Umur Alam Semesta, Ilmuwan Ungkap Sekitar 13,77 Miliar Tahun

Umur Alam Semesta
Ilustrasi Umur Alam Semesta. Foto: newatlas.com

Umur alam semesta menjadi salah satu hal yang para ahli astrofisika perdebatkan selama beberapa dekade. Dalam beberapa tahun ini, terjadi pengukuran secara ilmiah baru yang mana telah menunjukkan tentang alam semesta. Hal tersebut kemungkinan besar memiliki usia lebih muda ratusan juta tahun, yakni 13,8 miliar tahun.

Riset ini mereka hasilkan dari analisa sumber cahaya yang paling tua dari data ACT (Atacama Cosmology Telescope) kepunyaan Chilean National Science Foundation. Kemudian, hasil penelitian yang terbaru tersebut ada dalam jurnal yang telah terbit yakni Journal Of Cosmology and Astroparticle Physics.

Umur Alam Semesta

Melansir Wikipedia, usia dari alam semesta merupakan waktu yang terhitung dari terjadinya ledakan dahsyat. Umurnya telah diperkirakan sekitar 13,75 +/- 0,11 miliar tahun. Angka yang tidak pasti dari 0,11 miliar adalah kesepakatan para ahli dan peneliti selama beberapa proyek.

Seperti pengukuran dari radiasi latar belakang untuk gelombang mikro kosmis. Pengukuran yang mereka lakukan memberikan waktu pendinginan untuk alam semesta seusai kejadian ledakan yang dahsyat. Kemudahan, pengukuran dari pergeseran merah alam bisa dipakai sebagai penghitung dari umur tersebut.

Saat ini terdapat penelitian yang baru oleh para ahli astrofisika internasional dan terbit dalam jurnal, termasuk Neelima Sehgal, PhD dari Universitas Stony Brook. Ia menjelaskan pengukuran jika alam semesta memiliki usia sekitar 13,77 miliar tahun.

Baca Juga: Black Dwarf Supernova Menyilaukan Tanda Kehancuran Alam Semesta

Pengamatan Melalui Satelit Planck

Penentuan umur alam semesta yakni dengan memakai pengamatan Teleskop Kosmologi Atacama (ACT) Chili, yang mereka temukan sesuai dengan pengukuran data satelit Planck melalui cahaya paling tua yang sama. Tim tersebut adalah kolaborasi dari para ilmuwan internasional dalam 41 institusi 7 negara.

Tim Stony Brook yang dipimpin oleh Profesor Sehgal tersebut berperan penting dalam analisa gelombang mikro kosmik atau CMB, yakni cahaya pijar Big Bang.

Hasil dari studi paling baru ini seiring dengan hasil temuan satelit Planck yang mana menunjukkan para astronom yang akhirnya sepakat dengan usia dari alam semesta.

“Sekarang kita mempunyai jawaban yang mana Planck serta ACT telah setuju” ucap Simone Aiola, peneliti Center for Computational Astrophysics, Flatiron Institute.

“Ini pun menunjukkan jika fakta pengukuran sulit dapat kita andalkan,” lanjutnya.

Jawaban tersebut muncul saat tengah-tengah perdebatan para ilmuwan mengenai umur alam semesta yang mana sebagian besar masih belum terungkap.

Terdapat satu teori mengenai ‘Bintang Methusela’ yang usianya sekitar 16 miliar. Hal tersebut mematahkan jika kepercayaan ilmuwan tentang Big Bang terjadi pada 12 serta 14 miliar tahun silam.

Lalu, pada tahun 2013, para ilmuwan telah melakukan revisi dari umur binatang tersebut menjadi 14,5 miliar tahun. Hal tersebut berdasarkan data terbaru yang mana membuat usianya kurang lebih sama dengan usia alam semesta.

Kemudian, pada Juli 2020 lalu, para ilmuwan menerbitkan artikel pada jurnal astronomi yang telah mengindikasi dari umur alam semesta yakni sekitar 12,6 miliar tahun. Tentu saja itu adalah umur yang jauh lebih muda dari yang mereka perkirakan.

Baca Juga: Bukti Adanya Alam Semesta Kembar Dimana Waktu Berjalan Mundur

Pengukuran Gerakan Galaksi

Pada 2019, terdapat tim peneliti yang juga mengukur dari pergerakan galaksi. Mereka menghitung jika alam semesta mempunyai usia ratusan juta tahun lebih muda daripada perkiraan tim Planck.

Dari perbedaan tersebut telah menunjukkan jika model baru yang ada dalam alam semesta kemungkinan perlu serta memicu rasa khawatir, yakni jika salah satu model pengukuran mungkin saja bisa salah.

Lalu, umur alam semesta ini juga mengungkap tentang seberapa cepat cosmos dapat mengambang. Angka yang telah dikuantifikasi oleh konstanta Hubble. Selanjutnya, pengukuran ACT menunjukkan jika konstanta tersebut 67,6 kilometer tiap detiknya per megaparsec.

Itu mengandung arti jika sebuah objek 1 megaparsec sekitar 3,26 juta tahun cahaya dari Bumi bergerak menjauhi kita. Gerakan tersebut terjadi dengan kecepatan 67,6 kilometer per second, sebab ada perluasan alam semesta.

Temuan ini pun hampir sama dengan sebelumnya oleh tim Planck. Akan tetapi, melaju lebih lambat sekitar 74 kilometer setiap detiknya per megaparsec.

Saat ACT terus-menerus mengamati, para ahli astronomi ini akan mempunyai gambaran mengenai CMB. Yang mana lebih jelas dengan gagasan yang lebih cepat mengenai seberapa lama kosmos berawal. 

Tim dari ACT memeriksa dari pengamatan mereka dalam mencari sejumlah tanda-tanda fisika yang tidak cocok dengan model kosmologi yang standar.

Fisika tersebut mampu menyelesaikan ketidaksepakatan mengenai prediksi umur alam semesta dengan laju ekspansi yang muncul dari gerakan galaksi dan pengukuran CMB tersebut. (R10/HR Online)

Editor: Jujang