Gejala Penyakit Klamidia, Penyebab, Bahaya, dan Cara Mengobatinya

gejala penyakit klamidia
Faktor gejala penyakit klamidia. Foto: Ist/Net

Gejala penyakit klamidia yang biasanya cepat terasa adalah gangguan pada alat vital maupun pada mata. Penyebab penyakit klamidia karena bakteri yang menular melalui hubungan seksual.

Klamidia atau Chlamydia, mengutip dari Wikipedia, merupakan jenis penyakit menular seksual (PMS) yang bersifat khas. Salah satu dampak jika tertular penyakit ini bisa meningkatkan risiko mengalami kemandulan.

Penyakit ini terutama karena serangan jenis bakteri yang bernama Chlamydia trachomatis. Hingga saat ini jumlah kasus klamidia telah mencapai lebih dari 100 juta orang di seluruh dunia.

Sekedar informasi, jenis penyakit menular seksual cukup banyak. Seperti gonorhea (neisseria gonorrhoeae), sipilis (treponema pallidum), HIV (human immunodeficiency virus), kutil kelamin (human papilomavirus), dan klamidia (clamidia trachomatis).

Meskipun nama penyakit klamidia tak sepopuler jenis PMS lainnya namun jumlah kasus ini juga sudah banyak. Seperti halnya jenis PMS lainnya, penyebaran penyakit ini juga terjadi melalui cairan tubuh.

Baca Juga: Gejala Penyakit Demensia, Penyebab, dan Cara Penanganannya

Ragam Gejala Penyakit Klamidia

Seperti PMS lainnya, gejala penyakit klamidia juga akan segera terlihat atau terasa setelah melakukan hubungan intim. Namun penyakit ini umumnya terjadi pada orang yang sering berganti-ganti pasangan.

Infeksi bakteri Chlamydia trachomatis umumnya menyerang sejumlah bagian tubuh. Seperti bagian anus, saluran kencing, serviks, organ mata, dan tenggorokan.

Berbeda dengan gonorhea, bakteri ini tak hanya menyerang alat vital namun juga akan menginfeksi organ mata. Namun sayangnya, pengobatan penyakit infeksi ini sering terlambat karena gejalanya yang tidak mudah kita kenali.

Meskipun termasuk jenis penyakit yang memalukan, namun gangguan in bukanlah penyakit mematikan. Yang penting deteksi dini agar bisa segera mendapatkan pertolongan.

Gejala atau tanda penyakit ini terdapat perbedaan antara yang terjadi pada pria dan wanita. Gejala ini umumnya tak terasa nyata setelah 1 hingga 3 minggu sejak penularan. Berikut ini gejala penyakit klamidia yang wajib Anda tahu.

Gejala Klamidia pada Pria

Tanda serangan infeksi penyakit ini yang terjadi pada pria terdapat perbedaan dengan wanita. Beberapa gejala yang umum terjadi pada pria yang mengalami klamidia antara lain:

  • Timbul rasa sakit atau kondisi tidak nyaman pada bagian testikel.
  • Saat buang air kecil akan terasa seperti gatal. Bahkan bagian penis timbul rasa yang tidak nyaman.
  • Ada juga penderita klamidia yang merasakan sensasi terbakar atau panas saat buang air kencing. Tanda ini kadang bersamaan dengan rasa gatal.
  • Gejala penyakit klamidia lainnya yang juga sering terjadi adalah keluarnya cairan putih yang kental atau encer dari penis. Jika Anda mengalami hal ini berulang kali sebaiknya segera periksakan ke dokter.

Gejala Klamidia pada Wanita

Daripada pria, umumnya wanita yang mengalami penyakit infeksi justru tidak memperlihatkan adanya gejala. Bahkan jumlah kasus tanda gejala ini bisa mencapai 70 persen.

Berikut ini beberapa tanda yang timbul dari wanita yang menderita infeksi klamidia. Sehingga sangat penting untuk sering memeriksakan ke dokter saat merasakan satu saja tanda yang ada.

