Istilah Perkencanan Era Digital, Mulai Ghosting Hingga Zombie-ing

Kencan Digital
Istilah perkencanan era digital, mulai ghosting hingga zombie-ing. Foto: Ilustrasi/Net.

Istilah perkencanan era digital saat ini pastinya terdengar asing oleh telinga kita saat lima tahun kebelakang. Misalnya seperti istilah ghosting yang akhir-akhir ini menjadi kata viral.

Dalam dunia perkencanan era digital, perilaku lawan jenis semakin sulit ditebak. Jejaring sosial dan fitur pesan singkat yang kian beragam telah membuat urusan dalam penjajakan suatu hubungan tidak lagi sesederhana dulu.

Mulai dari jadian, bertengkar, bahkan sampai putus pun bisa terjadi melalui ‘dunia maya’ tanpa adanya tatap muka. Semua dimulai dan juga diakhirinya melalui deretan pesan teks.

Selain itu, perkencanan tersebut juga memakai istilah-istilah yang terdengar asing bagi mereka yang tidak menjalaninya.

Merangkum dari berbagai sumber, berikut ini 13 penjelasan istilah dalam perkencanan dewasa melalui ‘dunia maya’ yang terjadi saat ini.

Mengenal 13 Istilah Perkencanan Era Digital

Pocketing

Menurut juru bicara situs perkencanan online Happn, Eugenie Legendre, istilah pocketing adalah jalinan suatu hubungan dengan seseorang, tetapi kita tidak memperkenalkannya kepada keluarga maupun orang-orang yang ada dalam pergaulan sosial kita.

Istilah ini seperti halnya menyembunyikan pacar dalam saku (pocket) supaya tidak ada orang yang mengetahuinya mengenai keberadaannya.

Baca Juga : Era Digital, Bangun Hidup Lebih Produktif!

Sama halnya seperti kukis yang kita simpan dalam toples sebagai persediaan cemilan. Jadi, kalau hubungan gagal masih punya kue cadangan dalam toples yang bisa kita comot.

Bahkan, ada pula yang menyebut kondisi ini dengan istilah cushioning, yaitu merujuk pada bantal yang empuk untuk mencegah jangan sampai terkapar jika kita sampai terjatuh.

Benching

Istilah perkencanan era digital selanjutnya yaitu istilah benching. Ini masih ‘bersaudaraan’ dengan cushioning, namun lebih kejam. Sebab, si pelakunya membiarkan orang yang menyukainya untuk terus berharap.

Bahkan selalu bertanya-tanya atas perhatian yang pelaku berikan meski cuma sekali waktu. Padahal si pelaku sendiri tidak pernah merasa tertarik oleh orang tersebut, karena mungkin sudah memiliki pacar yang tetap.

Kalaupun sampai putus, orang tersebut tidak akan sampai “naik kasta” menjadi pacar barunya. Tugasnya hanya sebagai pemain cadangan (bench) untuk selamanya. Jadi selalu diberi harapan, tetapi tidak pernah punya peran untuk turun ke lapangan.

Bagi sebagian orang mungkin memang suka “memelihara” penggemar, tujuannya untuk sekadar memuaskan ego mereka.

Baca Juga : Lima Tren Teknologi Tantangan Perusahaan di Era Digital

Prowling

Prowling juga menjadi salah satu istilah perkencanan era digital. Istilah prowling yaitu tindakan predator ketika bermain-main dengan mangsanya.

Suatu waktu mereka menunjukkan perhatiannya secara intens, kemudian sikapnya berubah menjadi dingin pada keesokan harinya, lalu menghilang pada minggu berikutnya.

Ketika sang korban mulai move on, si predator pun kembali. Bahkan bukan sekadar basa-basi dengan menanyakan kabar, tetapi langsung “menembaknya” dengan tiba-tiba WhatsApp call, atau mengajak ketemuan.

Tentunya perhatian intens seperti ini tidak akan bertahan lama. Karena nantinya ia akan kembali menghilang, lalu muncul lagi. Begitu seterusnya sampai korbannya terkapar “babak belur” yang pada akhirnya mengibarkan bendera putih.

Orbiting

Salah satu istilah perkencanan era digital saat ini adalah kata orbiting. Seperti halnya bulan yang selalu mengorbit mengitari bumi, namun tidak pernah benar-benar bisa meraihnya.

Dalam hal ini, istilah orbiting mereka gunakan untuk sang mantan namun masih saja “beredar”. Ia rajin memberi like pada postingan, lalu berkomentar. Bahkan sampai mengajak ngobrol. Tapi mereka itu sebenarnya tidak ada dalam hidupmu. Tentunya bikin capek kan?

Ghosting

Ada pula ghosting yang menjadi istilah perkencanan era digital. Bahkan, istilah ini sempat viral di media sosial gara-gara soal asmara Kaesang Pangarep.

