Mengajari Anak Mengelola Emosi, Trik Hadapi Anak Ngamuk

Mengajari Anak Cara Mengelola Emosi
Ilustrasi Mengajari Anak Cara Mengelola Emosi. Foto: Ist/Net

Ternyata, ada lho trik yang bisa orang tua lakukan untuk mengajari anak cara mengelola emosi. Pernahkah Anda melihat anak merengek hingga berguling di tanah hanya karena menginginkan suatu barang?

Atau pernahkah Anda melihat anak melakukan hal yang berlebihan ketika sedang marah? Sepertinya terlihat sepele dan merasa semua anak pasti melakukannya.

Beberapa cara ini terbilang efektif dan anak akan tahu bagaimana mengontrol emosi. Seperti sebuah kebiasaan, yang perlu Anda lakukan adalah mengulangi terus-menerus hingga anak terbiasa dengan cara yang Anda ajarkan.

Trik Mengajari Anak Cara Mengelola Emosi

Berikut beberapa trik yang bisa Anda lakukan sebagai orang tua untuk mengajari anak agar tidak ada lagi peristiwa anak berguling-guling di tanah karena menginginkan sesuatu.

Mengajari Cara Menenangkan Diri

Hal mendasar yang perlu Anda ajarkan kepada anak adalah cara agar ia dapat menenangkan diri. Bisa dengan memberinya ruang untuk menyendiri hingga ia merasa tenang dan amarahnya berkurang.

Baca Juga: Aplikasi Parenting Terbaik, Pantau Tumbuh Kembang Anak Secara Efektif

Misalnya dengan mengajaknya masuk ke dalam kamar yang sejuk dan membuka jendela agar pertukaran udara dalam kamar baik. Udara sehat yang dihirup dapat merilekskan otot dan urat yang tegang.

Anda juga bisa mengajaknya berkeliling area perumahan untuk sekedar mencari udara segar. Memberinya waktu untuk beristirahat juga bisa menjadi pilihan. Biarkan ia tidur 1-2 jam sampai ia merasa tenang.

Jika anak melakukan kontak fisik ketika marah, hentikan segera. Dudukkan ia selama beberapa menit hingga marahnya reda.

Ajarkan Anak Mengungkapkan Emosi

Ajarkan kata-kata emosi yang beragam dan baik agar mereka paham apa yang sedang mereka rasakan. Memukul, menendang melempar, berteriak terjadi karena anak tidak tahu bagaimana mengungkapkan perasaan mereka secara verbal.

Dalam mengajari anak cara mengelola emosi, ajari anak-anak kata-kata yang dapat mengekspresikan perasaan mereka. Seperti ‘takut’, ‘sedih’, ‘marah’, ‘bahagia’, ‘kesal’, ‘jengkel’ dan ‘gugup’.

Setelah itu dorong anak untuk mengungkapkannya dalam sebuah kalimat. Misalnya, “saya takut gelap” atau “saya sedih sekali” atau “saat ini saya sedang marah” dan lain sebagainya.

Anda tidak perlu khawatir ketika anak menyatakan perasaan mereka dengan kalimat. Hal itu lebih baik daripada anak menggunakan kekerasan.

Jangan Memendam Amarah

Ketika emosi muncul, hormon adrenalin akan bekerja dan jantung berdetak lebih cepat. Saat itulah tubuh merasa memiliki kekuatan lebih dan enerjik serta cenderung berbicara lebih keras. Agresif dan cenderung melakukan kekerasan bisa saja terjadi.

Saat mengajari anak cara mengelola emosi, jangan biarkan anak anda memendam amarahnya. Alihkan semua adrenalin yang terpacu kepada kegiatan yang positif, produktif namun tidak berbahaya. Misalnya dengan berlari, bersepeda, berenang atau kegiatan olahraga lainnya bisa menjadi opsi untuk mengelola emosi anak.

Berempati kepada Anak

Dengan berempati, anda bisa memahami perasaan anak dengan tidak menghakimi mereka. Ketika anak merasa nyaman, mereka akan terbuka mengatakan apa yang menjadi penyebab kemarahan mereka.

Anak tidak akan menyembunyikan apapun pada anda. Berbicara dari hati ke hati. Bantu anak mengenali perasaannya tanpa anda menyalahkan sikapnya.

