Pasar Sawah Mega Terasering, Destinasi Wisata Baru di Pangandaran

Pasar Sawah Mega Terasering
Rintisan pasar sawah mega terasering yang berada di Desa Sukamulya, Kecamatan Langkaplancar, menjadi destinasi wisata baru di Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat. Foto : Madlani/HR

Berita Pangandaran, (harapanrakyat.com),- Pasar sawah mega terasering yang berada di Desa Sukamulya, Kecamatan Langkaplancar, menjadi destinasi wisata baru di Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat.

Objek wisata ini menyajikan pemandangan yang tidak biasanya. Sebab, pemandangan memang sawah, namun berbentuk terasering seperti di Ubud, Bali.

Selain itu, pasar sawah ini merupakan rintisan yang berbasis pemberdayaan masyarakat dan budaya Desa Sukamulya.

Sedangkan untuk menempuh perjalanan ke lokasi tersebut, sangat cocok untuk yang hobi bersepeda. Sebab, jalur treknya sangat menantang, dengan disuguhi panorama alam persawahan yang sejuk.

Sehingga, tidak sedikit pesepeda yang berkunjung pada hari Sabtu dan Minggu, ke pasar sawah mega terasering yang seperti Ubud Bali ini.

Sembari bersepeda menikmati pemandangan alam, ketika lelah para goweser atau pengayuh sepeda ini, bisa beristirahat di pasar sawah yang baru dirintis oleh masyarakat setempat.

Dengan memanfaatkan mobil Maskara yang serba guna, masyarakat mengambil peluang tersebut pada setiap hari Sabtu dan Minggu, untuk berdagang.

Baca Juga : Sawah Terasering di Pangandaran Ini Keindahannya Lebih dari Ubud Bali

Sementara dari pantauan HR Online, Minggu (7/2/2021), makanan yang masyarakat setempat jajakan, semuanya merupakan panganan lokal dari hasil bumi Desa Sukamulya.

Seperti lahang, pecel, gula aren asli, gethuk, awug, surabi, cuhcur, kelapa muda, wedang jahe, bagi yang suka nasi liwet juga ada.

Sekaligus, mereka juga mengkampanyekan agar kembali ke makanan tradisional yang sehat dan menyehatkan.

Gagasan Pasar Sawah Mega Terasering Pangandaran

Salah seorang penggerak Desa Sukamulya, Dede Arif Cahyadi, mengatakan, pihaknya mengambil peluang moment tersebut setelah mengetahui banyak yang bersepeda ke daerah tersebut.

“Peluang tersebut memanfaatkan sumber daya alam yang ada, kemudian warga sini mengolahnya menjadi makanan khas kampung,” katanya kepada HR Online, Minggu (7/2/2021).

Sedangkan inisiatif membentuk pasar sawah mega terasering, lanjutnya, adalah inisiatif bersama para pemuda dan tokoh masyarakat. Selain itu, pihak pemdes setempat juga memfasilitasi rintisan pasar tersebut.

“Sembari menikmati lanskap desa, pasar sawah ini juga untuk memenuhi kebutuhan berwisata warga. Sehingga, bisa memulihkan ekonomi masyarakat,” ujarnya.

Lebih lanjut Dede menuturkan, pernah orang tua zaman dulu mengatakan bakal ada pasar sawah dikemudian hari. “Dan baru kali ini kebuktian ada, walaupun baru rintisan saja,” tuturnya.

Dede menambahkan, Sukamulya merupakan rintisan desa wisata berbasis pemberdayaan masyarakat dan budaya. Sementara targetnya, agar masyarakat bisa mandiri maju dan berkembang.

Sedangkan gagasan wisata desa strategi tersebut dari Kementerian Desa. Tujuannya, untuk melakukan pemulihan ekonomi masyarakat, dengan memajukan pemberdayaan masyarakat desa.

“Seperti membangkitkan UMKM, budaya, rekreasi alam dan lainnya. Semoga ini bisa berkelanjutan,” pungkas Dede.

Trek Menantang

Sementara itu, salah seorang goweser asal Pangandaran, Apip Winayadi, mengungkapkan, sangat terkesan dengan medan treknya yang menantang.

Meski lelah karena medan trek, namun Apip yang rutin setiap Sabtu dan Minggu bersepeda menyusuri daerah tersebut merasa puas. Karena terbayar oleh pemandangan alamnya.

“Kesan trek jalur ini, kanan dan kiri disuguhi pemandangan alam yang indah. Yaitu berupa sawah dan bukit dengan udara yang masih alami dan sejuk. Pokoknya mantap,” ungkap Apip.

Belum lagi, lanjutnya, terdapat pasar sawah yang menjajakan makanan khas tempo dulu, sehingga benar-benar kembali ke nuansa alami.

“Sangat pas untuk melakukan relaksasi langsung dengan alam, sebagai kebutuhan rekreatif meningkatkan daya imun, dan jauhi kerumunan dengan berolahraga,” ujarnya. (Madlani/R5/HR-Online)

Editor : Adi Karyanto