Pasien Positif yang Isoman di Banjar Alami Trauma, Tak Nyenyak Tidur

Pasien positif yang isoman (isolasi mandiri) di Kota Banjar, Jawa Barat, diduga mengalami trauma virus Corona hingga tak bisa tidur nyenyak. Foto: Muhlisin/HR.
Pasien positif yang isoman (isolasi mandiri) di Kota Banjar, Jawa Barat, diduga mengalami trauma virus Corona hingga tak bisa tidur nyenyak. Foto: Muhlisin/HR.

Berita Banjar (harapanrakyat.com),- Pasien positif isoman (isolasi mandiri) di Kota Banjar, Jawa Barat, diduga mengalami trauma virus Corona hingga tak bisa tidur nyenyak.

Seorang pasien positif Covid-19 yang tengah menjalani isolasi mandiri dan mengalami trauma itu merupakan warga Lingkungan Siluman Baru, Kelurahan/Kecamatan Purwaharja, Kota Banjar.

Aam Amijaya, Ketua RW lingkungan setempat yang ikut terdampak lockdown wilayah, menyampaikan hasil pemantauannya. Bahwa terdapat satu orang warga yang diduga mengalami trauma (phobia) dengan virus Corona.

Bahkan, saking traumanya pasien positif yang isoman tersebut sampai-sampai merasa semua barang yang ada dalam rumahnya seakan telah terpapar virus Corona.

Hal tu membuat pasien positif Covid-19 merasa khawatir dan ketakutan, sehingga waktu istirahatnya menjadi terganggu karena tidak bisa tidur nyenyak akibat phobianya itu.

Baca juga : Warga Ciamis Utara Minta Isoman Bagi Pemudik dari Zona Merah

“Semua barang yang ada dalam rumahnya ia anggap sudah seperti ada virusnya. Sampai makanan dan alat yang ia gunakan seperti tempat tidur, selalu disemprot,” ujar Aam, kepada HR Online, Rabu (19/01/21).

Lanjut Aam, pihaknya menduga warga yang mengalami trauma tersebut selain karena faktor sendirian saat menjalani isolasi mandiri. Juga karena kedua orang tuanya sama-sama terpapar, namun keduanya menjalani perawatan medis di Rumah Sakit.

Pihaknya pun mengaku khawatir dengan kondisi psikologis salah seorang warganya tersebut akan berdampak buruk pada imunitas dan kesehatan pasien itu sendiri. Sehingga dapat menghambat proses penyembuhan selama pasien tersebut menjalani isolasi mandiri.

“Memang banyak yang positif, tapi kan penerimaan setiap orang berbeda-beda. Kemungkinan karena tidak ada teman yang bisa ia ajak berkomunikasi dan konsultasi. Jadi pasien merasa tertekan,” kata Aam.

Pasien Perlu Pendampingan Petugas

Pihaknya pun berharap pasien yang mengalami hal demikian sebaiknya mendapatkan pendampingan dan edukasi khusus dari petugas. Bahkan, kalau bisa perawatannya di rumah sakit yang fasilitasnya lebih steril.

Karena memang ada juga beberapa warga yang terkendala fasilitas di rumahnya. Kemudian, kurang memenuhi sebagai tempat isolasi. Seperti keterbatasan kamar mandi yang menjadi satu dengan tempat pasien.

“Sejauh ini petugas medis memang melakukan pendampingan. Tapi kalau bisa untuk pasien yang riskan seperti itu ada baiknya di rumah sakit. Soalnya warga kan tidak bisa banyak membantu karena ia positif,” tandas Aam. (Muhlisin/R3/HR-Online)

Editor : Eva Latifah