Lembaga Keuangan Syariah, Prinsip, Konsep dan Mekanismenya

lembaga keuangan syariah
Yuk mengenal lembaga keuangan syariah. Foto: Ist/Net

Keberadaan lembaga keuangan syariah saat ini semakin mendapat tempat dalam masyarakat kita. Ada sejumlah prinsip dalam pengelolaan keuangan syariah yang menjadi ukuran sehingga tidak menjadi riba.

Kehadiran lembaga yang mengelola keuangan masyarakat dengan prinsip syariat merupakan solusi terbaik bagi masyarakat kita yang beragama Islam. Kaum muslim tentunya membutuhkan layanan keuangan yang terlepas dari sistem riba.

Setiap muslim memahami terhadap bahaya riba dan kewajiban untuk menjauhinya. Bahkan dalam sebuah hadist disebutkan bahwa ada dosa dari pelaku riba ataupun orang yang mendapatkan keuntungan dari hasil riba.

Karena itulah lembaga syariah semacam ini bisa menjadi alternatif selain model perbankan modern yang menerapkan riba. Selain akan membuat kaum muslim merasa aman dan tenang menyimpan uangnya, pemerintah juga bisa mengoptimalkan dana masyarakat.

Keberadaan lembaga keuangan syariah di Indonesia terdiri dari 2 bentuk, yaitu lembaga bank dan non bank. Untuk jenis bank tentu saja menggunakan konsep bank syariah seperti yang sudah banyak berdiri saat ini.

Sedangkan untuk lembaga non bank bentuknya cukup banyak. Antara lain pegadaian, asuransi, pasar modal, reksa dana, BPRS, dan BMT. Tentunya konsep yang mereka gunakan juga berdasarkan konsep syariah dalam Islam.

Baca Juga: Lembaga Keuangan Bukan Bank, Pengertian dan Jenis-Jenisnya

Prinsip dan Konsep Lembaga Keuangan Syariah

Setiap lembaga keuangan tentunya memiliki sistem dan mekanisme khusus sebagai pembeda antara satu dengan yang lainnya. Pada lembaga keuangan berbasis syariah tidak mengenal istilah ‘bunga’ baik dalam pembiayaan maupun penghimpunan dana.

Sebab dalam Islam, penggunaan ‘bunga’ baik berupa suku bunga tinggi maupun rendah tetap masuk dalam istilah riba yang terlarang.

Berbeda dengan perbankan modern, sistem operasional pada lembaga ini tentu saja berdasarkan syariah.  Berikut ini sejumlah prinsip-prinsip dasar dalam lembaga keuangan syariah yang sebaiknya kita tahu.

Prinsip Keadilan

Setiap lembaga keuangan yang berbasis syariah akan selalu mengedepankan keadilan dalam setiap layanannya. Konsep tersebut mereka jalankan berdasarkan prinsip saling berbagi untung sesuai dasar penjualan riil yang ada.

Dalam pembagian keuntungan ini akan memperhitungkan berdasarkan kontribusi dari masing-masing pihak. Termasuk juga dari tingkat risiko yang ada dan akan mereka hadapi.

Prinsip Kemitraan

Sebagai mitra, lembaga keuangan syariah akan melakukan penyimpanan dana nasabah dan pengguna dana. Lembaga keuangan berkedudukan sejajar dengan mitra usaha.

Dalam hubungan ini kedua belah pihak akan saling bersinergi dan saling bekerja sama. Tujuannya tentunya untuk sama-sama memperoleh keuntungan yang setara dan sesuai dengan kontribusi dan risiko yang ada.

Prinsip Transparansi

Prinsip transparansi juga senantiasa menjadi prinsip setiap lembaga keuangan yang berdasarkan syari Islam. Oleh karena itu lembaga tersebut akan selalu memberikan laporan keuangan secara terbuka dan berkesinambungan.

Hal ini bertujuan tentu saja agar para nasabah penyimpan dana (investor) merasa aman dan nyaman. Nasabah akan selalu bisa memantau dan mengetahui langsung kondisi dana yang mereka investasikan.

Baca Juga: Materi Akuntansi Keuangan yang Wajib Dipahami Pelaku Usaha

Prinsip Universal

Lembaga keuangan syariah juga tidak membeda-bedakan asal nasabahnya. Baik dari agama, ras, suku dan golongan dalam masyarakat saat memberikan layanannya. Hal ini berangkat dari keyakinan bahwa Islam merupakan rahmat bagi alam semesta.

Oleh karena itu lembaga moneter yang berbasis syariah tetap melayani nasabah dengan berbagai latar belakang agama, suku, dan ras. Yang penting nasabah bersedia dan mau menerima sistem syariah yang berlaku dalam setiap transaksinya.

Cara Membedakan Lembaga Keuangan Syariah dan Non Syariah

Tidak sulit untuk membedakan antara lembaga keuangan syariah dengan yang bukan. Hal ini karena terdapat perbedaan yang cukup besar antara keduanya.

Khusus untuk lembaga syariah, sistem yang mereka gunakan berdasarkan sistem kemitraan, bukan sekedar hubungan antara kreditur dan debitur.

Oleh karena itu, bisnis dalam lembaga syariah tidak sekedar khusus atau terpusat untuk pencapaian profit atau keuntungan semata. Namun lembaga ini juga akan mengutamakan falah oriented.

Maksud dari falah oriented adalah kemakmuran yang kita peroleh dalam kehidupan dunia dan kebahagiaan akhirat.

Oleh karena itu, konsep yang berlaku pada transaksi lembaga yang berbasis syariat agama berdasarkan prinsip kemitraan. Baik dalam sistem bagi hasil dan jual beli, pinjam meminjam (qardh atau kredit), dan sebagainya.

Itulah sejumlah konsep dan mekanisme lembaga keuangan syariah yang sebaiknya kita tahu. Semoga informasi ini meningkatkan pengetahuan yang bermanfaat terkait lembaga yang berbasis syariat Islam yang banyak bermunculan saat ini. (R11/HR Online)

Editor: Jujang