Kisah Zaid Bin Haritsah, Sahabat Rosulullah yang Disebut dalam Al-Qur’an

Kisah Zaid bin Haritsah
Ilustrasi Kisah Zaid bin Haritsah. Foto: Net/ist

Kisah Zaid Bin Haritsah begitu terkenal ceritanya dari dulu sampai sekarang. Kisah Zaid bahkan tertulis dalam Al-Quran surat Al Ahzab, seperti pada ayat 5, 37 dan 40.

Hal ini kemudian menjadi salah satu kisah teladan dari seorang Nabi Muhammad SAW yang melakukan segala sesuatunya hanya berdasarkan perintah Allah.

Karena kisah Zaid ini pula Allah SWT menetapkan beberapa hukum untuk kebaikan umat manusia di kemudian hari.

Baca juga: Kisah Raja Zulqarnain Penguasa Shaleh yang Disebutkan Al Qur’an

Kisah Zaid Bin Haritsah Jadi Budak

Menurut Yunal Isra, seorang peneliti el-Bukhari Institute  menyatakan bahwa Zaid adalah sahabat nabi yang pernah menjadi anak angkat Rasulullah.

Hal itu ketika penyerangan tiba-tiba tentara berkuda dari Bani al Qin ke perkampungan suku Bani Mu’in yang merupakan tempat asal Zaid.

Para tentara lalu merampas dan menawan segala sesuatu yang ada di suku tersebut. Zaid pun menjadi korbannya, ia kemudian menjadi budak untuk dijual di pasar Ukazh.

Ketika di pasar, ia terjual sebesar 400 dirham ke Hukaim bin Hisyam bin Khuwailid, keponakan dari Siti Khadijah yang saat itu belum menikah dengan rosul.

Namun ketika Rosul menikah dengan Siti Khodijah, Zaid menjadi hadiah untuk Nabi hingga akhirnya ia pun tinggal bersama.

Menjadi Anak Angkat Rosul

Selang beberapa lama, kisah Zaid bin Haritsah tinggal bersama Rasul pun akhirnya terdengar oleh orangtuanya yang saat itu memang sedang mencarinya.

Ketika berjumpa Rosul dan mengungkapkan keinginannya, akhirnya Nabi pun menyerahkan keputusan pada Zaid, apakah mau ikut kembali dengan orangtuanya, atau tetap bersama-Nya.

Akhirnya, Zaid pun memutuskan ikut bersama Rosululloh.

Karena itu, Rosul pun langsung mengumumkan kepada semua orang bahwa ia adalah anak angkatnya. Akhirnya ia pun berganti nama menjadi Zaid bin Muhammad.

Namun, cara nabi mengadopsi Zaid ternyata tidak berlangsung lama. Sebab, Alloh menurunkan wahyu surat Al Ahzab ayat 5 dan 37.

Masih dalam kisah Zaid bin Haritsah, Allah kemudian menyatakan dengan tegas bahwa Rasulullah Muhammad SAW bukanlah ayah dari seorang laki-laki muslim dari manapun, termasuk Zaid.

Karena hal tersebut, Rasul langsung membatalkan pengangkatan anak yang dilakukannya pada Zaid, dan Zaid pun dikenal dengan nama Zaid bin Haritsah.

baca juga: Kisah Nabi Ilyas AS Mengajak Bani Israil Menyembah Alloh SWT

Semua itu ditetapkan Allah SWT dengan tujuan agar di kemudian hari sangkaan orang akan adanya nabi setelah nabi Muhammad dapat terbantahkan.

Karena berdasarkan adat kebiasaan, biasanya seorang anak laki-laki dari seorang Rasul akan mewarisi kenabian ayahnya.

Selain itu, agar tidak adanya kerusakan sistem keturunan seseorang yang dapat menimbulkan kekacauan dalam menentukan warisan dan perkawinannya.

Maka, atas dasar semua alasan di atas dan untuk membuktikan terlepasnya hubungan seorang ayah dengan anak, maka Rasulullah pun menjalankan perintah Allah.

Dalam firmanNya QS. Al Ahzab ayat 40 menjelaskan bahwa mantan istri Zaid yang bernama Zainab halal untuk dinikahi Rasulullah.

Dari kisah Zaid bin Haritsah ini, menjelaskan perintah Allah saat itu tentu memiliki tujuan baik bagi manusia, yaitu menghilangkan kebiasaan orang Yahudi dan Arab yang melarang seorang ayah menikahi mantan istri dari anak angkat mereka.

Biografi Zaid Bin Haritsah

Zaid bin Haritsah lahir pada tahun 47 sebelum Hijriah, ia berasal dari kabilah Kalb, suku Bani Mu’in yang masih merupakan keturunan bangsa Quraisy. Saat terjadi penyerangan oleh tentara berkuda Bani al Qin bin Jusr, Zaid sedang bersama ibunya Su’da binti Tsa’labah.

Kisah Zaid bin Haritsah memang penuh dilema, namun kecintaannya pada Rasulullah membuat  para ulama menyebut Zaid sebagai sahabat yang adil.

baca juga: Sejarah Perang Badar, Kemenangan Besar Umat Islam Melawan Kafir

Bahkan dalam Tahdzid al-Tahdzib, Ibnu Hajar menyebut sebagai sahabat yang dikenal atau Shahabiyyun Jalilun Masyhurun.

Saat perang Mut’ah, ia diangkat menjadi panglima perang, namun sayang saat perang itulah ia wafat, tepatnya pada tahun ke-8 Hijriyah.

Demikian kisah Zaid bin Haritsah, semoga kita semua mendapat tauladan dan ibrah setelah membacanya. Yakinlah bahwa segala sesuatu yang telah Allah tetapkan untuk manusia adalah demi kebaikan manusia itu sendiri. (Muhafid/R6/HR-Online)

Editor: Muhafid