Bumi Kehilangan 28 Triliun Ton Es, Beginilah Dampak Buruknya

Bumi Kehilangan 28 Triliun Ton Es
Ilustrasi Bumi Kehilangan 28 Triliun Ton Es. Foto: Ist/Net

Bumi kehilangan 28 triliun ton es. Laporan hasil penelitian yang paling baru saat ini pun mengejutkan. Para ahli mengatakan jika Bumi kehilangan es semakin cepat.

Hal tersebut merupakan peristiwa mencengangkan pertama kali yang telah mereka gunakan, yakni data satelit dalam melakukan survei level menghilangnya secara global.

Planet Bumi Kehilangan 28 Triliun Ton Es dalam 3 Dekade

Melansir AlJazeera, lapisan es yang ada di Bumi telah hilang yang berakibat dari pemanasan global berdasarkan dengan penelitian yang terbaru. Selama kurun waktu 23 tahun (1994-2017), Bumi telah kehabisan sekitar 28 triliun ton es.

Yang mana sejumlah itu mampu menutup semua wilayah Inggris dengan tebal sekitar 100 meter. Riset yang telah tim peneliti Universitas Edinburgh lakukan bersama dengan Universitas College London serta Universitas Leeds.

Dari penelitian telah menemukan jika kecepatan pencairan es pada wilayah kutub utara, kutub selatan, serta pegunungan dunia sudah semakin tajam sejak 30 tahun terakhir.

Peningkatan pencairan es tersebut telah meningkat dari sekitar 0,8 triliun ton setiap tahun (tahun 1990 an) hingga 1,3 triliun ton tiap tahun (tahun 2017).

Para tim peneliti pun mengungkapkan jika terdapat potensi bencana, yakni untuk orang-orang yang bertempat tinggal pada wilayah pesisir terancam dengan kondisi Bumi kehilangan 28 triliun ton es.

“Lapisan es saat ini mengikuti skenario terburuk dari pemanasan iklim yang ditetapkan Panel Antarpemerintah mengenai Perubahan Iklim (IPCC),” ucap penulis utama penelitian dan juga peneliti Centre for Polar Observation and Modelling Universitas Leeds.

“Kenaikan yang terjadi pada permukaan laut pun dalam skala ini akan memiliki dampak yang sangat serius untuk komunitas pesisir dalam abad ini.”

Riset terbit dalam jurnal European Geosciences Union The Cryosphere. Ini adalah penelitian yang pertama dari jenisnya dengan memakai data satelit.

Penelitian tersebut telah mensurvei sekitar 215.000 gletser pegunungan seluruh dunia. Termasuk juga lapisan es kutub Antartika dan Greenland.

Lalu juga rak es yang mengapung sekitar Antartika serta es yang melayang pada wilayah kutub utara. Bahkan juga lautan bagian selatan.

Melalui survei atas kondisi Bumi kehilangan 28 triliun ton es tersebut, tim peneliti menemukan jika hilangnya lapisan es dalam 30 tahun terakhir ini berasal dari es laut Arktik serta lapisan es Antartika. Yang mana keduanya mengapung pada permukaan lautan bagian Kutub.

Baca Juga: Penemuan Quasar Terjauh, Jaraknya 13 Miliar Tahun Cahaya dari Bumi

Apa Dampaknya?

Dalam peristiwa menghilangnya lapisan es tersebut, tak secara langsung berkontribusi pada tingkat kenaikan debit air laut. Lapisan dari es berperan penting dalam memantulkan radiasi atau sinar matahari. Maka jika kehilangan mereka (lapisan es), akan mempengaruhi atas kemampuan Bumi untuk memantulkan radiasi matahari menuju luar angkasa.

“Menghilangnya es laut tidak memiliki kontribusi yang langsung pada tingkat kenaikan permukaan laut. Tetapi mempunyai pengaruh yang tidak langsung. Salah satu peran utama dari lapisan es lautan Arktik adalah kembali memantulkan radiasi matahari menuju luar angkasa. Yang mana hal tersebut membuat dan membantu dalam menjaga Kutub Utara agar tetap dingin,” ucap Isobel Lawrence menjelaskan. Ia adalah peneliti Centre for Polar Observation and Modelling Universitas Leeds.

Ketika Bumi kehilangan 28 triliun ton es dan lapisan es menyusut, maka akan semakin banyak energi matahari yang terserap oleh lautan dan juga atmosfer. Hal tersebut mengakibatkan Kutub Utara memanas secara lebih cepat dari tempat lain pada planet ini.

Kemudian, bukan hanya percepatan pencairan es laut saja. Akan tetapi, juga memperburuk dari pencairan lapisan es dan gletser yang nantinya akan menyebabkan kenaikan permukaan laut,” tambahnya.

Mencairnya 28 triliun ton es di Bumi ini telah berdampak pada kenaikan permukaan laut secara global, yaitu sekitar 3,5 milimeter.

Angka tersebut mungkin terlihat kecil. Namun para peneliti mengungkapkan dampak lainnya. Setiap sentimeter kenaikannya, akan ada sekitar satu juta orang yang terancam kehilangan tempat tinggal pada daerah dataran rendah. 

Walaupun hanya menyimpan sekitar 1 persen saja dari keseluruhan volume es Bumi, gletser telah berkontribusi pada hampir satu perempat atas kehilangan es secara global dalam periode penelitian. Hal ini dengan semua wilayah gletser di penjuru dunia telah kehilangan esnya.

Dengan demikian, para peneliti meyakini jika kondisi Bumi kehilangan 28 triliun ton es atau gletser akan memberikan dampak untuk komunitas lokal hingga komunitas global. (R10/HR Online)

Editor: Jujang