Sejarah Perang Pattimura, Perjuangan Rakyat Maluku Melawan Penjajah

Sejarah Perang Pattimura
Ilustrasi sejarah perang Pattimura. Foto: Wikipedia

Sejarah perang pattimura berawal pada tahun 1817 di daerah Maluku. Perang Pattimura sendiri adalah perlawanan rakyat terhadap penjajahan belanda.

Pada masa itu Belanda atau juga bernama pemerintahan Nederland baru saja mendapatkan kembali kedudukannya di Maluku setelah sebelumnya berada di tangan kekuasaan Inggris.

Perpindahan kekuasaan tersebut berawal dari kesepakatan kedua negara pada traktat London (Rusdiat & Sulaiman T.S., Api nan tak Kunjung Padam, 1983:3).

Isi kesepakataannya adalah Inggris harus mengembalikan wilayah Nusantara yang sebelumnya merupakan hak Belanda, wilayah tersebut salah satunya adalah Maluku.

Namun, keindahan dan kekayaan Maluku tak lagi seindah dalam bayangan mereka saat mendapatkan tahta kembali. Perlawanan rakyat di sana membuat bayangannya itu kabur.

Pattimura memimpin Gerakan perlawanan tersebut sampai-sampai membuat tahun 1817 menjadi tahun yang sangat menyebalkan bagi belanda.

Salah satu benteng utama yang bernama Duurstede berhasil masyarakat kuasai melalui pertempuran sengit dan berhasil membuat pihak lawan mengalami kerugian.

Di sinilah bagian utama perjuangan rakyat Maluku melawan penjajah, walaupun tidak bertahan lama dan akhirnya jatuh kembali.

baca juga: Sejarah Bola Basket di Dunia dan Perkembangannya

Kilas Sejarah Perang Pattimura dan Kronologinya

Adanya perlawanan tentu tidak semerta-merta terjadi tanpa ada penyebabnya. Sebuah kejadian besar perpindahan kekuasaan di daerah tersebut kenyataannya telah menciptakan tekanan besar.

Kembalinya tahta di tangan Belanda tidak hanya urusan politik kekuasaan, kebijakan ekonomi berupa monopoli rempah-rempah membuat rakyat di sana geram.

Tambah lagi, aturan tentang hak bagi pemerintah untuk memusnahkan pala dan cengkih yang tidak mengikuti aturan monopoli semakin memperburuk ekonomi.

Selain itu, kebijakan lainnya seperti kerja wajib, pajak terhadap pemerintah belanda, uang kertas pengganti logam pribumi yang menimbulkan kebingungan.

Terakhir, pribumi Maluku banyak yang harus mengikuti dan menjadi serdadu atau tentara belanda tanpa sesuai keinginan.

Semua itu adalah alasan yang sangat kuat untuk rakyat Maluku melakukan perlawanan secara besar-besaran.

Tepat pada tanggal 15 Mei 1817 perang bermula dengan sebuah serangan malam terhadap Pos Perahu yang berada di Pelabuhan Porto.

Perahu-perahu milik pemerintahan yang baru 2 tahun berkuasa itu habis terbakar dan menciptakan kerugian besar karena jelas akan menghambat perdaganan dan berbagai keperluan laut lainnya.

Sejarah perang pattimura tidak hanya berhenti pada serangan besar itu, keesokan harinya mereka mengepung Benteng Duurstede dan melakukan serangan besar-besaran kembali.

Salah satu benteng utama itupun berhasil takluk dan berhasil masyarakat kuasai dengan terbunuhnya seorang Residen bernama Van Den Berg beserta perwira-perwira penting lainnya.

Semua perlawanan tersebut berada di bawah pimpinan Pattimura atau terkenal dengan nama Kapitan Patimura oleh karena itu perang besar tersebut bernama perang Pattimura.

Serangan Balik Belanda

Melihat perlawanan dan pengaruhnya yang sangat besar terhadap kekuasaan belanda dari serangan pasukan Kapitan Pattimura dan rakyat Maluku membuat mereka tidak bisa diam.

Tidak berselang lama pada tanggal 20 Mei 1817, Belanda mengirimkan pasukan dengan persenjataan lengkap untuk malakukan penumpasan.

Pasukan penjajah dengan pimpinan Mayor Beetjess akhirnya  melakukan Pertempuran besar-besaran di daerah Saparua.

Perlawanan yang rakyat berikan juga sangat besar hingga membuat pasukan penjajah itu kewalahan dan mengalami kekalahan.

Mayor Beetjess sebagai pemimpinnya mati tertembak dan pasukan Pattimura menumpas habis serdadu-serdadu yang tersisa di sana.

Sejarah perang Pattimura masih berlanjut dengan semangat yang semakin berkobar dan perlawanan yang semakin besar.

Sampai pada akhirnya Nedderland meminta bantuan tambahan pasukan dari Ambon untuk membendung serangan rakyat Maluku.

Tentara bantuan Ambon tersebut berada di bawah pimpinan Kapten Lisnet & Mayer, mereka berhasil sampai pada November 1817.

Pada bulan itu juga tentara dari Ambon tersebut melakukan serangan balik terhadap pertahanan inti Pasukan Pattimura dan Benteng Duurstede.

Karena terdesak, akhirnya Benteng Duurstede kembali jatuh beserta banyak daerah-daerah lainnya ikut jatuh dalam waktu yang tidak lama.

Kekalahan Dari Pengkhianatan

Kekalahan rakyat Maluku tidak semata-mata berawal dari datangnya tentara tambahan yang berasal dari Ambon.

Salah satu penyebab paling utama adalah adanya pengkhianatan dari tubuh sendiri, seperti terdapat pada buku Pattimura-Pattimura Muda Bangkit Memenuhi Tuntutan Sejarah.

Dalam buku karya David Mattulessy (1979) tersebut disebutkan kalau belanda melakukan politik pecah-belah atau bernama Devie et Impera dan seperti mengakhiri sejarah perang pattimura.

Tokoh-tokoh rakyat yang tidak menyukai Pattimura berhasil terpengaruh dan terpecah belah, tokoh tersebut antara lain Pati Akoon dan Dominggus Thomas Tuwanakotta.

baca juga: Sejarah Resolusi Jihad, Peran Ulama Pesantren Berperang Lawan Penjajah

Akibatnya strategi pasukan Pattimura beserta rakyat maluku bocor senhingga membuat belanda satu Langkah lebih dulu dalam penyerangan yang memebuat masyarakat Maluku terdesak itu.

Selain strategi yang bocor ke tangan Belanda, informasi dari tokoh-tokoh yang terpengaruh itu akhirnya membuat Pattimura tertangkap di Siri Sori, Maluku Tengah pada 11 November 1817.

Akhirnya pada 16 Desember 1817 Pattimura mendapat hukuman mati dengan cara digantung karena tidak mau menerima tawaran Kerjasama sama sekali sekaligus mengakhiri perjuangannya.

Sejarah perang pattimura merupakan salah satu kisah perjuangan masyarakat Indonesia yang tidak bisa kita lupakan, oleh karenanya beliau merupakan salah-satu pahlawan Nasional yang perlu kita ingat sejarahnya. (Muhafid/R6/HR-Online)

Editor: Muhafid