Sejarah Pengakuan Tionghoa di Indonesia, Bermula dari BPKI

Sejarah Pengakuan Tionghoa Indonesia
Potret keluarga Tionghoa di Indonesia pada masa Kolonial Belanda. Foto: Net/Ist

Sejarah pengakuan Tionghoa di Indonesia erat kaitannya dengan salah satu etnis Cina yang ada di Nusantara. Tionghoa di Indonesia hampir merata keberadaannya di setiap penjuru negeri.

Asal-usul mereka bisa menjadi warga negara Indonesia (WNI) tidak terlepas dari peristiwa menjelang kemerdekaan.

Badan Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPKI) yang terbentuk pada masa kemerdekaan, mengakui secara sah Tionghoa sebagai WNI.

Hal ini karena BPKI merancang Undang-undang pada akhir bulan terakhir pendudukan Jepang di Indonesia.

Sedangkan pemicu pengakuan tersebut berdasarkan prinsip kerangka acuan mental yang sama, artinya mereka memiliki struktur yang sama dengan orang Indonesia pada umumnya.

baca juga: Sejarah Tionghoa di Indonesia, Gemar Beramal Sampai Ketagihan Berjudi

Sejarah Pengakuan Etnis Tionghoa di Indonesia

Charles A. Coppel dalam bukunya yang berjudul “Tionghoa Indonesia dalam Krisis” (1994:23), mengungkapkan dari adanya peristiwa di atas, maka dengan ini orang Tionghoa khususnya yang ada di Indonesia, telah ada penetapan sebagai warga negara Indonesia secara sah.

Selain itu, ada pula kriteria bangsa asing yang dapat masuk kategori sebagai WNI, namun di antaranya harus memenuhi syarat pengakuan menurut undang-undang sebagai warga negara yang bersangkutan secara resmi.

Menurut Charles, “kini kata (asli) tidak saja bermakna pribumi, tempat kelahiran, dan asal, tetapi juga memiliki pengertian sejati dan murni”.

Maka dari itu kalimat maupun isi pokok undang-undang dasar dan undang-undang kewarganegaraan menekankan pandangan bangsa Indonesia yang sesungguhnya ialah penduduk pribumi dan bahwa golongan penduduk lainnya memperoleh kewarganegaraan Indonesia yaitu karena bangsa Indonesia.

Masih dalam sejarah pengakuan Tionghoa di negara Indonesia, Istilah “WNI” dan “Asing”, salah satu masalah intens yang sering kita temukan di negeri ini. Masalahnya berawal dari arti hukum yang berlebihan (Charles A. Coppel, 1994: 23).

Charles juga mengungkapkan, dalam percakapan sehari-hari bila seseorang disebut WNI, umumnya berarti bahwa ia berasal dari keturunan Tionghoa yang menetap di Indonesia, atau keturunan asing, terutama orang Tionghoa.

Jadi istilah ini merujuk pada pengertian “tidak asli” dan “bukan orang Indonesia asli”. Maka singkatan WNI itu bisa kita pahami sebagai keturunan asing.

Penggunaan kata asing dalam ungkapan itu sendiri, kata Charles, menekankan pada sifat asing dari warga negara keturunan Tionghoa dalam pandangan orang Indonesia.

baca juga: Sejarah Tionghoa di Indonesia, Awal Mula Sikap Anti Cina

Zaman Penjajahan Belanda

Demikian pula pada zaman penjajahan kolonial Belanda, masyarakat Tionghoa di Indonesia sering mengalami masalah ini dengan secara resmi mengkategorikan sebagai orang “Timur Asing” sekalipun ia telah menjadi warga negara Belanda.

Lalu bagaimana sejarah pengakuan warga Tionghoa di negara Indonesia ini, apakah jika sampai sekarang permasalahan itu masih muncul karena warisan Belanda?

Penamaan keluarga dengan nama Tionghoa, bukan satu-satunya ciri masyarakat etnis Tionghoa secara asli

Charles dalam risetnya (1994:24) menjelaskan, di Indonesia keturunan Tionghoa merupakan seorang Tionghoa jika memiliki fungsi sebagai anggota dari, dan bergabung beserta masyarakat Tionghoa lainnya.

Satu-satunya tanda dari kebudayaan yang bisa dipercaya dari pernyataan diri sebagai orang Tionghoa dan penyatuan diri ke dalam sistem sosial Tionghoa, yaitu pemakaian setidak-tidaknya dalam beberapa bentuk serta keadaan seperti penamaan keluarga menggunakan nama Tionghoa.

baca juga: Sejarah Samin Surosentiko, Ajaran Hidup Masyarakat Pantura yang Melegenda

Hasil Penelitian Carles A Coppel

Kendati demikian, dalam penelitiannya tentang sejarah pengakuan orang Tionghoa di Indonesia tidak terbukti hanya bertumpu dengan dua pijakan seperti uraian di atas.

Hal ini terbukti dengan dua penemuannya, pertama untuk membuktikan orang Tionghoa itu asli atau bukan dengan menggunakan teori nama dari keluarga Tionghoa ternyata tidak bisa kita andalkan begitu saja.

Dapat kita ketahui atau tidaknya seorang Tionghoa asli atau bukan hanya Pemerintah Indonesia saja yang bisa mengidentifikasinya.

Selanjutnya, yang lebih mendasar, selama tahun 1960-an banyak warga negara Indonesia keturunan Tionghoa yang tidak memiliki fungsi sebagai anggota masyarakat Tionghoa. Justru mereka merasakan sebagai orang Indonesia asli.

Padahal, yang bisa menentukan asli atau bukannya masyarakat Indonesia adalah pemerintah Indonesia.

Sementara menurut hasil riset Charles tahun 1960-an menyebut mereka masih dianggap sebagai orang Tionghoa.

Berbagai upaya seperti penyatuan dengan masyarakat Indonesia, seorang WNI keturunan Tionghoa masih saja oleh masyarakat Indonesia ditentukan identitasnya sama seperti masyarakat Tionghoa atau paling tidak sebagai seorang Tionghoa.

Sejarah pengakuan warga etnis Cina ini terdapat dalam buku Charles yang berjudul Tionghoa Indonesia dalam krisis (1994;23-24). (Erik/R6/HR-Online)

Editor: Muhafid