SMK Bakti Karya Kelas Multikultural Pangandaran Perlu Dukungan Pemda

SMK Bakti Karya Multikultural Pangandaran
Silaturahmi dan Diskusi Budaya di SMK Bakti Karya kelas Multikultural, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat. Foto: Madlani/HR

Berita Pangandaran, (harapanrakyat.com),- Encep Najmudin, salah seorang anggota DPRD Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, mengatakan, Pemkab harus mendukung dan memajukan SMK Bakti Karya kelas multikultural, Kecamatan Parigi. Hal ini lantaran sekolah tersebut telah membawa nama baik Pangandaran ke tingkat nasional bahkan internasional.

Encep menyoroti keberadaan komunitas belajar ‘Sabalad’ yang menggagas SMK Bakti Karya. Komunitas tersebut bisa menyatukan berbagai perbedaan latar belakang dan kebudayaan.

“Komunitas belajar yang ada di masyarakat ini bisa konsisten menjaga kultur kebersamaan dari berbagai perbedaan,” kata Encep, saat menghadiri silaturahmi dan diskusi budaya yang digelar Komunitas Sabalad, Senin (25/1/2021).

Encep mengatakan, Kabupaten Pangandaran merupakan suatu Kawasan Strategis Provinsi (KSP) dan juga Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN). Karena itu mendapat dukungan dari Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Pusat dalam pembangunan sosial kemasyarakatan dan infrastruktur di Pangandaran.

“Sejalan dengan itu, pemerintah daerah seharusnya merasa terbantu oleh komunitas di masyarakat. Terutama komunitas yang bisa mengangkat daerahnya sebagai penyangga kemajuan ilmu pengetahuan dan kebudayaan kedepannya,” ungkapnya.

Menurut Encep, keberagaman budaya yang bukan hanya suku Sunda. Namun ada lebih dari 24 suku yang akan menjadi keunikan tersendiri, belajar bersama membangun kebhinekaan.

“Pengalaman adalah ilmu yang didapat langsung dari kebiasaan bergaul, maka kekuatan tetap ada di masyarakat. Pemerintah hanya menjadi fasilitator dan penghubung. Maka dari itu saya berharap Pemda bisa memanfaatkan dengan cara mendorong serta mensupport kemajuan SMK Bakti Karya kelas Multikultural,” tandasnya.

SMK Bakti Karya Kelas Multikultural Pangandaran Jaga Keberagaman

Sementara salah seorang kandidat doktor ilmu politik UGM yang sedang melakukan riset disertasi di Kelas Multikultural SMK Bakti Karya, Asep Mulyana, mengatakan, Kelas Multikultural SMK Bakti Karya hadir sejak tahun 2016. Sekolah telah memberi ruang dan apresiasi bagi keberagaman Indonesia. 

“Dengan menghimpun dana publik, donasi individu, kontribusi swasta, dan dukungan pemerintah melalui BOS, pengelola SMK Bakti Karya kelas Multikultural ini bisa mengundang para siswa. Siswa datang dari berbagai daerah di Indonesia untuk belajar multimedia, sekaligus berinteraksi dalam ekosistem multikultural,” ujar pria yang akrab dengan panggilan Bah Asmul.

Masih dikatakan Bah Asmul, SMK Bakti Karya kelas Multikultural ini memberikan beasiswa penuh yang mencakup tiket pesawat, asrama, makan-minum, seragam sekolah sampai mereka lulus.

“Para pengelola SMK Bakti Karya kelas Multikultural memiliki misi untuk mencetak siswa yang bijak dalam berteknologi. Selain itu, mereka juga bercita-cita untuk membentuk siswa yang toleran dan damai di tengah keragaman,” ungkapnya. 

Lebih lanjut Bah Asmul mengatakan, SMK Bakti Karya adalah sekolah kecil dengan gagasan besar. Karena itu, ia mengaku bangga. Terutama karena inisiatif pendirian sekolah ini justru datang dari anak-anak muda kampung di Pangandaran yang berusia di bawah 30 tahun. 

Mereka yang tergabung dalam Komunitas Belajar Sabalad mengeksekusi gagasan itu dengan cara-cara yang orisinil. Padahal hal tersebut dilakukan di tengah sejumlah keterbatasan yang mereka hadapi. 

“Lima tahun bukan waktu yang pendek. Pertarungan dan perebutan makna multikultural, teknologi informasi, Seni Budaya dan risiko lain yang mereka hadapi merupakan sumber pengetahuan yang mewah,” ungkapnya.

Menurut Bah Asmul, kiprah anak-anak muda Pangandaran yang melampaui ekspektasi ini juga bisa jadi inspirasi berharga bagi anak-anak milenial lainnya. Terutama mereka yang tergerak untuk mengurus bangsa yang masih berproses menjadi Indonesia.

“Semoga dengan jiwa muda yang penuh dengan kobaran semangat untuk membangun daerah melalui keberagaman agama, adat istiadat, dan suku bangsa sebagai miniatur Indonesia bisa tercapai. Paling penting tentunya dengan dukungan dari pemerintah daerah,” pungkasnya. (Madlani/R7/HR-Online)

Editor: Ndu