Galaksi Tucana II, Galaksi Kuno dan Primitif dengan Materi Gelap Besar

Galaksi Tucana II
Ilustrasi Galaksi Tucana II. Foto: Ist/Net

Galaksi Tucana II merupakan sebuah galaksi kuno dengan ukuran kerdil yang telah mengorbit Bima Sakti. Penemuan ini menyimpan rahasia yang cukup besar, yakni menurut penelitian terbaru, mengenai bintang-bintang yang ada pada sekitar objek. 

Galaksi ini mempunyai halo materi gelap dengan sifat sangat masif meskipun ukurannya kecil. Sementara itu, halo merupakan lingkaran cahaya yang berada di sekitar materi gelap.

Penemuan Galaksi Tucana II

Melansir Sci-news, galaksi Bima Sakti telah dikelilingi begitu banyak galaksi satelit yang kerdil dan juga sangat halus. Mereka merupakan sisa galaksi yang kuno. Hal tersebut sebagaimana telah dengan tegas bintang tuang serta kimiawi primitif jelaskan.

Tunaca II merupakan galaksi katai ultra faint yang didominasi materi sangat gelap. Lalu mempunyai massa bintang rendah serta tingkat logam juga yang cukup rendah. Inilah mengapa bintang yang miskin akan logam kemungkinan besar tercipta lebih awal.

Hal itu terjadi saat alam semesta belum menghasilkan unsur yang berat. Dalam penemuan galaksi ini, para ahli astronomi sebelumnya juga telah mengidentifikasi dari segelintir bintang. Mereka adalah bintang pada sekeliling galaksi yang mengandung logam sangat rendah.

Sehingga galaksi Tucana II telah mereka anggap paling kuno atau primitif secara kimiawi dari galaksi katai ultra faint yang mereka ketahui.

Baca Juga: Fakta Galaksi Tertua yang Ditemukan Para Peneliti di Jagat Raya

Apakah Tunaca II Mempunyai Bintang Lain?

Seorang mahasiswa pasca sarjana Departemen Fisika dan Kavli Institute untuk Astrophysics and Space Research di MIT, Anirudh Chiti. Bersama dengan rekannya, ia mengungkapkan sebuah pertanyaan, apakah Tunaca II kemungkinan menyimpan bintang yang lain?

Bahkan, atau bintang lebih tua, yang telah memungkinkan sebagai penjelasan pembentukan galaksi pertama alam semesta. Kemudian mereka memakai filter pencahayaan Teleskop SkyMapper dalam melihat bintang primitif yang miskin logam dari bagian luar inti galaksi.

Mereka menjalankan algoritma dengan data-data yang telah mereka filter secara efisien memilih bintang yang mempunyai kandungan logam lebih rendah seperti galaksi Tucana II.

Selanjutya, bintang-bintang tersebut terdeteksi kurang lebih dalam jarak sembilan kali radius setengah dari cahaya Tunaca II. Jarak itu melampaui bintang anggota yang berada dalam galaksi katai ultra fraint yang lain.

“Tucana II mempunyai massa yang lebih banyak dari yang kita duga, untuk mengikat para bintang yang begitu jauh ini,” kata Anirudh Chiti.

Hal ini berarti, jika galaksi pertama peninggalan yang lain mungkin mempunyai lingkaran cahaya dan juga diperpanjang seperti ini.

Hasilnya pun menunjukkan jika galaksi Tucana II pasti mempunyai lingkaran halo materi gelap yang telah diperpanjang dengan 3-5 kali lebih masif dari perkiraan sebelumnya. Hal ini agar bisa mempertahankan gaya gravitasi terhadap bintang-bintang yang ada sejauh ini.

“Ini adalah kemungkinan juga berarti galaksi yang paling awal ada atau terbentuk pada lingkaran materi gelap ini jauh lebih besar dari yang telah menjadi prediksi sebelumnya,” ucap Dr. Anna Frebel, dari Departemen Fisika dan Institut Kavli dalam Penelitian Astrofisika dan Luar Angkasa pada MIT.

“Kami mengira jika galaksi pertama adalah galaksi yang paling kecil dan juga paling lemah. Akan tetapi, sebenarnya mereka kemungkinan beberapa kali lebih besar daripada yang kita duga selama ini, dan tidak terlalu kecil,” lanjutnya kemudian.

Baca Juga: Peta Galaksi Bima Sakti, Ilmuwan Ungkap Bumi Menuju ke Lubang Hitam

Pencarian Bintang Lain Tiga Kali Lebih Miskin Logam dari Tunaca II

Para astronom menggunakan data teleskop Magellan dan menemukan bintang paling luar galaksi Tucana II yang tiga kali lebih miskin akan logam. Karena hal tersebut, menjadi lebih primitif dari yang berada dalam pusat.

“Ini pertama kali kami melihat sesuatu yang tampak seperti perbedaan kimiawi dari bintang-bintang yang ada pada bagian dalam dan luar galaksi kuno,” kata Chiti.

Hal tersebut menjadi penjelasan yang mungkin dalam ketidakseimbangan ini merupakan penggabungan galaksi awal. Kemudian, sebuah galaksi yang kecil, kemungkinan antara generasi pertama galaksi yang terbentuk dalam alam semesta, menelan galaksi lain di dekatnya.

Tim pun berencana untuk memakai pendekatan mereka dalam mengamati galaksi katai ultra faint yang lain dari galaksi Tucana II. Lantas berada pada sekitar Bima Sakti. Hal itu mereka lakukan dengan tujuan agar menemukan bintang yang lebih tua serta terlempar jauh. (R10/HR Online)

Editor: Jujang