Keteladanan Nabi Nuh Mengajarkan Kesabaran dan Setia Kepada Allah

Keteladanan Nabi Nuh Mengajarkan Kesabaran dan Setia Kepada Allah
Ilustrasi Keteladanan Nabi Nuh. Foto: Ist/Net

Keteladanan Nabi Nuh merupakan sebuah Kisah yang mengajarkan kepada kita tentang buah kesabaran. Nabi Nuh As merupakan Nabi Allah urutan ketiga dari 25 Nabi yang wajib kita imani. Iman kepada nabi dan rasul sendiri merupakan rukun iman yang keempat.

Kisah Keteladanan Nabi Nuh As yang Perlu Kita Ketahui

Sebenarnya terdapat beberapa kisah keteladanan Nabi Nuh As yang bisa kita ambil hikmah untuk kehidupan kita. Namun, salah satu kisah yang paling dan terpopuler adalah Nuh bisa membuat kapal besar untuk semua pengikutnya.

Perahu besar ini juga merupakan mukjizat yang telah Allah SWT berikan hanya kepada Nabi Nuh. Konon katanya, puing-puing perahu tersebut sampai saat ini masih ada.

baca juga: Kisah Keteladanan Nabi Yusuf, Bukti Bahwa Pertolongan Allah Itu Ada

Biografi Tentang Nabi Nuh Alaihissalam

Keteladanan Nabi Nuh dari biografinya. Ayah Nabi Nuh bernama Lamik bin Matta Syalih bin Idris. Berdasarkan kitab Ibnu Katsir Nuh adalah nabi turunan ke-9 Nabi Adam As.

Berdasarkan riwayat Shahih Ahli Ibadah sejarah Islam jarak antara Nabi Nuh dan Adam sekitar 10 abad. Hal tersebut juga terdapat dalam Hadits Riwayat Ibnu Hibban dan juga Thabrani.

Abu Umamah mendengar percakapan Rasulullah bersama seseorang yang bertanya kepadanya: “Wahai Rasul Muhammad, apakah Adam itu seorang Nabi? Nabi Muhammad bersabda: ya benar. Orang tersebut bertanya kembali: Berapa jarak antara Adam dan Nuh? Baginda Nabi Menjawab: Sepuluh Abad” (HR. Ibnu Hibban dan Thabrani).

Dalam Al-Quran surat Al-Ankabut ayat 14 menyebutkan:

Perjalanan Dakwah

Perjalanan dakwah inilah awal mula keteladanan Nabi Nuh As. Najiyullah Allah angkat menjadi nabi dan rasul saat usianya 480 tahun. Maa Syaa Allah, umur yang sudah segitu banyaknya Allah masih memberikan hidup. Maka jangan menyia-nyiakan saat kita diberi kesempatan hidup, gunakan untuk hal kebaikan.

Allah Ta’alla mengutus Nuh As untuk mendakwah dan mengajak kaumnya yang sudah terlanjur menyembah berhala. Berhala yang mereka buat sendiri dan mereka sembah sendiri. Naudzubillahi mindzalik.

Nabi ketiga tersebut mempunyai tugas khusus dari Allah untuk mengajak Darmasyil lalu juga umatnya untuk menyembah Allah dan meninggalkan berhala-berhala tersebut. Siapakah Darmasyil itu? Ia adalah keturunan Adam yang keempat, yang juga merupakan raja yang dzalim pada masa itu.

Keteladanan Nabi Nuh dalam berdakwah selama 5 abad (500 tahun). Ia berjuang dengan kerja keras dan pantang menyerah. Ia mengawali dakwah tersebut dengan cara yang lembut, sembunyi-sembunyi, bahkan juga terang-terangan.

Meskipun begitu, hanya sedikit saja yang mau menjadi pengikut Nabi Nuh As kurang lebih 70 sampai 80 orang saja. Kebanyakan pengikutnya juga berasal dari orang miskin, pekerja kasar, tak ada satu pun yang berasal dari keturunan yang berpunya.

Perjalanan dakwah tersebut terdapat dalam Al-Quran surat Nuh ayat 5-9:

baca juga: Kisah Nabi Ilyas AS Mengajak Bani Israil Menyembah Alloh SWT

Mukjizat Nabi Nuh Membuat Kapal Besar

Meski dakwahnya tak membuahkan hasil yang memuaskan, tetapi Nabi Nuh tetap setia kepada Allah SWT. Hal itulah yang menyebabkan Allah mengangkatnya menjadi Nabi Ulul Azmi.

Pasalnya, keteladanan Nabi Nuh yang tetap setia untuk menjadi pendakwah agama Allah tersebut, membuat ia berdoa dalam menghadapi kaumnya yang durhaka.

Mendengar doa Nabi Nuh yang tulus ikhlas, Allah lalu mengabulkannya. Dia menyuruh Nuh untuk membuat bahtera besar.

Mendengar perintah Allah tersebut, Nabi Nuh segera membuat, tentu ini menjadi keteladanan karena taat. Namun setiap kali Nabi Nuh memimpin kaumnya melewati kaum yang tidak mengikuti ajarannya, selalu saja diejek.

Setelah perintah Allah Nabi Nuh jalankan dengan baik dan sesuai dengan tuntunan, tak lama kemudian Allah menurunkan hujan dan juga badai besar. Sehingga menyebabkan banjir besar yang menenggelamkan bumi.

Maka orang-orang pengikut Nabi Nuh selamat, sedangkan mereka yang durhaka tenggelam. Termasuk anaknya Nabi Nuh sendiri kan’an dan juga istrinya.

Ia juga tidak memandang tinggi dan rendahnya seseorang. Beberapa keteladanan Nabi Nuh tersebut menjadi kisah rekomendasi untuk anak-anak kita. (Muhafid/R6/HR-Online)

Editor: Muhafid