Kisah Khalid bin Walid ‘Pedang Allah’ Ahli Berperang Tapi Tidak Sombong

Kisah Khalid bin Walid 'Pedang Allah' Ahli Berperang Tapi Tidak Sombong
Ilustrasi Kisah Khalid bin Walid. Foto: Ist/Net

Kisah Khalid bin Walid bisa kita jadikan inspirasi dalam kehidupan kita. Khalid merupakan seorang panglima perang yang terkenal dan juga paling ditakuti ketika berada pada medan pertempuran. Dia juga mendapat julukan sebagai “Pedang Allah”. Selain paling ditakuti, Khalid juga panglima perang penting yang tak terkalahkan.

Tahukah anda bahwa Khalid adalah seorang dari keluarga Baginda Nabi SAW. Maimunah yang merupakan bibi dari pemilik julukan Pedang Allah tersebut merupakan istri Kanjeng Nabi SAW. Sedangkan dengan Umar Khalid juga memiliki hubungan saudara yakni sepupu.

Baca juga: Kisah Nabi Ilyas AS Mengajak Bani Israil Menyembah Alloh SWT

Sepenggal Kisah Khalid Bin Walid yang Perlu Anda Ketahui

Awalnya, kisah Kahlid bin Walid berawal dari ia menjadi seorang panglima perang kaum kafir Quraisy. Khalid sudah terkenal dengan pasukan kavalerinya.

Namun saat perang Uhud, ia melihat bahwa pasukan muslim lemah, setelah ia memiliki nafsu mengambil rampasan perang kemudian turun dari Bukit Uhud. Ia langsung mengajar habis-habisan pasukan muslim.

Namun dari situlah kisah Khalid bin Walid bermula dalam membela kebenaran Islam. Setelah kejadian peristiwa tersebut, Khalid masuk Islam. Padahal ayahnya yang bernama Walid bin Mughirah yang juga berasal dari Bani Makhzum merupakan seorang pemimpin kaum Quraisy yang paling berkuasa.

Mughirah juga termasuk orang yang kaya raya. Tetapi Ma Syaa Allah, ia tetap menghormati Ka’bah dengan perasaan yang sangat mendalam.

Dalam waktu dua tahun sekali, ialah yang mengganti kain penutup Ka’bah. Selain itu, pada saatnya ibadah haji tiba, ia juga gemar memberi makan dengan cuma-cuma untuk semua orang yang berkumpul ke Mina.

baca juga: Kisah Abu Nawas, Penyair Islam Termasyhur di Masa Kejayaan Islam

Perang Yarmuk

Mendengar Khalid masuk Islam tentu saja baginda Rasulullah sangat bahagia. Hal tersebut karena kepiawaian Khalid dalam memimpin perang.

Sehingga nantinya ia dapat membela Islam dan meninggikan kalimatullah dalam perjuangan jihad. Dalam beberapa kesempatan juga, kisah Khalid bin Walid mampu mengangkatnya menjadi seorang panglima.

Pada masa pemerintahan khalifah Umar bin Khatab, kisah Khalid bin Walid menjadi seorang panglima perang dari pasukan Islam yang berjumlah 46.000. Ia dan pasukannya tersebut harus berhadapan dengan dengan Tentera Byzantium dengan jumlah pasukan 240.000.

Khalid tidak mempunyai rasa takut sedikitpun, melainkan hanya khawatir. Apakah nantinya ia akan mengendalikan hatinya karena ia telah diangkat dalam peperangan ini.

Pasukan Islam yang tidak seimbang namun harus melawan musuh yang berlipat ganda jumlahnya. Apalagi mereka juga belum mempunyai senjata yang lengkap dan juga belum terlatih, bahkan mutunya masih tergolong rendah.

Berbanding terbalik tentunya dengan pasukan lawan, mereka sudah terlatih, penggunaan senjata yang sudah lengkap. Namun, bukan Khalid kalau ia tidak mempunyai strategi untuk bisa memenangkan perang.

Anak dari Mughirah tersebut membagi pasukan Islam menjadi 40 kontingen dari jumlah 46.000. Hal tersebut bertujuan supaya terkesan pasukan Islam lebih banyak. Namun, tentara Romawi terbagi menjadi lima bagian, kanan, kiri, depan, belakang, dan tengah.

Berkat kegigihan Khalid dalam memimpin, pasukan Islam mampu mengalahkan pasukan lawan yang jumlah berlipat ganda. Hal tersebut membuat orang tercengang keheranan.

Baca juga: Sejarah Perang Badar, Kemenangan Besar Umat Islam Melawan Kafir

Perang Riddah

Perang Riddah (melawan orang murtad) juga melibatkan kisah Khalid bin Walid. Penyebab terjadinya perang Riddah adalah karena suku bangsa Arab tidak mau tunduk terhadap pemerintahan khalifah pertama, yakni Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Mereka juga beranggapan bahwa perjanjian yang telah dibuat baginda rasul Muhammad SAW, dengan sendirinya batal setelah beliau wafat.

Sikap menentang dan keras kepala mereka dapat membahayakan agama dan juga pemerintahan. Dari situlah Abu Bakar menunjuk Khalid untuk menjadi jenderal pasukan Islam. Hasil akhirnya, kemenangan tetap berada pada umat Islam.

Masih berada pada zaman pemerintahan Abu Bakar, kisah Khalid Bin Walid akan semakin mengudara. Ia menjadi orang kiriman Abu Bakar untuk pergi ke Irak dan menguasai Al-Hirah pada tahun 634 M.

Namun ia juga mendapatkan perintah yang kedua untuk meninggalkan Irak guna membantu pasukan yang telah dipimpin pasukan Usamah bin Zaid.

Perlu anda ketahui, meski si Pedang Allah tersebut beberapa kali memiliki jabatan tinggi, namun ia tidak mempunyai maksud dan tujuan tertentu untuk memanfaatkan kesempatan.

Hikmah yang dapat kita ambil dari kisah Khalid bin Walid adalah ia memang pandai dalam strategi sekaligus siasat perang dan juga berkuda. Namun ia tidak sombong meski juga berada dalam puncak popularitas. (R10/HR-Online)

Editor: Muhafid