Minggu, Januari 23, 2022
BerandaBerita TerbaruSejarah Virus Ebola yang Kini Mewabah Kembali, Kenali Gejalanya!

Sejarah Virus Ebola yang Kini Mewabah Kembali, Kenali Gejalanya!

Sejarah virus Ebola dan gejala yang timbul, serta cara penularannya ini perlu Anda ketahui. Pasalnya, virus mematikan itu kini kembali mewabah, sehingga kita perlu mewaspadainya.

Virus Ebola pada awal kemunculannya disebut sebagai demam berdarah Ebola. Virus yang menjangkit pada manusia ini diklasifikasikan ke dalam keluarga Filoviridae.

Jika menyerang manusia, tingkat kematian yang akibat serangan virus tersebut bisa mencapai rata-rata 50 persen, dengan persentase bervariasi dari 25 persen sampai 90 persen.

Lantas, bagaimana sejarahnya virus Ebola ini pada masa lalu? Merangkum dari berbagai sumber, berikut ini penjelasannya.

Sejarah Virus Ebola

Baca Juga : Gejala Terinfeksi Ebola Penting Anda Ketahui, Ini Penjelasannya!

Pertama kali virus Ebola muncul pada tahun 1976 di Sudan Selatan dan Republik Demokratik Kongo. Nama virus Ebola karena awal kemunculannya pada sebuah desa dekat Sungai Ebola.

Sejak kemunculannya penyakit ini menyebar secara sporadis. Bahkan, laporan pada masa itu menyebutkan bahwa daerah yang terjangkit virus Ebola meliputi daerah Afrika bagian Sahara.

Daerah tersebut meliputi Sudan Selatan, Kongo, Gabon, Uganda, Pantai Gading, dan Republik Demokratik Kongo. Beberapa dekade kemudian, wabah Ebola kembali menyebar dalam wilayah Afrika Barat pada periode Maret 2014 hingga Januari 2016.

Periode itu menjadi gelombang wabah terbesar sejak pertama kali muncul tahun 1976. Namun, sejarah virus Ebola tak hanya terhenti pada periode tersebut. Wabah pada tahun 2016 mulai menyerang daerah Guyana, Sierra Leone, dan Liberia.

Periode Wabah Kembali Merebak Hingga 2020

Baca Juga : Virus Paling Mematikan Sepanjang Sejarah Manusia

Wabah virus Ebola kembali merebak di Pemerintah Republik Demokratik Kongo pada bulan Agustus 2019. Berdasarkan laporan data kasus hingga bulan Oktober 2019 angkanya pun mencapai 3.000 kasus lebih.

Bahkan, kini saat pandemi virus Corona (Covid-19) serta penyakit campak yang parah, virus Ebola lagi-lagi merebak pada wilayah Mbandaka dan Wangata, Provinsi Equateur, Republik Demokratik Kongo.

Negara setempat melaporkan hal tersebut pada Selasa 2 Juni 2020 lalu. Itulah periode dalam sejarah virus Ebola sejak awal kemunculannya hingga sekarang.

Gejala Virus Ebola

Selain sejarah virus Ebola, penting untuk Anda ketahui mengenai gejala yang muncul. Virus tersebut dapat terdeteksi dari munculnya demam yang mendadak pada penderitanya. Kemudian nyeri otot, kelelahan yang sangat, sakit tenggorokan, serta sakit kepala.

Semua gejala tersebut juga diikuti dengan diare, mual, muntah, ruam, hingga kerusakan pada liver dan ginjal. Berdasarkan laporan dari beberapa kasus malah terdapat penderita yang mengalami pendarahan luar dan dalam.

Masa Inkubasi dan Cara Penularan

Baca Juga : Ilmuwan Ciptakan Vaksin Covid-19 Eksperimental dari Virus Genetik

Masa inkubasi virus Ebola bervariasi dalam rentang 2 hari hingga 21 hari. Sedangkan, cara penularannya sangat bervariasi. Yakni melalui media cairan tubuh termasuk darah, sekresi, organ atau cairan tubuh lain dari hewan yang telah terinfeksi.

Dalam sejarah virus Ebola, kelelawar yang merupakan hewan pemakan buah juga menjadi inang bagi virus mematikan yang satu ini. Infeksi Ebola kemudian menjalar pada gorila, simpanse, monyet, landak, dan antelope.

Hewan-hewan itu ditemukan terinfeksi dan mati saat hujan. Sedangkan, virus Ebola menjangkiti manusia melalui kontak langsung. Baik melalui membran mucus atau luka kulit yang berdarah, sekresi, organ, dan cairan tubuh lain dari orang yang telah terinfeksi.

Penularan juga bisa melalui kontak tidak langsung dengan lingkungan yang terinfeksi dan terkontaminasi oleh cairan-cairan tersebut.

Penularan pada Manusia

Pada manusia, selama darah dan cairan tubuhnya mengandung virus Ebola maka ia masih mampu menularkannya. Walaupun si penderitanya sudah meninggal dunia.

Saat wabah Ebola, petugas kesehatan bahkan melarang berhubungan badan secara langsung. Petugas medis menganjurkan kepada penderita penyakit ini untuk menggunakan alat pengaman.

Sama halnya seperti virus yang bersifat pandemi, virus Ebola juga tidak dapat dicegah secara khusus. Hingga saat ini para peneliti kesehatan belum menemukan vaksin untuk Ebola.

Isolasi mandiri untuk pasien dan menjaga kebersihan bagi yang sehat merupakan langkah pencegahan yang telah terbukti berhasil.

Melihat dari sejarah virus Ebola dan periode sejak awal kemunculannya, tentunya kita berharap hal itu jangan sampai terulang lagi. Khususnya di Indonesia. 

Selalu menjaga kebersihan, serta menjalankan pola hidup bersih dan sehat adalah hal utama untuk bisa mencegahnya. (Eva/R3/HR-Online)

Editor : Eva Latifah

- Advertisment -