Berempati bukan saja untuk mengajari anak cara mengelola emosi. Sikap anda akan membuatnya terus terbuka dengan apa saja yang dialaminya. Karena anak merasa nyaman saat mengutarakan perasaannya tanpa anda menghakimi.

Beri Pujian dan Peringatan

Memberi anak pujian saat ia berperilaku baik penting lho. Anak akan merasa bahwa yang ia lakukan dan usahakan dihargai oleh anda. Memberi pujian kepada anak juga dapat memacu ia terus berperilaku baik.

Baca Juga: Mengatasi Anak Kegemukan, Apa yang Harus Bunda Lakukan?

Namun perlu untuk tetap memperhatikan takaran. Pujian yang berlebihan akan membuat anak mengharapkan penghargaan. Anak tidak mau dikritik saat melakukan kesalahan.

Sebaliknya, beri peringatan jika anak melakukan kesalahan. Lakukan dengan cara yang halus, tidak perlu ikut memarahi anak. Lalu berikan ia solusi untuk memperbaiki kesalahannya.

Menjadi Contoh dan Teladan Bagi Anak

Keluarga merupakan sekolah pertama bagi anak. Lewat keluarga, anak akan menentukan bagaimana ia bersikap. Oleh karena itu peran orang tua sangat penting dalam mendidik.

Perlu Anda ingat saat mengajari anak cara mengelola emosi, seorang anak akan mencontoh setiap sikap dan perilaku orang tuanya saat menghadapi masalah. Maka sebelum anda mengajarkan cara mengelola emosi anak, anda juga harus bisa mengelola emosi anda. Karena tanpa diajari, anak akan dengan mudah meniru sikap anda. 

Tentukan Batasan-Batasan

Marah adalah emosi yang alami. Mengekspresikan kemarahan juga hal yang lumrah. Namun Anda harus menentukan batasan-batasan ketika meluapkan amarah.

Tentukan batasan apa yang tidak boleh dilanggar oleh anak. Misalnya ketika marah, anak menjadi agresif dan melakukan kekerasan seperti memukul, menendang, menggigit, atau merusak barang.

Anda juga perlu menegaskan, Anda tidak akan memberikan toleransi jika amarahnya berujung dengan mengeluarkan kalimat kasar dan tak patut.

Ketika batasan-batasan itu dilanggar oleh anak, harus ada konsekuensinya. Dengan memberikan konsekuensi, anak akan belajar jika cara yang ia lakukan itu salah dan tidak baik.

Lakukan Aktivitas Fisik untuk Meluapkan Emosinya

Dalam mengajari anak cara mengelola emosi, Anda perlu ingat seperti halnya orang dewasa, anak juga memiliki kecenderungan yang sama saat marah, yaitu keinginan memukul. Anda dapat mengarahkan anak untuk melakukan aktivitas fisik ketika sedang marah.

Berikan bantal atau boneka sebagai medium untuk meluapkan kemarahannya. Biarkan anak meluapkan amarahnya, namun tetap dalam kontrol. Anda tidak perlu mengajari gerakan-gerakan yang nantinya dapat memicu kekerasan fisik.

Selain itu, bisa juga dengan mengajari anak menulis di selembar kertas. Biarkan ia menuliskan kekesalan dan amarahnya pada kertas tersebut. Menggambar atau melukis juga bisa menjadi aktivitas produktif yang bisa dilakukan anak untuk melampiaskan emosinya.

Itulah tadi beberapa tips mengajari anak cara mengelola emosi. Sebagai orang tua juga penting untuk terbuka dan bersedia saat anak mengutarakan emosinya. Dengarkan dan beri ia solusi untuk meredam amarahnya.

Tak jarang ada orang tua yang ikut marah terhadap sikap buruk anak. Hal itu justru membuat anak tidak nyaman dan bahkan menjadi pribadi tertutup. Anak akan memendam emosinya yang bisa meledak suatu saat nanti.

Belajar mengelola emosi sejak dini akan membuat anak terbiasa. Hal ini berdampak baik hingga ia dewasa nanti. Anak dapat bersikap dengan baik meski sedang emosi. Juga menghindarkan anak dari sikap agresif yang berujung pada kekerasan. (R7/HR-Online)

Editor: Ndu