Senin, Oktober 25, 2021
BerandaBerita TerbaruAsal Air di Bumi Benarkah Dari Meteorit? Ini Penjelasannya

Asal Air di Bumi Benarkah Dari Meteorit? Ini Penjelasannya

Asal air di Bumi benarkah dari meteorit? Sudah sangat pasti jika manusia hidup memerlukan air. Bahkan, hampir 60 persen atau sebagian besar tubuh manusia terdiri atas kandungan air.

Para peneliti dan ilmuwan pun telah lama melakukan penelitian mereka mengenai asal-usul dari keberadaan air yang ada di planet kita ini.

Kemudian, para peneliti baru-baru ini mengungkapkan tentang penelitian mereka mengenai hal ini yakni tentang potensi paling mungkin yang menjadi asal-usul air yakni berasal dari meteorit.

Asal Air di Bumi

Mengutip National Geographic, dahulu kala Bumi tidak berwujud seperti saat ini. Planet yang kita tempati sekarang dulu merupakan sebuah bola panas dengan permukaan yang terselubung cairan panas.

Lantas, hal tersebut menjadikan para ahli dan ilmuwan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Terutama air sebagai elemen yang penting dalam kehidupan dalam planet ini.

Keingintahuan mereka atau bahkan semua penghuni planet ini pun perlahan terungkap. Jika batuan besar dari luar angkasa memiliki peran yang penting untuk membawa elemen air ke Bumi.

Kejadian ini terjadi saat tata surya mencapai usia dua juta tahun serta planet ini masih dalam bentuk yang belum sempurna seperti sekarang.

Bahkan, mereka menyebutkan jika ukuran Bumi masih lebih kecil dari ukuran saat ini, sekitar 20 persennya. Penemuan asal air di Bumi yang paling berdasar dari semua penelitian adalah meteorit balistik yang langka dan bernama angrite.

Batuan tersebut telah menunjukkan jika volatil adalah unsur serta molekul dengan tingkat titik lebih rendah (seperti air) yang dapat terbawa ke Bumi melalui meteorit.

“Kami mencari sebanyak-banyaknya induk atau tubuh yang utama dari meteorit sebagai jalan mencari tahu yang mana mereka ada pada awal pembentukan tata surya. Itu juga yang mana tentang seberapa banyak kandungan air yang mereka punyai.” ucap Adam Sarafian, seorang peneliti lulusan program doktoral Department Bumi, Atmosfer dan Ilmu Planet di Massachusetts Institute of Technology.

Para peneliti mengungkapkan jika meteorit angrite tersebut terbentuk pada bagian awal dari tata surya sekitar 4,56 miliar tahun silam.

Baca Juga: Bumi Berputar Lebih Cepat Daripada Setengah Abad Silam, Ini Dampaknya

Volatil, Elemen Asteroid yang Mudah Menguap

Selama waktu tersebut, inti dari tata surya merupakan empat yang kering dan panas. Protoplanet atau embrio dari planet, bahkan asteroid mempunyai elemen seperti senyawa karbon yang mempunyai titik didih pada 4.800 derajat Celcius.

Yang mana ia para peneliti anggap sebagai senyawa yang mudah untuk menguap (volatil). Maka dari itu, tidak cukup jelas kapan dari unsur-unsur tersebut menjadi asal air di Bumi. Dimana mempunyai titik didih lebih rendah layaknya air dapat tersebar.

Khususnya, karena hidrogen yang cukup perlu dalam pembuatan molekul H2O akan dapat menguap lebih dulu sebelum mereka dapat menyebar menuju tempat yang lain.

Akan tetapi, dari hasil penelitian telah terungkap bahwa kandungan air yang ada pada angrite sangat mirip dengan kandungan air yang ada pada proses awal planet terbentuk.

“Ini mengakibatkan adanya asumsi yang sederhana. Jika air telah ada sejak sebelum planet benar-benar terbentuk secara utuh,” ucap Sarafian menjelaskan.

Dengan hal tersebut, berarti pada saat planet ini mulai mengalami pendinginan, telah ada air pada permukaannya. Lalu, studi tentang angrite untuk asal air di Bumi ini sudah peneliti publikasi pada jurnal Geochimica and Cosmochimica Acta.

Baca Juga: Alien Pernah Kunjungi Bumi, Bukti Akan Segera Terungkap Cek Di Sini!

Penelitian Lain untuk Sampel Meteorit

Tim peneliti juga bekerja sama dengan institusi Amerika Serikat, Australia, serta Prancis. Kemudian telah menghasilkan temuan mengenai bukti dari pergerakan air yang baru pada meteorit. Yang mana meteorit tersebut belum lama bertabrakan dengan planet ini.

Dalam makalah telah terbit dalam jurnal Science, tim pun mengungkapkan jika mereka tengah melakukan studi mengenai meteorit CC (karbonit chondrite). Yang mana ada pada permukaan Bumi sejak seratus tahun terakhir yang telah mereka temukan.

Untuk mengetahui asal air atau sampel tersebut mengandung air, para peneliti melihat distribusi thorium. Lalu juga uranium dalam sampel dari meteorit. Uranium laut dalam air, sementara itu thorium dapat bereaksi secara lambat dengan air.

Tak hanya berhenti di sana saja, kedua isotop tersebut mempunyai waktu yang lebih pendek. Ha ini mempunyai arti bahwa distribusi air yang ada dalam meteorit tersebut dapat mereka temukan. Itu pun terjadi yang mana masih baru sekitar beberapa juta tahun.

Dengan melakukan penelitian terhadap sembilan meteorit, mereka pun mendapatkan hasil distribusi air yang selama ini mereka cari. Dari penemuan asal air di Bumi tersebut, yang mana menunjukkan pergerakan dari air, kemungkinan besar terjadi dalam satu juta tahun terakhir. (R10/HR Online)

Editor: Jujang

- Advertisment -

Berita Terbaru

spot_img