Rabu, Desember 1, 2021
BerandaBerita PangandaranAlat Perontok Padi, Ancaman Bagi Buruh Tani di Pangandaran

Alat Perontok Padi, Ancaman Bagi Buruh Tani di Pangandaran

Berita Pangandaran (harapanrakyat.com),- Alat perontok padi merupakan salah satu alat pertanian modern. Seiring dengan kemajuan teknologi, alat tersebut kini mulai banyak digunakan petani saat musim panen.

Namun, kemajuan teknologi tidak selamanya bisa menguntungkan bagi masyarakat kecil. Seperti halnya mesin perontok padi, keberadaannya menjadi ancaman bagi mata pencaharian para buruh tani.

Selain itu, semakin berkembangnya teknologi pertanian juga dapat mengikis tradisi gotong-royong masyarakat pedesaan saat bertani. Yaitu antara petani sebagai pemilik sawah dan buruh tani.

Menurut Anton Sugandi yang biasa disapa Aki Atong, salah seorang warga Pangandaran, bahwa modernisasi alat pertanian sudah menghapus budaya gotong-royong. Bahkan, mengancam mata pencaharian masyarakat kecil.

Tradisi Lokal Buruh Tani Pangandaran

Ia menyebutkan, dulu tahun 1975 sebelum ada alat perontok padi, tradisi lokal Kabupaten Pangandaran ketika musim panen tanaman padi menjadi sebuah harapan bagi buruh tani.

Sebab, mereka bisa penyambung rezeki dengan mengikuti panen padi atau dikenal dengan sebutan gacong. Kemudian, ketika musim tanam buruh tani mengikuti tandur atau proses tanam padi.

“Musim panen biasanya jadi harapan sebagai penyambung nafkah bagi buruh tani. Namun, semua itu kini terancam dengan munculnya mesin untuk perontok padi,” kata Aki Atong.

Baca Juga : Tekan Biaya Produksi, Distan Pangandaran Salurkan Bantuan Alat Pertanian ke Poktan

Biasanya ketika musim gacong, hasil panen padi dibagi dengan majikan pemilik sawah. Penghitungannya, pemilik sawah mendapatkan jatah enam rantang. Sementara, buruh tani hanya mendapatkan satu rantang dan ini sudah berjalan lama turun temurun,” terang Aki Atong.

Teknis Potong Padi Bagi Petani Pangandaran Tanpa Mesin Perontok

Secara teknisnya, lanjut Aki Atong, dalam memperlakukan tanaman padi mulai dari pemotongannya sampai menjadi beras sekarang berbeda.

Ia menyebutkan, dulu ukuran pemotongannya dua jengkal ke bagian bawah dari bulir padi. Alat pemotongnya menggunakan etem (ani ani).

Selain itu, pemotongannya juga dalam 1 kepal tangan orang dewasa. Cara ini istilahnya sapocong. Setelah itu ikat menggunakan tali dari bambu.

“Ikatan sapocong ini lalu satukan dengan sapocong lainnya. Kemudian, pocongan tersebut jemur menggunakan bambu. Jemurnya di tempat yang panas dengan kondisi berjajar. Jika maksimal, maka bulir padi pada tangkai kekuatannya bisa sampai lima tahunan,” jelasnya.

Tradisi Ngagondang

Sedangkan, untuk memproses dari padi hingga menjadi beras biasanya dilakukan dengan tradisi ngagondang. Alat gondangnya meliputi satu buah tongkat terbuat dari kayu (halu) dengan panjang 2,5 meter, dan lisung dari kayu sebagai tempat menyimpan padi.

Kemudian, masih sekitar tahun 1975, alat pertanian mulai berkembang dengan terciptanya mesin huller atau heler orang pedesaan menyebutnya.

“Sejak ada mesin huller, tradisi gotong-royong dalam bertani perlahan mulai terkikis. Mata pencaharian para buruh tani mulai berkurang,” pungkas Aki Atong. (Cenk2/R3/HR-Online)

Editor : Eva Latifah

- Advertisment -