Fungsi Tuba Fallopi pada Wanita dan Gangguannya Bagi Kesehatan

Fungsi Tuba Fallopi Pada Wanita dan Gangguannya Bagi Kesehatan
Ilustrasi Fungsi Tuba Fallopi. Foto: Ist/Net

Fungsi tuba fallopi sebagai saluran untuk sperma, oosit, dan transportasi ovum. Berjalannya fungsi tersebut tergantung pada tiga faktor. Seperti motilitas tuba, silia tuba, dan cairan tuba.

Tuba fallopi memiliki nama lain yakni oviduk. Merupakan saluran ovum yang terbentang antara kornu uterus hingga jatuhnya ke dekat ovarium. Dalam hal ini merupakan jalan ovum mencapai rongga uterus.

Letaknya pada tepi atas ligamentum latum yang berjalan ke arah lateral. Mulai dari ostium tubae yang ada pada dinding rahim. Tuba fallopi tersusun atas tiga bagian, yaitu serosa, muskularis, dan mukosa dengan epitel bersilia.

Memahami Fungsi Tuba Fallopi pada Wanita

Tentu saja fungsi utama dari oviduk adalah sebagai saluran yang membawa sel ovum dari ovarium ke uterus atau rahim. Oviduk memiliki bagian ampula yang juga memiliki peran. Ampula merupakan tempat bertemunya sel sperma dan sel ovum.

Organ ini menjalankan fungsinya melalui sebuah kontraksi otot polos. Nantinya akan menciptakan sebuah gerakan peristaltik. Gerakan ini yang bisa membawa sel ovum ke rongga pada rahim.

Gerak peristaltik terpengaruh oleh adanya sistem hormonal estrogen, progesteron, serta prostaglandin. Tuba fallopi memiliki silia yang bentuknya seperti rambut halus. Berfungsi untuk membantu pergerakan sel ovum.

Fungsi tuba fallopi juga untuk tempat proses konsepsi. Selain itu, juga berperan dalam pertumbuhan dan perkembangan hasil konsepsi hingga mencapai bentuk blastula.

Baca Juga: Proses Terbentuknya Air Mata Saat Menangis dan Fungsinya

Faktor yang Berpengaruh pada Fungsi Oviduk

Berikut adalah faktor yang bisa mempengaruhi fungsi dari oviduk:

Motilitas Tuba

Adanya kontraksi peristaltik sangat memungkinkan untuk terbawanya gamet. Dalam hal ini, sperma dan sel telur akan mengalami pembuahan serta transportasi pada ovum. Pembuahan berlangsung dari situs normal fertilisasi ke situs normal implantasi.

Hal ini juga mendapatkan pengaruh fungsi tuba fallopi. Terutama pada lingkungan hormonall estrogen dan progesteron. Adanya sistem adrenergik dan noradrenergik.

Cilia Tuba

Adanya rekonsiliasi dan desiliasi adalah proses yang cukup berkesinambungan saat siklus menstruasi. Aktivitas ini akan bertanggungjawab pada penjemputan ovum. Aktivitas ini cukup penting karena akan terlihat dalam asosiasi dengan desiliasi dari salpingitis.

Cairan Tuba

Faktor yang merupakan pengaruh fungsi oviduk berikutnya adalah cairan tuba. Cairan ini kaya akan mucoproteins, enzim, dan elektrolit. Jumlahnya cukup banyak yang terletak pada tengah siklus saat gamet datang.

Gamet juga sudah mampu berperan dalam proses pembuahan. Baru setelah itu, akan ada pembelahan awal. Cairan tuba terbuat dari transudasi selektif darah dan sekresi aktif dari lapisan epitel.

Baca Juga: Anatomi Perut Manusia dan Fungsinya Untuk Kelangsungan Hidup

Gangguan Kesehatan pada Oviduk

Fungsi tuba fallopi yang tidak berjalan dengan baik akan menimbulkan dampak negatif. Hal tersebut memicu adanya gangguan kesehatan pada seseorang. Berikut adalah kemungkinan gangguan tersebut:

Tuba Fallopi Tersumbat

Oviduk bisa saja tersumbat sehingga akan menghalangi jalannya sperma menuju ke sel telur. Selain itu, juga akan menghambat jalan kembali ke rahim untuk sel telur dalam pembuahan. Hal ini adalah akibat dari adhesi panggul, jaringan perut, dan infeksi pada tuba fallopi.

Keadaan ini pada umumnya tidak menunjukkan gejala apapun. Biasanya banyak orang sadar akan gangguan ketika kesulitan hamil. Beberapa penyebabnya adalah radang panggung, penyakit menular sex, fibroid, kehamilan ektopik, dan masih banyak lagi.

Jika fungsi tuba fallopi ada yang rusak, dokter akan membuang bagian tersebut. Baru menggantinya dan menghubungkan dua bagian yang sehat. Apabila tersumbatnya tuba fallopi akibat jaringan parut, maka kemungkinan kecil untuk pengobatan.

Tetapi, jaringan parut yang kecil masih memungkinkan untuk operasi. Dokter bisa saja menghilangkan penyumbatan tersebut serta membuka tuba fallopi kembali.

Kehamilan Ektopik

Adapun gangguan kesehatan berikutnya adalah kehamilan ektopik. Kehamilan ini saat sel telur terjadi pembuahan pada bagian luar rahim. Biasanya terdapat pada salah satu tuba fallopi.

Jika terjadi hal demikian, maka sel telur tidak akan berkembang menjadi janin. Kehamilan tidak dapat bertahan karena membahayakan kesehatan ibunya. Pada umumnya, penderita kehamilan ektopik akan memiliki gejala jika kehamilan sudah mencapai usia 12 minggu.

Tak heran bila fungsi tuba fallopi sangat penting. Mengingat hal ini akan berpengaruh besar terhadap kehamilan seseorang. Sehingga harus mendapatkan perawatan yang intensif agar tidak berakibat fatal. (R10/HR Online)

Editor: Jujang