Salju di Luar Angkasa, Benarkah Terjadi Seperti di Bumi? Simak Faktanya!

Salju di Luar Angkasa
Ilustrasi Salju di Luar Angkasa. Foto: sciencealert.com

Salju di luar angkasa sepertinya terdengar cukup masuk akal dan bisa juga terjadi. Setidaknya terdapat sejumlah ilmuwan yang meyakini hal tersebut.

Seperti yang terjadi pada planet Mars yang mana mengalami beberapa kali hujan salju. Para ilmuwan mengamati hal ini dan mendapatkan suhu rata-rata saat planet Merah tersebut memproduksi salju sekitar minus 60 derajat Celcius.

Salju di Luar Angkasa

Salah satu hal yang dapat menentukan bagaimana bisa sebuah planet dapat menjadi hunian makhluk hidup adalah berdasarkan dengan bagaimana cuaca yang ada pada planet tersebut. Tidak terdapat cuaca yang terlalu panas atau terlalu dingin, bahkan terlalu ekstrim.

Akan sangat sulit dalam mencari planet yang dapat memenuhi kriteria tersebut. Hal itu karena luar angkasa mempunyai cuaca yang ekstrim dan sangat berbeda dengan apa yang telah kita alami. Salah satunya adalah turunnya salju.

Bumi memang telah memiliki sebagian wilayah yang terselimuti salju pada musim dingin. Namun, bagaimana dengan planet yang ada dalam tata surya kita?

Baca Juga: Benda Terbesar Luar Angkasa yang Menakjubkan, Ini Daftarnya

Salju Planet Mars

Melansir Live Science, para ilmuwan tengah mengamati hujan salju di luar angkasa yang ada pada planet Mars. Salah satu contoh studi terbaik mereka tersebut terjadi berulang kali dengan suhu yang sangat ekstrim. Hal ini dengan temperatur minus 80 derajat Fahrenheit atau sekitar minus 60 derajat Celcius.

Dengan demikian, planet tersebut memiliki musim dingin yang bisa menghasilkan salju. Sementara itu, pada tahun 2008, terdapat pendarat dari Phenix NASA yang menangkap salju cair. Seperti yang pernah kita alami pada permukaan Bumi, telah jatuh dekat dengan kutub utara planet Mars.

Sedangkan, pada bagian kutub selatan, Mars mempunyai lapisan dari CO2 yang beku atau dapat kita sebut dengan lapisan es kering sepanjang tahun.

Selanjutnya, pada tahun 2012, terdapat peneliti yang menyaksikan salju es kering yang terjatuh pada area sekitar kutub selatan dari atmosfer planet Mars untuk pertama terjadi.

Walaupun awan yang menghasilkan salju selalu meneliti planet Mars, akan tetapi salju di luar angkasa memang jarang turun pada planet tersebut. Hal tersebut karena Mars mempunyai atmosfer yang mana 100 kali lebih tipis daripada planet kita.

Dengan demikian, air yang terjatuh akan lebih lambat serta akan langsung menguap sebelum akhirnya menyentuh permukaan tanah. Sementara di Bumi, peristiwa tersebut dapat kita kenal dengan sebutan Virga.

Terdapat studi yang ada dalam Nature Geoscience tahun 2017 silam, yang mengungkap jika pada kondisi tepat, salju dapat jatuh pada planet Mars.

Hal tersebut karena suhu pada planet Merah dapat mengalami penurunan sampai 111 derajat Celcius antara malam dan juga siang. Dengan kejadian tersebut, maka akan mengakibatkan guncangan pada awan yang cukup sering terjadi dan menghasilkan salju di luar angkasa.

“Ini dapat mengakibatkan angin yang kencang, yakni kumpulan asap vertikal yang naik ke atas dan ke bawah dalam awan kira-kira sekitar 10 meter setiap detiknya,” ucap Aymerich Spiga, salah seorang peneliti planet Universitas Pierre dan Marie Curie Paris, Prancis.

Baca Juga: Suara Seram dari Luar Angkasa, Spesial dari NASA untuk Halloween 2020

Salju Planet Jupiter dan Bulan Saturnus

Tak hanya salju di luar angkasa turun pada planet Mars. Pada tahun 2017 silam juga terdapat awan yang menghasilkan salju pada planet Jupiter.

Dari awan tersebut bisa membuat jatuhnya campuran es, dari amonia dan air. Yang mana sering kita sebut sebagai hujan es atau salju jika jatuh pada permukaan planet.

Sedangkan, pada bulan Saturnus (Enceladus), pun bisa menjadi lokasi dari turunnya salju. Kemudian, satelit Cassini juga melaporkan mengenai adanya partikel es yang keluar bersama dengan air mancur yang panas (geyser). Geyser tersebut jatuh pada permukaan Enceladus serta membentuk lereng yang terbuat dari kristal es.

Kristal salju pada bulan Saturnus tersebut jatuh dengan cara lebih lambat daripada yang terjadi di Bumi, yaitu dengan kecepatan kurang dari 1/1000 milimeter setiap tahunnya. Sehingga, untuk mendapatkan ketinggian 100 meter akan perlu waktu sekitar puluhan juta tahun.

Sementara itu, untuk tempat lain yang berada dalam tata surya, yakni ada eksoplanet Kepler-13Ab juga terjadi peristiwa turunnya salju di luar angkasa dari material titanium dioksida. Hal ini merupakan salah satu bahan aktif yang biasa untuk pembuatan tabir surya. (R10/HR Online)

Editor: Jujang