Bintang Laba-Laba di Bima Sakti, Penemuan Langka dan Berbentuk Spiral

Bintang Laba-Laba di Bima Sakti
Ilustrasi Bintang Laba-Laba di Bima Sakti. Foto: space.com

Bintang laba-laba di Bima Sakti menjadi salah satu penemuan paling baru dari para ilmuwan ahli astronomi. Para ahli astronom tersebut mengungkapkan dalam laporannya mengenai penemuan bintang yang telah mereka amati dengan memakai Arecibo. Itu adalah sebuah teleskop bintang yang saat ini telah hancur di kawasan Puerto Rico.

Bintang Laba-Laba di Bima Sakti

Penemuan paling baru ini merupakan penemuan yang dahulu telah diamati oleh para ilmuwan astronomi. Bintang laba-laba yang ada dalam galaksi. Para penemu ini pun mengungkapkan jika bintang laba-laba tersebut merupakan jenis bintang neutron atau pulsar milidetik.

Yang mana selalu berkedip pada setiap rotasinya seperti mercusuar. Bintang neutron ini merupakan inti yang paling kecil dari bintang tua yang telah meledak. Ini seringkali merusak materi dari para bintang yang lain.

Bintang-bintang tersebut terkunci pada orbit biner beriringan dengan mereka. Lalu juga memakai dorongan materi yang telah jatuh tersebut sebagai cara untuk mencapai kecepatan pulsar.

Mengutip Space jika bintang laba-laba di Bima Sakti merupakan bintang versi yang langka serta versi khusus dari bintang neutron lainnya. Kemudian, bintang ini mengorbit dengan jarak yang begitu dekat bersama dengan kelompok bintang biner.

Sehingga, mereka bisa meledakkan permukaannya. Lalu, juga menghirup sejumlah materi dalam jumlah yang besar. Seperti laba-laba yang telah merobek anggota badan dari pasangannya pada bagian tungkai.

Pada laporan dalam makalah yang baru, para ahli dan ilmuwan astronomi ini telah mengidentifikasi dari tiga black widows serta redback pada Bima Sakti. Mereka menemukan bintang jenis ini yang menentang kategorisasi yakni hampir seperti persilangan antara dua spesies.

Baca Juga: Bintang White Dwarf di Jagat Raya Tak Lagi Bersinar, Ini Penjelasannya

Bintang Spiral yang Langka

Saat bintang laba-laba di Bima Sakti ini sudah mengurangi massa pendampingan yang menjadi kurang dari satu per sepuluh massa matahari, yang mana pada umumnya adalah 0,02 sampai 0,03 massa dari Matahari. Kemudian, bintang tersebut dinamakan dengan black widows.

Sementara itu, redback mempunyai kawan yang lebih kuat dan mempunyai massa lebih dari satu per sepuluh kali massa Matahari. Kawan bintang biner redback ini telah melalui bintang laba-laba serta planet Bumi secara berkala.

Hal ini akhirnya menghasilkan gerhana yang sementara. Kawan dari black widows terset yang keriput pada umumnya tidak melakukan teknik semacam itu. 

Selain itu, menurut pemberitaan Live Science, jika ahli astronomi tersebut menduga jika bintang laba-laba tersebut merupakan hasil dari persilangan black widows dan juga redback.

Akan tetapi, para peneliti sudah memberikan nama terhadap bintang laba-laba di Bima Sakti yaitu redback. Hal itu karena pendampingnya seringkali melampaui cahaya.

Tak hanya itu saja, pendamping bintang tersebut mempunyai berat atau massa paling tidak sekitar 0,055 kali dari massa matahari atau bahkan lebih besar.

Yang mana massa tersebut cukup berat sebagai janda hitam, walaupun masih cukup ringan untuk menjadi redback. Lalu, untuk sekarang, mekanisme yang pasti dari sistem itu masih menjadi misteri.

Selanjutnya, lebih dari hal tersebut jika para ahli astronomi telah mengandalkan data yang mereka kumpulkan dari tahun 2013 sampai tahun 2018 memakai teleskop Arecibo.

Baca Juga: Laboratorium Pembentukan Bintang dan Planet dengan Simulasi MRI

Memiliki Pola Debu Halus Berbentuk Spiral

Cahaya bintang laba-laba di Bima Sakti galaksi spiral ini mempunyai pola debu yang halus dengan menembakkan jaring-jaring yang berputar dalam ruang angkasa. Gambar yang sempat NASA rilis sebagai wujud pengambilan teleskop luar angkasa Spitzer atas cahaya infra merah.

Yang mana merupakan cahaya redup dari galaksi IC 342 dan memberikan jalan pada debu agar bisa bersinar terang dalam iringan galaksi. Letak jaring-jaring ini ada pada jarak 10 juta tahun cahaya yang mana cenderung lebih dekat dengan skema kosmik.

Akan tetapi, terlihat dari sudut pandang ini, galaksi spiral tersebut ada pada jarak yang dekat di bagian belakang cakram galaksi Bima Sakti. Hal ini tentu saja cukup mengejutkan ilmuwan.

Debu yang menghalangi itu menjadikan hal sulit untuk dapat menyaksikan IC 342 pada cahaya yang tampak. Lalu, kata para peneliti untuk teleskop Spitzer Inframerah yang sensitif dapat menembus selubung berdebu pada bintang laba-laba di Bima Sakti tersebut. (R10/HR Online)

Editor: Jujang