Fertilisasi In Vitro, Program Bayi Tabung Solusi Untuk Masalah Pernikahan

Fertilisasi In Vitro Program Bayi Tabung Solusi Untuk Masalah Pernikahan
Ilustrasi Fertilisasi In Vitro. Foti. Ist/Net

Fertilisasi in vitro merupakan salah satu usaha untuk meneruskan keturunan. Mengingat banyak sekali pasangan yang menikah dan belum memiliki buah hati. Padahal tujuan dari menikah adalah cepat untuk mendapatkan momongan.

Banyak faktor yang bisa mempercepat atau melambatkan kehamilan pada pasangan yang baru saja menikah. Tak semua pasangan beruntung dengan mudah untuk mendapatkan si kecil. Biasanya dokter akan memberikan program agar bisa mendapatkan anak dalam waktu satu tahun pernikahan.

Biasanya dokter akan menyarankan untuk membuat bayi tabung. Sehingga memudahkan mereka untuk cepat mendapatkan anak. Berikut adalah penjelasan lengkap mengenai IVF.

Mengenal Fertilisasi In Vitro (Bayi Tabung)

Bayi tabung atau IVF merupakan program kehamilan yang berupa reproduksi buatan. Hal ini biasanya untuk mengatasi masalah kesuburan dalam memiliki keturunan. Sehingga bayi ini akan memasukkan sperma ke dalam tabung yang dibuahi oleh sel telur.

Setelah menjalani pernikahan, pasti setiap orang akan menjalani pemeriksaan. Terutama bagi mereka yang akan melakukan IVF. Dalam hal ini, bisa saja pemeriksaan analisa sperma, pemeriksaan saluran reproduksi wanita, dan masih banyak lagi.

IVF berguna bagi mereka yang mengalami masalah kesuburan. Gangguan ini misalnya fungsi sperma dan masalah genetik. Sehingga semuanya akan mengalami pengecekan setelah pernikahan.

Baca Juga: Proses Terbentuknya Air Mata Saat Menangis dan Fungsinya

Prosedur IVF

Untuk menjalankan fertilisasi in vitro, perlu ada prosedur sebelumnya. Hal ini sangat penting karena berguna untuk mengetahui gangguan yang ada. Bahkan pihak laki-laki dan perempuan akan melakukan tahapan pemeriksaan.

Selain itu, ada beberapa tahapan yang harus pasangan lewati sebelum melakukan IVF. Program bayi tabung ini akan berjalan jika mereka menggunakan obat. Tujuannya untuk mengontrol waktu pematangan telur pada wanita.

Obat ini juga akan meningkatkan jumlah sel telur. Sehingga akan menghasilkan lebih banyak dalam satu siklus ovulasi. Perkara ini bisa terlihat melalui pemeriksaan USG.

Tahapan fertilisasi in vitro berikutnya adalah pengambilan sel telur. Proses ini melalui operasi kecil dengan bantuan USG. Bantuan ini berguna sebagai penuntun dari rongga pelvis.

Selanjutnya, ada proses pengumpulan sperma yang akan membuahi sel telur. Setelah itu, akan berlanjut dengan inseminasi. Sel telur dan sperma akan berada pada satu tempat yang bernama inkubator laboratorium.

Jika sudah mengalami penempatan tersebut, akan ada fase pembuahan dan pembelahan sel. Sel telur akan berubah menjadi embrio. Selanjutnya akan berpindah tempat ke dalam rahim antara hari pertama dan keenam setelah terbentuk.

Baca Juga: Proses Metabolisme Protein Mulai dari Perut Hingga Usus Secara Lengkap

Alasan Memerlukan Bayi Tabung

Ada beberapa alasan yang mewakili seseorang melakukan program fertilisasi in vitro, sebagai berikut:

Usia Sang Ibu yang Tidak Lagi Muda

Pada umumnya, seorang wanita yang berusia lebih dari 40 tahun banyak yang mengalami bayi tabung. Sehingga mereka memiliki keturunan dalam usia pernikahannya yang mungkin sudah tua.

Mengalami Kerusakan atau Sumbatan Tuba Falopi

Jika reproduksi wanita yang tidak sehat, bisa menyebabkan tuba falopi rusak. Tuba falopi adalah saluran penghubung rahim dan indung telur. Tempat ini berfungsi untuk bertemunya sel telur dan sperma.

Biasanya tuba falopi yang tersumbat bisa menyebabkan sel telur sulit mengalami pembuahan. Sehingga embrio akan susah berpindah ke dalam rahim sang wanita. Hal ini bisa memberikan kehamilan bagi mereka.

Masalah Ovulasi

Biasanya seorang ibu yang menjalani program fertilisasi in vitro mengalami masalah ovulasi. Proses ovulasi ketika sel telur yang matang keluar dari ovarium. Berikutnya siklus ini tidak teratur atau malah tidak ada sama sekali.

Endometriosis

Masalah berikutnya adalah adanya endometriosis. Jaringan rahim dalam hal ini tumbuh pada luar rahim. Keadaan ini akan mengganggu fungsi ovarium, rahim, dan tuba falopi.

Miom

Terkadang wanita bisa mengalami miom atau tumor jinak. Umumnya tumor jinak ini dialami oleh ibu-ibu berusia 30 hingga 40 tahunan. Banyak orang yang menyebutnya polip rahim yang dapat mengganggu proses perlengketan sel telur.

Prosedur Pengangkatan Tuba Falopi

Ibu hamil juga sering mengalami sterilisasi atau pengangkatan tuba falopi. Mereka sudah tidak memiliki tuba falopi dan biasanya menginginkan seorang anak. Maka salah satunya cara adalah memanfaatkan program bayi tabung sebagai alternatif.

Beberapa orang memang lebih memilih fertilisasi in vitro sebagai langkah awal untuk memperoleh buah hatinya. Sehingga setelah menikah, mereka bisa merencanakannya dengan baik. (R10/HR Online)

Editor: Jujang