  • Wanita yang menderita klamidia juga akan mengalami keluarnya cairan berwarna putih dari alat vital. Gejala penyakit klamidia ini berbeda dengan keputihan atau gangguan haid. Tak jarang tanda ini timbul setelah berhubungan.
  • Tanda lainnya yang biasanya terjadi adalah pendarahan tak normal. Uniknya, pendarahan ini terjadi setelah berhubungan seperti baru pertama kali melakukannya. Tanda ini perlu Anda curigai karena akan berulang . Segera konsultasikan dengan dokter.
  • Selain terjadi pendarahan pada vagina, wanita yang mengalami klamidia juga akan mengalami pendarahan pada bagian rektal atau dubur. Namun kondisi ini biasanya dengan timbulnya rasa sakit atau nyeri.
  • Jika Anda mengalami menstruasi lebih berat dari biasanya sebaiknya Anda waspadai karena bisa merupakan gejala penyakit klamidia. Jika haid umumnya berlangsung 5-7 hari, tanda ini bisa lebih lama dengan volume darah haid lebih banyak.
  • Wanita yang mengalami klamidia juga akan merasakan sakit pada bagian bawah perut. Rasa sakit ini akan semakin terasa berat saat haid. Tak jarang sakitnya sangat menyiksa sehingga Anda harus segera ke dokter.
  • Penyakit klamidia juga bisa menyerang bagian mata. Wanita yang mengalami infeksi ini akan timbul bengkak dan iritasi pada mata. Selain terasa sakit, kadang mata juga akan mengeluarkan cairan yang bukan air mata.

Faktor Penyebab Penyakit Klamidia

Deteksi dini dengan berbagai gejala penyakit klamidia sangat penting. Selain untuk mendapatkan penanganan yang cepat, pengobatan yang segera juga penting untuk mencegah komplikasinya yang lebih parah.

Anda juga perlu mengenal berbagai faktor yang bisa menyebabkan infeksi PMS ini. Berikut ini berbagai penyebab penyakit klamidia yang wajib Anda tahu.

Baca Juga: Gejala Penyakit Ataksia, Penyebab, dan Jenisnya yang Wajib Anda Tahu

Infeksi Bakteri

Seperti telah dijelaskan bahwa penyebab penyakit klamidia karena infeksi bakteri. Bakteri yang menyebabkannya adalah Chlamydia trachomatis yang masuk dalam genus Chlamydia dan famili Chlamydiaceae. Bakteri C. trachomatis pertama teridentifikasi pada tahun 1907.

Bahkan menurut Wikipedia, gejala penyakit klamidia umumnya tidak terlihat atau dapat kita kenali. Akibatnya, pengobatannya kebanyakan terjadi terlambat setelah kondisi penderita yang kronis.

Sering Berganti Pasangan

Faktor lainya yang meningkatkan penularan bakteri ini adalah karena sering berganti pasangan. Bahkan bakteri penyebab penyakit klamidia ini akan semakin mudah menular pada orang yang melakukan hubungan intim dengan beberapa orang.

Pada sejumlah kasus, penderita tanpa gejala yang terbiasa berganti pasangan ini akan tetap terbawa saat menikah. Kondisi inilah yang meningkatkan risiko terjadinya kelainan saat kehamilan hingga menyebabkan terjadinya keguguran.

Orang dengan Riwayat PMS

Orang yang pernah mengalami atau menderita penyakit menular seksual (PMS) juga berpotensi menularkannya kepada pasangannya. PMS bisa terjadi dari pengalaman sebelum menikah yang sering jajan ke tempat lokalisasi.

Karena itu sangat penting sebelum melaksanakan pernikahan kedua pasangan melakukan pemeriksaan terhadap kesehatannya. Konsultasikan dengan dokter jika Anda atau pasangan memang memiliki riwayat penyakit PMS.

Aktivitas Seksual Saat Remaja

Usia remaja atau kurang umurnya dari 18 tahun yang telah melakukan hubungan seksual secara aktif juga berisiko terkena penyakit ini. Karena itu sangat penting memberikan pemahaman tentang risiko berhubungan badan saat remaja.

