Sabtu, Oktober 23, 2021
BerandaBerita TerbaruEfikasi Vaksin Sinovac di Indonesia 65,3 Persen, Ampuh Cegah Covid-19?

Efikasi Vaksin Sinovac di Indonesia 65,3 Persen, Ampuh Cegah Covid-19?

Efikasi vaksin Sinovac di Indonesia mencapai 65,3 persen. Hal itu diumumkan setelah hasil uji klinik Vaksin Sinovac keluar. Sementara Emergency Use Authorization (EUA) atau izin penggunaan darurat dari BPOM juga sudah dikantongi PT Bio Farma sebagai pengusung vaksin Sinovac di Indonesia. 

Selain itu, vaksin Sinovac sebagai vaksin Covid-19 dianggap aman meskipun ada efek samping yang timbul apabila seseorang menerima vaksin Sinovac. Namun, efek sampingnya cukup ringan dan bersifat reversible atau bisa hilang dengan sendirinya.

Meskipun begitu banyak juga yang bertanya, dengan angka efikasi vaksin 65,3 persen apakah vaksin Sinovac efektif mencegah infeksi Covid-19? Efikasi vaksin sendiri berarti estimasi efektif atau tidaknya suatu vaksin dalam menurunkan kejadian penyakit.

Baca Juga: Pengawasan Mutu Vaksin Covid-19, BPOM Terapkan Standar Internasional

Prof Dr Zullies Ikawati, Apt, Guru Besar Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM) mengatakan, kekhawatiran terkait adanya antibody-dependent enhancement (vaksin tidak efektif dan malah menimbulkan efek negatif/ADE) seperti banyak beredar di media sosial dan membuat banyak orang takut ternyata tidak terjadi, baik pada uji klinik Sinovac di Indonesia, maupun di Turki dan Brazil.

“Tapi banyak juga orang bertanya, kok efikasinya lebih rendah dibanding efikasi di Turki dan Brazil? Kenapa lebih rendah dari vaksin Pfizer dan Moderna yang efikasinya mencapai 90 persen?” ujar Zullies, Selasa (12/1/2021).

Arti Efikasi Vaksin Sinovac 65,3 Persen

Zullies menjelaskan, efikasi atau kemanjuran 65,3 persen berarti ketika uji klinik ada penurunan sebanyak 65,3 persen kasus penyakit pada orang-orang yang divaksin. Angka ini dibandingkan dengan orang-orang yang tidak divaksin atau mendapatkan vaksin kosong (placebo).

“Hasil efikasi tersebut didapat dari uji klinik yang kondisinya terkontrol. Misalnya uji klinik Sinovac di Bandung melibatkan 1600 orang. Subjek yang menerima vaksin sebanyak 800 orang, sementara 800 subjek lainnya mendapatkan placebo atau vaksin kosong,” jelasnya.

Apabila dari 800 subjek yang menerima vaksin, terdapat 26 orang yang terinfeksi atau sekitar 3,25 persen, sementara dari 800 subjek yang menerima placebo ada 75 orang yang terkena Covid-19 atau sekitar 9,4 persen, ini berarti penghitungan efikasi dari vaksin tersebut 0,094 dikurangi 0,0325 dibagi 0,094 dikalikan 100%. Hasilnya didapatkan angka efikasi vaksin Sinovac ini sebesar 65,3 persen.

“Jadi faktor penentu adalah perbandingan antara subjek yang mendapat vaksin dengan subjek yang tidak mendapatkan vaksin,” jelas Zullies.

Efikasi Dipengaruhi Subjek Uji Klinik Vaksin

Menurut Zullies, efikasi juga dipengaruhi oleh subjek yang menjalani uji klinik vaksin. Apabila subjek termasuk memiliki risiko tinggi, maka subjek placebo akan lebih banyak yang terinfeksi. Akibatnya perhitungan efikasinya menjadi meningkat.

“Semisal dari subjek yang menerima vaksin ada 26 yang kena infeksi, sementara subjek yang menerima placebo ada 120 yang terinfeksi, maka efikasinya bisa meningkat jadi 78,3 persen,” katanya.

Baca Juga: Gubernur Jabar Imbau Warga Jangan Menolak Vaksinasi Covid-19

Zullies mencontohkan pada uji klinik vaksin Sinovac di Brazil, subjeknya adalah tenaga kesehatan yang merupakan kelompok dengan risiko tinggi. Karena itu efikasi dari vaksin Sinovac di Brazil pun lebih tinggi.

