Yutu-2 Temukan Batu Aneh di Bulan, Ungkap sebagai Tonggak Sejarah

Yutu-2 Temukan Batu Aneh di Bulan
Ilustrasi Yutu-2 Temukan Batu Aneh di Bulan. Foto: Ist/Net

Yutu-2 temukan batu aneh di bulan. Pesawat luar angkasa milik China kembali beraksi untuk hari ke-27 pada permukaan bulan. Dalam aksi mereka tersebut, terdapat sebuah penemuan dari hari Lunar yang menjadikan para ilmuwan penuh semangat.

Setelah menjalani mode tidur sepanjang 14 hari Bulan Penjelajah, Yutu-2 mendeteksi batu yang aneh pada bagian sisi jauh bulan. Batuan itu telah mereka perkirakan keluar dari salah satu kawah lantaran tekanan siklus termal pada permukaan.

Misi Yutu-2 Temukan Batu Aneh di Bulan

Batu yang oleh tim Yutu-2 tersebut temukan yakni sebagai “tonggak sejarah” yang memanjang pada permukaan bulan. Mengutip Space, jika The Chang’e pendarat serta Yutu-1 rover telah melanjutkan aksi pada 6 Februari. Setelah melalui hibernasi sepanjang dingin pada malam bulan.

Penemuan tersebut menjadi penemuan yang luar biasa dan terlihat menonjol keluar dari permukaan tanah. Badan Luar Angkasa Nasional China (CNSA) akan melakukan pemeriksaan terhadap batu tersebut dari jarak yang lebih dekat.

Dari bentuk yang tampak atas apa yang Yutu-2 temukan batu aneh di bulan, batuan tersebut terlihat masih muda berdasarkan geologis. Karena strukturnya belum mengalami kerusakan dan masih membulat.

“Terlihat mempunyai bentuk seperti pecahan dan mencuat dari permukaan tanah. Hal itu jelas tidak seperti biasanya,” ucap Dan Moriarty. Ia adalah rekan Program Pascadoktoral NASA pada Pusat penerbangan Luar Angkasa Goddard di Greenbelt, Maryland.

Lalu ada kemungkinan jika batu tersebut merupakan batu akibat siklus termal. Bentuk dari pelapukan yang lain pada permukaan bulan seluruhnya akan relatif memecah bebatuan menjadi bentuk bulat.

Batu tersebut kemungkinan besar telah terlontar dari dalam kawah yang paling dekat. Kemudian, para ilmuwan dan ahli pun akan memakai peralatan Spektrometer Pencitraan Inframerah serta Visible Rover dalam melakukan analisis batuan tersebut secara lebih lanjut.

Peralatan tersebut akan mendeteksi cahaya yang telah tersebar dari batuan. Hal itu tentunya akan mampu untuk menganalisis susunan atas Yutu-2 temukan batu aneh di bulan.

Alat itu sama juga yang mereka pakai dalam menganalisa zat yang telah mereka temukan pada permukaan Bulan pada tahun 2019 silam. Zat itu ternyata mempunyai kemiripan dengan sampel yang telah misi Apollo 17 ambil pada tahun 1972.

Baca Juga: Aktivitas Tektonik di Bulan, Bukti Bahwa Bulan Tidak Mati

Instrument VNIS (Visible and Near Infrared Imaging Spectrometer)

Karena peralatan VNIS tersebut akan para ilmuwan rencanakan sebagai alat dalam mempelajari lebih cermat tentang batu tersebut. Kemudian, dari alat tersebut akan bisa mengungkap riasan dari batu tersebut.

VNIS telah mereka pakai dalam penyelidikan beberapa sampel batuan serta regolit. Dalam sepanjang jalur Yutu-2 yang melintas pada kawah Von Karman. Hal ini termasuk spesimen kaca leleh yang tidak biasa serta kemungkinan material daripada mantel buatan.

Walaupun tak tampak menarik untuk mata yang tidak terlatih, Yutu-2 temukan batu aneh di bulan ini pun telah menarik minat para ilmuwan bulan.

“Dampak berulang, tekanan siklus termal, dan bentuk lain daripada pelapukan pada permukaan bulan semuanya cenderung memecah batuan menjadi bentuk bulat yang lebih atau kurang apabila diberi waktu yang cukup,” ucap Moriarty.

“Bayangkan, bagaimana pantai yang berbatu mengikis batuan menjadi bentuk bulat mulus dari waktu ke waktu dengan berulang kali berdesakan dalam ombak.”

Lalu Moriarty pun mengatakan jika baik bentuk batu seperti pecahan atau “punggung bukit” yang ada pada dekat tepi batu, tampaknya menunjukkan jika batuan ini masih muda secara geologis dan masih relatif baru.

Pendeteksian lebih lanjut atas Yutu-2 temukan batu aneh di bulan serta data dari VNIS akan memberikan wawasan yang lebih jauh dan lebih luas.

Seorang ahli bulan terkemuka dari Universitas Notre Dame, Clive Neal, juga setuju jika berdasarkan foto, spesimen merupakan dampak ejecta daripada batuan dasar yang terbuka.

“Pertanyaan yang saya ajukan adalah turunan lokal? Mudah-mudahan data spektral memungkinkan tentang evaluasi asal sebagai eksotis atau lokal, yakni luar daerah ini,” ucapnya.

Pesawat Chang’e 4 dan pendarat Yutu-2 telah menempuh total perjalanan 2.060 kaki atau 628 meter sejak pertama kali penempatan dari pendaratannya 3 Januari 2019 lalu. Sehingga, Yutu-2 temukan batu aneh di bulan ini menjadi salah satu temuan luar biasa dan sejarah baru dalam ilmu sains. (R10/HR Online)

Editor: Jujang