Waris dan Syarat Ketentuan Menurut Ajaran Islam
Ilustrasi pembagian ahli waris. Foto: zonasultra.com

Pembagian ahli waris sudah ada penetapannya menurut ajaran agama Islam. Semua bisa dibagi menurut ketentuan yang berlaku.

Sehingga tidak boleh asal sembarangan dari segi pembagian. Namun, sayangnya masih banyak orang yang belum mengerti akan pembagian yang adil dan benar.

Hal ini pun sudah tercatat dalam Al-Qur’an, sebab semua yang berhubungan dengan agama sudah ada aturannya. Pembagiannya pun sudah terdapat pembahasannya dari berbagai segi.

Bagi anda yang masih merasa bingung, jangan takut untuk meminta bantuan orang yang sudah paham akan masalah tersebut. Sebenarnya pembagian tersebut lumayan rumit. Maka dari itu, ada yang perlu membaginya dengan tepat.

Jika tidak, terkadang justru akan salah penerimaan ahli warisnya. Bahkan tidak sedikit orang yang berebut atau bertengkar akan pembagian tersebut.

Padahal semua kelompok akan mendapatkan bagiannya masing-masing. Setiap orang memiliki bagian yang jelas jika berpedoman pada ajaran Islam.

Dengan menggunakan pembagian yang jelas, maka setiap orang akan mendapatkan haknya masing-masing. Sehingga yang diperoleh merupakan bagian yang adil.

Pembagian ahli waris merupakan keluarga terdekat terlebih dahulu. Jika tidak memilikinya, masih ada aturan jelas selanjutnya.

Sebaiknya memberikan bagian warisan pada ahli yang tepat. Pasrahkan urusan pembagian menurut agama agar bisa lebih jelas dan adil.

Pembagian Ahli Waris Dalam Islam

Menurut agama Islam, warisan bisa dikelompokkan berdasarkan dengan masing-masing ahli waris yang sudah ada ketentuannya. Namun, selain menurut bagian yang sudah ditentukan, bisa juga karena adanya wasiat.

Ketika seseorang memberikan wasiat, seseorang tersebut hanya boleh memberikan 1/3 bagian. Akan tetapi, jika semua ahli waris menyetujui apa yang diwasiatkan, maka boleh lebih dari batasannya.

Selain itu, menurut ajaran Islam, ahli waris yang bisa menerimanya yaitu orang-orang yang memiliki hubungan darah atau perkawinan dengan pewaris.

Tidak ada halangan hukum untuk menjadi pewaris. Ahli waris tersebut antara lain ayah, anak laki-laki, saudara laki-laki, paman, kakek, ibu, anak perempuan, saudara perempuan, dan nenek.

Namun, menurut hubungan perkawinan, bisa terdiri dari janda dan duda. Berikut ini ada kelompok ahli waris menurut Islam, yaitu:

1. Dzulfaraidh

Pembagian ahli waris menjadi beberapa kelompok, salah satunya yaitu Dzulfaraidh. Kelompok yang satu ini yaitu ahli waris yang menerima bagian pasti.

Antara lain ayah, ibu, janda, dan duda. Hal ini menjelaskan jika bagian untuk ahli waris diutamakan bagi kelompok tersebut dalam perhitungan pembagian harta warisan. Sehingga kelompok ini menjadi paling utama.

2. Dzulqarabat

Sedangkan pembagian ahli waris yang kedua yaitu Dzulqarabat. Kelompok yang satu ini merupakan ahli waris yang belum tentu bagian hartanya.

Kelompok ini akan mendapatkan harta warisan sisa setelah bagian ahli waris yang utama sudah terpenuhi. Dzulqarabat beranggotakan anak perempuan dan laki-laki dari pewaris.

3. Dzul-arham

Sedangkan untuk kelompok pembagian ahli waris selanjutnya yaitu ahli waris Dzul-arham yang merupakan kerabat jauh jika kedua kelompok sebelumnya tidak ada.

Kelompok ahli waris yang satu ini terdiri dari banyak anggota. Bisa cucu laki-laki dan perempuan dari anak perempuan. Anak laki-laki dan perempuan dari cucu perempuan dan masih banyak yang lainnya.

Jadi, ketika kelompok ahli waris Dzulfaraidh dan Dzukqarabat tidak ada, barulah kelompok ini pantas mendapatkannya.

Syarat Pembagian Harta Warisan

Pembagian warisan tentu harus sesuai dengan ajaran agama. Sebab, semua sudah memiliki bagiannya masing-masing. Selain mengetahui siapa saja yang berhak memperoleh warisan, anda juga perlu tahu syaratnya.

Dalam agama Islam, ada 4 syarat yang wajib anda penuhi ketika pembagian harta waris. Matinya seseorang yang mewariskan tentu harus terbukti jelas dan terpercaya. Setelah pewaris meninggal, barulah harta warisan mulai anda bagi dengan adil.

Pembagian ahli waris harus dalam keadaan hidup meski sudah sakit berat. Tidak hanya itu saja, masih ada ketentuan dari pembagian. Ahli waris harus memiliki hubungan baik menurut hubungan pernikahan, nasab, atau pemerdeka budak.

Namun, ketika ada rincian yang jelas akan pembagian warisan, tentu semua bisa terbagi dengan adil. Sehingga pembagian ahli waris akan tercantum jelas tanpa menggunakan adanya saksi. Hal ini penting untuk anda pahami. (Muhafid/R6/HR-Online)

Editor: Muhafid