Bahaya Penyakit Klamidia

Mengenal penyebab maupun gejala penyakit klamidia sangat penting untuk mencegah risiko dan dampaknya. Apalagi penyakit ini lebih besar risiko terjadi pada wanita.

Bahkan menurut perkiraan WHO, sekitar 4 juta kasus baru pada ibu-ibu yang menderita penyakit infeksi bakteri ini. Yang berbahaya, penyakit ini juga bisa menyebabkan terjadinya gangguan pada ibu yang sedang hamil.

Masih menurut catatan WHO, terdapat 50 ribu kasus klamidia yang mengalami kehamilan ektopik, infertilitas, hingga abortus atau keguguran. Nah, berikut ini beberapa bahaya penyakit klamidia yang wajib Anda tahu.

Infertilitas

Ketidaksuburan atau kemandulan juga bisa terjadi karena penyakit klamidia. Namun wanita lebih besar risiko mengalaminya ketimbang pria. Akibatnya banyak kasus wanita yang mengalami sulit hamil akibat bakteri ini.

Cervicitis

Penyakit infeksi klamidia juga bisa menyebabkan gangguan serviks yang populer dengan sebutan cervicitis. Serviks atau leher rahim mengalami peradangan. Karena itu gejala penyakit klamidia juga berupa rasa sakit pada bawah perut.

Cystitis

Infeksi bakteri klamidia juga bisa menyebabkan komplikasi seperti terjadinya cystitis. Cystitis merupakan kondisi terjadinya peradangan pada bagian kandung kemih yang menyebabkan kencing terasa sakit dan panas.

Prostatitis

Bahaya lain akibat infeksi klamidia adalah terjadinya prostatitis. Gangguan ini berupa kelenjar prostat yang mengalami radang dan pembengkakan sehingga membutuhkan penanganan medis.

Bahaya Klamidia Lainnya

Dampak lainnya akibat infeksi klamidia masih banyak. Seperti terjadinya peradangan tuba fallopi yang membuat kemandulan wanita (salpingitis), radang saluran uretra (uretritis), pembengkakan bartholin (bartholinitis) yang menyebabkan sakit saat berhubungan intim dan memicu kista.

Infeksi Klamidia juga bisa menyebabkan peradangan sendi (reactive arthritis), radang sistem reproduksi pria yang bisa menyebabkan mandul (epididimitis), dan radang panggul (pelvic inflammatory disease).

Cara Mengobati Penyakit Klamidia

Penyakit klamidia bukan termasuk gangguan yang berbahaya. Penyakit ini bisa sembuh dengan pengobatan yang cepat sejak dini. Inilah pentingnya mengenal gejala penyakit klamidia sejak dini.

Langkah terbaik cara mengobati penyakit klamidia adalah segera memeriksakan ke dokter begitu mengetahui adanya tanda yang muncul. Sayangnya, banyak kasus penyakit klamidia tanpa gejala sehingga sulit terdeteksi.

Berikut ini beberapa langkah pencegahan maupun cara mengatasi dan mengobati penyakit klamidia yang bisa Anda lakukan.

Mengonsumsi Obat Antibiotik

Setelah memeriksakan ke dokter biasanya Anda akan menerima beberapa jenis obat antibiotik untuk meredakan gejala yang ada. Sampaikan saja berbagai gejala yang Anda rasakan kepada dokter.

Menjauhi Gaya Hidup Bebas

Anda yang senang menjalani gaya hidup bebas sebaiknya berpikir dengan jernih terlebih dahulu sebelum melakukannya. Sudah banyak kasus PMS akibat pergaulan bebas maupun karena sering jajan ke lokalisasi.

Norma agama maupun sosial sebenarnya telah membuat batasan yang perlu kita jaga. Termasuk dalam menjalankan aktivitas seksual secara syah setelah menikah. Begitu juga kesetiaan pada satu pasangan bisa mencegah terjadinya infeksi ini.

Demikianlah berbagai gejala penyakit klamidia yang bisa menjadi deteksi dini untuk penanganan yang cepat. Ada banyak bahaya akibat infeksi bakteri ini, utamanya gangguan terhadap kehamilan dan kehidupan suami istri. (R11/HR Online)

Editor: Jujang