Malam Jumat Kliwon 1956 Mencekam, ‘Perkawinan’ Citanduy-Ciseel Tenggelamkan Paledah Pangandaran

Malam Jumat Kliwon
Sawah blok Ciilat di Desa Peledah yang menjadi saksi bisu banjir bandang pada malam Jum'at Kliwon tahun 1956 silam yang masih banjir hingga sekarang. Foto: Mad/HR

Berita Pangandaran, (harapanrakyat.com),- Malam Jumat Kliwon tahun 1956 silam terjadi sebuah banjir bandang di Desa Paledah, Kecamatan Padaherang, Kabupaten Pangandaran. Malam itu air sungai Citanduy dan Ciseel meluap meratakan seluruh desa.

Sebagaimana ingatan orang tua zaman dahulu, terutama orang Jawa, mengingat sebuah peristiwa hanya pada hari pasaran dan tahunnya saja.

Sadi, lelaki asal Kroya, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah yang kini berusia 101 tahun dan menetap di Dusun Mekarasih Desa Paledah menceritakan malam mencekam waktu itu.

Ia dan orang semasa hidupnya mengenalnya dengan banjir mencekam Desa Paledah. Bukan tanpa alasan, air Sungai Citanduy dan Ciseel tiba-tiba meluap secara bersamaan, bahkan seluruh rumah penduduk rata dengan air bak lautan.

“Perkawinan Citanduy dan Ciseel ini membuat semua warga berusaha menyelamatkan diri ke tempat yang lebih aman,” ujarnya kepada HR Online, Selasa (16/2021).

baca juga: Rencana Pembangunan Embung, Bappeda Pangandaran Survei Lokasi Banjir di Paledah

Peristiwa Banjir Malam Jumat Kliwon

Dua sungai besar yang meluap dan merendam wilayah Desa Paledah saat belum mekar. Dulu, kata Sadi, desa ini masih menyatu dengan Maruyungsari dan Sukanagara.

Meski seluruhnya terendam, ada satu bukit yang bernama Gunung Cilik dan di situ terdapat sebuah bangunan yang digunakan sebagai kantor desa.

Namun, karena banjir tak kunjung surut lama kelamaan akhirnya pun amblas.

“Saat itu kedalaman air kalau dari pinggir kantor desa seukuran satu galah bambu, atau sekitar 8-10 meter,” tuturnya.

Kondisi Sebelum Banjir

Masih begitu jelas ingatakan Sadi, kondisi wilayah tersebut sebelum banjir yang merupakan hutan kecil belantara yang masih banyak binatangnya, seperti bagong maupun monyet.

Namun semuanya tiada seiring bencana besar malam Jumat Kliwon itu. Bahkan sampai saat ini wilayah tersebut pun tak pernah luput dari banjir.

Seiring waktu berjalan, terbentuklah daratan yang kini berada di Desa Maruyungsari dan Sukanagara.

Lantaran air mengalir ke tempat yang lebih rendah, Rawa Ciilat pun menjadi saksi bisu keganasan banjir bandang saat itu yang sampai saat ini belum ada solusinya.

baca juga: Ratusan Hektar Sawah di Paledah Pangandaran Terendam, Petani Merugi

Berangsur Surut

Setelah sekian lama, air pun mulai surut dan terlihat tanggul apoor sungai yang menjadi pembuangan ke Ciseel bedah di tahun 1965.

Warga pun mulai bergotong royong membangun jalan dan membenahi areal pesawahan yang dulunya banyak binatang.

“Endapan air membentuklah daratan yang kemudian menjadi pesawahan, tepatnya di sebelah Maruyungsari yang terkenal dengan sawah Kiwah. Sedangkan yang di Paledah namanya Cibungkang,” ucapnya.

Pasca bencana banjir malam Jumat Kliwon berlalu dan air mulai surut, kehidupan warga sekitar pun mulai kembali pulih secara bertahap. (Mad/R6/HR-Online)

Editor: Muhafid