“Berbeda dengan Indonesia, dimana subjek dari uji klinik vaksin Sinovac adalah masyarakat umum yang tingkat risikonya lebih rendah,” lanjutnya.

Apabila subjek dengan risiko lebih rendah, lanjut Zullies, ditambah subjek juga disiplin menerapkan protokol kesehatan, lalu tidak keluar rumah, maka tidak akan banyak terinfeksi.

“Karena itu perbandingan subjek penerima vaksin yang terinfeksi dengan subjek penerima placebo juga rendah. Maka angka efikasi juga lebih rendah. Angka efikasi itu bukan harga mati. Banyak faktor yang mempengaruhi saat uji klinik dilakukan,” lanjutnya.

Faktor Lain yang Mempengaruhi Efikasi Vaksin

Faktor yang mempengaruhi efikasi sebagai hasil dari uji klinik vaksin juga dipengaruhi oleh jumlah subjek uji dan lama pengamatan. 

“Apabila pengamatan diperpanjang sampai 1 tahun, bisa jadi hasil angka efikasi vaksin Sinovac ini juga akan berbeda,” katanya.

Zullies juga menjelaskan, dengan efikasi vaksin sebesar 65,3 persen ini berarti bisa menurunkan infeksi Covid-19 sebesar 65-an persen. 

“Secara populasi sangat bermakna dan punya dampak yang panjang. Misalnya dari 100 juta penduduk Indonesia, apabila tanpa vaksinasi ada 8,6 juta yang bisa terinfeksi, maka dengan vaksinasi bisa turun sebesar 65 persen, atau hanya 3 juta penduduk yang terinfeksi. Ada selisih sebanyak 5,6 juta penduduk yang tidak terinfeksi,” jelasnya.

Bisa Cegah 5,6 Juta Orang Terinfeksi Covid-19

Menurut Zullies, dengan mencegah 5,6 juta kejadian infeksi, berarti juga penyediaan fasilitas perawatan kesehatan juga akan menurun. Apalagi jika bisa mencapai kekebalan komunal atau herd immunity, maka kondisi ini bisa mencegah penularan pada orang-orang yang tidak mendapatkan vaksin.

Baca Juga: BPOM Memastikan Keamanan Vaksin Covid-19 Sebelum Edar

“Saya pribadi menaruh harapan kepada vaksinasi. Saya harap vaksinasi bisa mengurangi kejadian infeksi Covid-19 di Indonesia. Apalagi jika protokol kesehatan juga dilaksanakan dengan baik, semoga pandemi Covid-19 di Indonesia segera berakhir,” harapnya.

Meskipun begitu, Zullies juga tidak menyangkal banyak yang mempertanyakan kenapa efikasi vaksin Sinovac hanya 65,3 persen.

“Mungkin ada yang kecewa, kenapa rendah? Tapi menurut saya its a good start (awal yang baik, red). Apalagi batas minimal efikasi vaksin yang disetujui FDA, WHO, dan EMA adalah 50 persen,” ungkapnya.

Zullies menegaskan, secara epidemiologi dengan efikasi vaksin minimal sebesar 50 persen, hal itu bisa menyelamatkan hidup orang banyak.

“Apalagi sudah disampaikan juga vaksin memiliki imunogenisitas yang tinggi, angka seropositive mencapai 99,23 persen pada 3 bulan pertama. Ini berarti bisa memicu antibodi pada subjek yang mendapatkan vaksin,” katanya.

Meskipun begitu, lanjut Zullies, efektivitas vaksin setelah dipakai masyarakat masih harus ditunggu. 

“Perlu diingat juga, karena baru EUA dari interim report, pengamatan terhadap efikasi dan safety masih tetap berlanjut sampai 6 bulan selanjutnya. Ini untuk mendapat full approval,” kata Zullies.

Zullies juga menegaskan, karena efikasi vaksin Sinovac mendapat 65,3 persen dan dinyatakan aman, dirinya siap untuk divaksinasi. 

“Bismillah, manusia berusaha, Tuhan yang menentukan. Kepada-Nya kita pasrahkan. Saya siap divaksinasi,” tegasnya. (Ndu/R7/HR-Online)

Editor: Ndu

- Advertisment -

Berita Terbaru

spot_img