Kasus Pencabulan di Kota Banjar, Polisi Tegaskan Korban Bukan Hamil

Kasus Pencabulan di Kota Banjar
Kanit IDIK IV RENAKTA/PPA Satreskrim Polres Banjar Aiptu Hidayat. Foto: Muhlisin/HR

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),- Jajaran Kepolisian Satreskrim Polres Banjar, Polda Jawa Barat, masih terus melakukan pemeriksaan dugaan perkara kasus tindak asusila pencabulan yang dilakukan oleh saudara G terhadap anak kandungnya sendiri inisial W warga lingkungan Kelurahan Hegarsari, Kecamatan Pataruman, Kota Banjar.

Menurut keterangan Kasatreskrim Polres Banjar, Iptu. Zulkarnaen, melalui Kanit PPA Aiptu Hidayat, pihaknya saat ini sudah melakukan pemeriksaan forensik untuk memastikan kondisi dan kehamilan korban.

Dari hasil pemeriksaan hasil forensik yang dilakukan oleh pihak rumah sakit menyatakan bahwa korban tindak asusila pencabulan tersebut tidak sedang dalam keadaan hamil.

Akan tetapi, perut korban yang terlihat membesar seperti orang hamil tersebut karena korban tengah mengidap penyakit tumor pada rahimnya.

“Dari hasil forensik rumah sakit korban mengidap penyakit tumor pada rahimnya. Jadi, bukan karena sedang hamil,” kata Aiptu Hidayat kepada wartawan, Kamis (4/3/2021).

Namun demikian, lanjut Aiptu Hidayat, dari keterangan korban serta saksi-saksi yang ada korban memang kerap mendapatkan tindak kekerasan seperti pemukulan pada bagian perut, punggung dan kaki dari pelaku.

Baca Juga: Tega! Seorang Ayah di Kota Banjar Diduga Hamili Anak Kandungnya

Selain itu, berdasarkan keterangan pelaku ia juga mengakui perbuatannya melakukan pencabulan kepada korban sejak korban masih duduk di bangku SMP.

Pada saat menjalankan aksinya tersebut, imbuh Iptu Hidayat, pelaku selalu mengancam korban ketika menolak untuk diajak berhubungan badan. Pelaku menjalankan aksinya di rumahnya sendiri pada malam hari saat anggota keluarganya tengah tertidur.

“Dari pengakuan pelaku ia sudah sepuluh kali melakukan perbuatannya itu. Korban

memilih menuruti kemauan pelaku karena merasa takut mendapatkan ancaman,” terang Aiptu Hidayat.

Pemeriksaan Kasus Pencabulan di Kota Banjar Sesuai Prosedur

Terpisah, mengenai status hamil yang disampaikan oleh pihak keluarga berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan oleh Bidan Puskesmas, Kepala Puskesmas Banjar 3 dr. Sari Wiharso mengatakan, bahwa pemeriksaan yang dilakukan oleh pihak Puskesmas sudah sesuai prosedur.

dr. Sari menjelaskan, awalnya pada hari Jum’at salah seorang bidan yang bertugas di Puskesmas menerima seorang ODGJ didampingi oleh saudara dan relawan dalam kondisi perutnya besar dan dikatakan tengah hamil.

Karena ada diagnosa semacam itu bidan kemudian terlebih dahulu melakukan anamnesa awal sebagaimana keterangan yang didapat dari keluarga bahwa sebelumnya pasien sudah dibawa ke paraji dan dinyatakan hamil selama empat bulan.

Kemudian bidan tersebut melakukan pemeriksaan berupa pemeriksaan fisik

dengan cara pengukuran tinggi fundus uteri atau titik tertinggi pada rahim dan melakukan pemeriksaan adanya ballotement sebagai salah satu tanda pemeriksaan kemungkinan hamil.

“Dari pemeriksaan itu kemudian disimpulkan bahwa pasien dinyatakan hamil dengan usia kehamilan 21 minggu atau enam bulan,” ujar dr. Sari Wiharso. 

Untuk mendukung pemeriksaan fisik tersebut lanjutnya, seharusnya ditindaklanjuti dengan pemeriksaan urine atau air seni pasien. Namun karena kondisi pasien tidak memungkinkan pemeriksaan urine tersebut tidak dilakukan pada saat itu. 

Kemudian, pada saat itu juga tidak dilakukan pemeriksaan USG untuk memastikan kondisi kehamilan sebagai pembanding hasil pemeriksaan fisik. Alasannya lantaran tidak tersedia USG di Puskesmas.

Selanjutnya, pihak Puskesmas menyarankan kepada keluarga korban agar nanti pada hari Senin membawa kembali pasien tersebut ke Puskesmas. Namun pasien tersebut tidak datang melakukan pemeriksaan tes urine. 

“Sesuai dari anamnesa dari keluarga dan pemeriksaan fisik itu kemudian didiagnosa sementara korban tengah hamil dengan usia kandungan selama 21 Minggu,” terang dr. Sari Wiharso.

Permohonan Maaf

Lebih lanjut ia menyampaikan, atas kejadian tersebut pihaknya meminta maaf kepada semua pihak atas kesalahpahaman dan ketidaknyamanan yang terjadi dengan adanya pemeriksaan yang menyatakan pasien tengah dalam keadaan hamil dengan usia kehamilan 21 Minggu itu.

Pihaknya akan lebih selektif ketika mendapat informasi dan ketika melakukan pemeriksaan agar kejadian tersebut tidak terulang kembali di kemudian hari.

“Tentunya ini menjadi pengalaman bagi kami agar dalam melakukan pemeriksaan ke depan lebih selektif lagi. Sehingga tidak terjadi lagi kesalahan yang sama,” pungkasnya. (Muhlisin/R7/HR-Online)

Editor: Ndu