Pelaku ghosting ini akan menghilang begitu saja ketika mereka ingin mengakhiri sebuah hubungan, tanpa memberikan penjelasan. Atau mereka malah menjauhi orang yang sedang ia dekati tanpa pamit.

Jadi pada intinya mereka tidak mau ribet sehingga lebih memilih pergi meninggalkannya dengan cara yang memang tidak fair.

Soft-Ghosting

Selain ghosting, dalam istilah perkencanan era digital ini ada juga istilah soft ghosting. Seseorang melakukan soft-ghosting jika ia sering memberikan like dalam pesan orang yang sedang pendekatan dengannya. Tapi ia tidak benar-benar membalasnya.

Selain itu, ia membalas komentar dalam unggahan jejaring sosial seseorang dengan like, namun tidak me-reply. Tindakan seperti ini pun termasuk soft-ghosting.

Kalau menilai kadar sadisnya, tindakan soft-ghosting mungkin masih lebih mending ketimbang ghosting, yang mana si pelaku langsung memutuskan hubungan begitu saja. Bahkan sampai ke tingkat pemblokiran kontak.

Meski begitu, soft-ghosting lebih berpotensi membuat seseorang galau. Karena si korbannya jadi merasa ragu dan bertanya-tanya, apakah si pelaku sedang mengisyaratkan untuk mengakhiri percakapan?

Baca Juga : Aplikasi Apotek Digital OnlineMedis Beragam Manfaat, Simak Ulasannya

Haunting

Istilah perkencanan era digital berikutnya yaitu haunting alias menghantui. Sudah menjadi hantu (ghost), tapi masih juga membuat hidup tidak tenang dengan hanya memberikan like. Atau mengintip story, dan follow lagi jejaring sosial. Ini namanya haunting setelah ghosting.

Zombie-ing

Setelah ghosting, si pelaku tiba-tiba haunting, kemudian sok akrab lagi seperti tidak pernah menghilang. Semacam mayat yang secara tiba-tiba hidup lagi.

Jadi pantas jika istilah zombie-ing ini berlaku bagi si pelaku ghosting dan haunting. Bahkan, ada pula yang menyebutnya dengan istilah submarine-ing. Karena seperti sebuah kapal selam yang kembali muncul ke permukaan air.

Cat-fishing

Istilah perkencanan era digital juga mengenal cat-fishing. Ada pula yang menyebutnya dengan istilah kitten-fishing. Istilah ini menggambarkan orang-orang yang sering memakai foto extra-edited.

Bahkan orang tersebut sampai mencomot identitas seseorang agar terlihat lebih menarik dalam aplikasi kencan atau jejaring sosial. Tujuannya untuk menggaet pasangan.

Tapi tindakan catfishing ini biasanya menjadi melebar ke arah penipuan, baik terkait uang atau tindakan kriminal lainnya.

Breadcrumbing

Breadcrumbing juga dikenal dalam istilah perkencanan era digital. Istilah ini merujuk seseorang yang dengan sengaja meninggalkan jejaknya berupa perhatian alakadarnya. Tujuannya agar kita selalu berharap.

Seseorang bisa melakukan breadcrumbing ketika cintanya kepada pasangan sudah hilang. Namun ia tidak melepaskannya karena tidak mau kehilangan ‘penggemar’.

Cuffing Season

Bayangkan ketika udara dingin, lalu tiba-tiba kamu rindu selimut tebal dan hangat yang biasanya hanya kamu simpan dalam lemari.

Istilah cuffing season dalam perkencanan era digital ini juga begitu. Mereka tiba-tiba ngotot cari pasangan, tapi bukan ingin menjalin komitmen. Mereka hanya terdorong ingin mengobati rasa kesepiannya.

Memang pelukan hangat terasa menggoda ketika hati hampa. Tapi kalau bicara komitmen, itu lain ceritanya. Jika hati sudah merasa lega, maka selimut yang hangat itu bisa masuk lagi ke lemari.

Curving

Istilah perkencanan era digital yang terakhir dalam bahasan ini yaitu Curving atau swerving. Awalnya memang terlihat kejam, namun hal ini merupakan tindakan yang justru paling fair daripada ghosting, atau istilah lainnya dalam perkencanan “dunia maya”.

Curving artinya menolak secara tegas pendekatan seseorang ketika kita merasa tidak tertarik kepada orang tersebut. Penolakan itu terjadi bisa sejak awal perkenalan, atau setelah penjajakan.

Itulah beberapa istilah dalam perkencanan era digital saat ini yang perlu kamu ketahui. Sehingga kamu tidak termasuk orang yang ‘kudet’ (kurang update). (Eva/R3/HR-Online)

Editor : Eva Latifah