Akibat Membusuk, Petani Jahe di Pangandaran Terpaksa Jual Berikut Tunasnya

Petani Jahe
Petani jahe di Pangandaran yang menjual berikut tunasnya. Foto: Enceng/HR

Berita Pangandaran, (harapanrakyat.com),- Banyaknya petani jahe yang mengeluh akibat tanaman jahenya busuk. Sebagian petani yang tanamannya baru berusia 3 sampai 4 bulan panen pun terpaksa menjualnya berikut tunasnya.

Heri, salah seorang petani jahe, mengatakan, akibat hujan dengan intensitas tinggi yang turun setiap hari mengakibatkan tanaman jahe yang masih dalam masa perkembangan mengalami kebusukan.

Untuk mengantisipasi kerugian, sebagian petani memanen yang masih usia 3 sampai 4 bulan dan menjual tunasnya.

” Jika dibiarkan takut malah busuk, makanya saya terpaksa mencabutnya dan menjual tunasnya,” ucapnya, Jum’at (05/02/2021).

Idealnya, kata Heri, usia panen jahe itu sekitar 10 sampai 12 bulan. Namun karena musim tanam tahun ini banyak yang mengeluh tanamannya busuk.

baca juga: Lukisan Hasil Pemuda Pangandaran Hanya Dijual Ratusan Ribu

Maka dari itu, sebagian petani memanen jahenya di usia muda dan menjual dengan batangnya.

“Kebetulan banyak pembeli yang membutuhkan tunasnya untuk ditanam di polibeg, dari pada dibiarkan malah busuk lebih baik dijual tunasnya, mumpung banyak yang pesan,” paparnya.

Untuk harga per batangnya, lanjutnya, tentu bervariasi, tergantung dari jenis jahenya.

“Tunas jahe gajah harga Rp. 1000 per batang, emprit Rp. 1.500 dan merah Rp. 2500 per batangnya,” katanya.

Meski banyak petani yang memanen jahenya di usia muda, namun ada juga yang tetap mempertahankannya dengan harapan terhindar dari risiko busuk.

“Saya berharap petani yang tidak memanennya sekarang bisa terhindar dari penyakit busuk dan bisa panen normal. Jadi kita yang panen sekarang bisa membeli benih kepada petani yang panen normal untuk ditanam di musim berikutnya,” pungkasnya. (Enceng/R6/HR-Online)

Editor: Muhafid