Kisah Abu Nawas, Penyair Islam Termasyhur di Masa Kejayaan Islam

Kisah Abu Nawas
Kisah Abu Nawas, seorang penyair terkenal dengan humornya. Foto: Net/Ist

Kisah Abu Nawas sepertinya sudah sangat familiar karena ia merupakan tokoh yang dikenal cerdik dan penuh jenaka. Abu Nawas hidup di masa pemerintahan Khalifah Harun Ar-Rasyid.

Selain jenaka dan bisa membuat siapapun yang membaca ceritanya terhibur. Ia juga banyak memberikan makna mengenai kehidupan.

Orang Indonesia juga sudah begitu familiar dengan sosoknya melalui berbagai cerita, mulai dari humor bijak hingga masalah Sufisme.

Penyair yang memiliki nama asli Abu Ali al Hasan ini merupakan orang yang humoris, cerdik serta kerap melontarakan kritik dengan gaya humornya.

baca juga: Sejarah Fathu Makkah, Bukti Kekuatan Peradaban Islam

Kisah Abu Nawas dari Berbagai Versi

Meski soal kelahirannya tidak ada referensi yang menyebutkan secara detail, namun banyak yang menyebut antara tahun 747 sampai 792 M.

Sedangkan kota kelahirannya ada yang menyebut di Damaskus, ibu Kota Suriah. Selain itu, ada juga yang meyakini dari Basra serta di Ahwaz, sebuah kota yang berada di selatan Iran.

Kendati banyak versi soal kelahiran sang penyair ini, ayahnya diketahui bernama Hani al Hakami. Ia seorang tentara di zaman Khalifah Marwan II yang merupakan pimpinan terakhir Dinasti Umayyah di Damaskus.

Sementara ibunya, berasal dari Persia (sekarang Iran) yang bernama Jelleban atau Golban. Keseharian ibunya berprofesi sebagai penenun kain.

Sepeninggal ayahnya, ia pun hidup dengan ibunya. Namun, ia terpaksa dijual kepada seseorang yang berprofesi sebagai penjaga toko asal Yaman berama Saad al-Yashira.

baca juga: Hamzah bin Abdul Muthalib, Singa Allah yang Gugur Saat Membela Islam

Saat Masih Muda

Kisah di masa mudanya, Abu Nawas sehari-hari bekerja pada tuannya di Basra, Irak yang memiliki toko grosir.

Lantaran kemonceran otaknya, sehingga ia pun menjadi pusat perhatian seorang wanita yang bernama Ibnu al Hubab.

Ia merupakan seorang penulis puisi memutuskan untuk membebaskan serta membeli Abu Nawas dari tuannya itu.

Abu Nawas pun akhirnya sejak saat itu terbebas dari statusnya sebagai budak belian. Al-Hubab mengajarkan berbagai pelajaran, seperti tata bahas maupun teologi.

Ia juga mengajari Abu Nawas mengenai bagaimana menulis puisi. Dari masa inilah Abu Nawas mulai tertarik seputar dunia sastra.

Kemudian ia pun banyak menimba ilmu dari penyair berkebangsaan Arab asal Kufa, Khalaf al Ahmar.

Hijrah ke Baghdad

Setelah itu, ia pun memutuskan untuk hijrah ke metropolis intelektual, yaitu Baghdad pada era kepemimpinan Khalifah Harun Ar-Rasyid di abad pertengahan.

Dalam kisah Abu Nawas ini, ia mempunyai karir di dunia sastra yang sangat cemerlang, setelah kepandaiannya dalam menulis puisi membuat khalifah tertarik.

Akhirnya Abu Nawas diangkat menjadi penyair istana atau yang disebut dengan sya’irul bilad, melalui perantara seorang musikus istana yang bernama Ishaq al-Wawsuli.

Bukan hanya itu, ia juga diangkat sebagai pendekar para penyair. Tugasnya yaitu mengubah puisi puji-pujian untuk Khalifah.

Abu Nawas menjadi seorang legenda karena kegemarannya dalam bertata bahasa yang bercampur dengan humor.

Bahkan, kisah hidupnya pun tertulis dalam kisah 1001 malam, sebuah cerita panjang dari timur tengah yang begitu melegenda.

Walaupun ia sering berbuat jenaka, namun ia adalah sosok yang sangat jujur. Ceritanya juga banyak yang mensejajarahkan dengan berbagai tokoh penting dalam khazanah keilmuan Islam.

Baca juga: Kisah Uwais Al-Qarni, Pemuda yang Sangat Memuliakan Ibunya

Pernah Masuk Penjara

Kisah Abu Nawas paling menyedihkan, ia pernah mendekam di penjara karena ia membacakan sebuah puisi tentang kafilah Bani Mudhar.

Sontak saja sang khalifah tersinggung serta murka hingga akhirnya memutuskan untuk memenjarakan Abu Nawas.

Sejak ia di dalam penjara, Abu Nawas pun mengubah puisi-puisi menjadi lebih religius.

Bahkan, inspirasinya bukan lagi berasal dari khamar, tetapi lebih banyak pada hal yang berhubungan dengan ketuhanan.

Hal itu terbukti dengan adanya beragam sajak pertobatan seorang hamba dari karyanya itu dan menunjukkan bentuk kepasrahan kepada Sang Khaliq.

Puisi dan syairnya itu untuk menggambarkan perjalanan keagamaannya dalam mencari hakikat Allah.

Di akhir hayatnya, kisah Abu Nawas ini diketahui menjalani hidup zuhud. Ia dimakamkan di Syunizi, itu jantung Kota Baghdad. (Muhafid/R6/HR-Online)

Editor: Muhafid