Selasa, Januari 31, 2023
BerandaBerita TerbaruBioteknologi Konvensional, Pengertian dan Contohnya

Bioteknologi Konvensional, Pengertian dan Contohnya

Bioteknologi konvensional, pengertian dan contohnya. Bioteknologi merupakan golongan ilmu biologi yang membahas tentang pemanfaatan mikrooragnisme.

Mikroorganisme berfungsi dalam membantu proses pembuatan makanan untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Peran mikroorganisme sangat penting, jika tidak ada mikroorganisme maka bioteknologi tidak berfungsi. 

Bioteknologi bukan lagi ilmu yang baru dalam dunia sains, karena bioteknologi sudah ada sejak dulu. Hanya saja tidak berkembang seperti saat ini.

Bioteknologi dalam penerapannya terbagi menjadi dua yaitu bioteknologi yang bersifat konvensional atau tradisional dan bioteknologi yang bersifat modern.

Masing-masing mempunyai peranan penting dalam kehidupan manusia 

Bioteknologi yang bersifat tradisional cara kerjanya memerlukan mikroorganisme dalam proses pengerjaan, sementara bioteknologi modern cara kerjanya menggunakan bahan-bahan yang bersifat kimia seperti rekayasa genetik. 

Namun saat ini Harapanrakyat.com akan membahas tentang bioteknologi yang sifatnya tradisional yang mudah kita temukan dalam sehari-hari.

Pengertian Bioteknologi Konvensional

Bioteknologi yang sifatnya tradisional ini merupakan proses pembuatan makanan ataupun barang dengan menggunakan bantuan mikroorganisme.

Mikroorganisme untuk proses pembuatan atau terkenal dengan proses fermentasi.

Bahan bahan yang terlibat dalam proses mikroorganisme konvensional sifatnya masih alami tidak tercampur dengan bahan-bahan yang bersifat kimia.

Keunggulan dari bioteknologi konvensional adalah mudah penggunaannya dalam pada proses pembuatannya (easy friendly).

Dalam melakukan bioteknologi tidak memerlukan pengeluaran yang banyak karena biayanya relatif sedikit.

Karena prosesnya hanya menggunakan mikroorganisme yang sifatnya alami, maka tidak mempunyai dampak yang buruk jika sering mengonsumsinya dan dalam waktu yang lama. 

Mikroorganisme dalam proses fermentasi mampu menciptakan jenis makanan yang bervarian.

Mikroorganisme tersebut juga mampu menguraikan nilai gizi yang terdapat pada makanan. 

Sementara kekurangan dari proses bioteknologi konvensional adalah tidak mampu memprediksi hasilnya.

Karena menggunakan proses dan bahan alami, maka hasilnya bergantung pada keadaan alam yang sedang terjadi.

Kualitas produk dengan sistem bioteknologi konvensional sangat sulit kita prediksi. Karena keadaan alam sewaktu-waktu bisa berubah.

Karena itu, lebih baik memproduksi sedikit demi sedikit untuk mengatasi rasa kecewa karena gagalnya produk yang kita buat. 

Adapun ciri-ciri bioteknologi konvensional adalah : 

  1. Teknologi untuk memprosesnya merupakan teknologi yang bersifat sederhana karena hanya memerlukan mikroorganisme.
  2. Tidak memerlukan banyak pengeluaran dalam proses pembuatan. 
  3. Peralatan dalam bioteknologi konvensional termasuk sederhana.

Contoh Penerapan Bioteknologi Konvensional

Adapun untuk penerapan penggunaan bioteknologi yang sifatnya tradisional ini biasanya kita jumpai dalam berbagai aspek, antara lain : 

  1. Aspek pertanian

Dalam aspek pertanian salah satu tindakan yang menggunakan bioteknologi konvensional adalah menciptakan bibit tanaman dengan kualitas baik.

Untuk menciptakan bibit tanaman yang mempunyai kualitas baik, prosesnya juga harus kita perhatikan.

Memberikan pupuk pada bibit yang kita tanam akan membuat bibit tumbuh dengan baik, karena bibit mendapatkan suplemen makanan dari pupuk tersebut. 

Pupuk yang kita gunakan akan lebih baik jika pupuk tersebut merupakan pupuk alami. Proses pembuatan pupuk alami ini menggunakan bioteknologi konvensional.

  1. Aspek peternakan

Sedangkan dalam aspek pertenakan hampir sama dengan aspek pertanian. Untuk mendapat hasil ternak yang unggul maka harus memelihara dengan cara unggul pula. 

  1. Aspek pembuatan makanan

Untu aspek pembuatan makanan banyak kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya pada proses pembuatan tempe, keju, kecap dan nata de coco yang memerlukan bantuan mikroorganisme.

  1. Aspek lingkungan

Untuk aspek lingkungan penerapan bioteknologi konvensional sering kita temui pada proses pengolahan air limbah.

Pengolahan limbah air menggunakan teknologi ini sangat efisien. Air limbah yang sudah terurai akan berubah menjadi tanah subur.

Proses pengolahan lumpur atau tanah ini memanfaatkan mikroorganisme untuk menjadikan tanah tersebut subur. 

Bioteknologi Konvensional dalam Kehidupan Sehari-Hari

Bioteknologi konvensional banyak kita temukan pada kehidupan sehari-sehari khususnya pada makanan.

Beberapa makanan yang kita temui merupakan hasil dari bioteknologi konvensional.

Contohnya sebagai berikut : 

  1. Proses pembuatan tempe menggunakan bioteknologi tradisional. Bahannya yaitu kedelai dan ragi. Dalam proses pembuatan tempe, menggunakan mikroorganisme jamur Rhizopus sp. Jamur tersebut membantu pada saat fermentasi agar mendapatkan hasil tempe yang unggul. Jika jamur tidak berfungsi maka kedelai tidak akan berubah menjadi tempe.
  2. Selanjutnya adalah proses pembuatan yogurt. Proses fermentasi pada pembuatan yogurt memanfaatkan mikroorganisme lactobacillus subtilis dan lactobacillus bulgaricus. Mikroorganisme tersebut mengurai protein yang ada ada pada susu kemudian berubah menjadi asam laktat.
  3. Saat pembuatan keju dibantu oleh lactobacillus dan streptococcus. Mikroorganisme terbuat merubah laktosa yang ada pada susu menjadi asam laktat.
  4. Minuman beralkohol pada proses pembuatannya memerlukan lebih dari satu mikroorganisme. Mikroorganisme yang membantu proses pembuatan minuman beralkohol antara lain aspergillus dan saccharomyces. 
  5. Proses pembuatan kecap juga menggunakan bioteknologi konvensional dengan fermentasi dari kedelai kemudian memanfaatkan mikroorganisme aspergillus wentii. 
  6. Kemudian nata de coco merupakan hasil fermentasi air kelapa yang memanfaatkan mikroorganisme acetobacter xylinum. (Deni/R4/HR-Online)