Kisah di Balik Hari Peringatan Bandung Lautan Api 24 Maret

Hari Peringatan Bandung Lautan Api

Kisah di balik Hari Peringatan Bandung Lautan Api 24 Maret yang sangat bersejarah hingga sekarang. Hal tersebut merupakan sebuah momen yang penting bagi seluruh rakyat Bandung dan masyarakat seluruh Indonesia.

Kejadian Bandung Lautan Api sangat berkaitan dengan rakyat Bandung serta Stadion Siliwangi yang pernah menjadi kandang Persib. Momen itu menjadi saksi para heroik rakyat Bandung dan para tentara dalam melawan penjajah.

Pada saat itu Kota Bandung memerah sejadi-jadinya hingga asap tebal melambung di langit kota ini. Untuk membayangkan saja sudah tergambar betapa mengerikan pertempuran saat itu yang memakan banyak korban nyawa para pahlawan.

Peristiwa pengosongan dan pembakaran kota oleh rakyat Kota Bandung dan para tentara Indonesia sebagai wujud penolakan terhadap permintaan Sekutu dan NICA. Para penjajah Sekutu dan NICA berniat ingin menjadikan Kota Bandung sebagai markas pasukan mereka.

Latar Belakang Peristiwa Bandung Lautan Api

Latar belakang peristiwa Bandung Lautan Api tertulis dalam buku Sejarah Nasional Indonesia VI (2008) karya dari Djoened Poesponegoro serta kawan-kawannya. Djoened menuliskan bahwa awal peristiwa terjadi pada tanggal 12 Oktober 1945.

Pada tanggal tersebut Sekutu atau pasukan Inggris datang ke Kota Bandung. Sekutu datang ke Indonesia setelah menang dari Perang Dunia ke II melawan Jepang. Saat itu bertepatan setelah Proklamasi Kemerdekaan RI, Sekutu bergabung dalam AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies).

Menurut Muhammad Lilly Purwa Satria mengatakan bahwa awal kedatangan mereka bertujuan untuk membebaskan Sekutu dari tentara Jepang. Hal tersebut dalam tulisan bertajuk “Peran Sewaka dan Sukanda Bratamanggala dalam mempertahankan Kemerdekaan RI tahun 1945- 1946 di Bandung Utara”.

Akan tetapi, pasukan Belanda atau NICA turut mengikuti pasukan Sekutu masuk ke Indonesia. Maksud dari kedatangan pasukan Belanda untuk kembali menguasai Indonesia. Dan akhirnya terjadi pertempuran oleh prajurit dan rakyat Indonesia melawan pasukan Belanda.

Kronologi Peristiwa Bandung Lautan Api

Kisah dibalik Hari Peringatan Bandung Lautan Api 24 Maret bermula pada Oktober 1945. Pada 12 Oktober 1945 para Sekutu dan tentara Belanda datang ke Kota Bandung melalui Brigade Macdonald. 

Kedatangan Sekutu dan tentara Belanda ke Bandung memiliki maksud tertentu pada masyarakat kota ini.Sekutu bermaksud ingin meminta kembali semua senjata yang telah dilucuti oleh para pemuda Bandung.

Setelah berada di Kota Bandung, Sekutu kemudian membagi kota ini menjadi 2 wilayah. Yaitu wilayah Bandung Utara dan juga wilayah Bandung Selatan. Yang kemudian pada tanggal 29 November 1945, sekutu menyuruh rakyat untuk mengosongkan Kota Bandung.

Pengosongan ini bermaksud untuk membangun kota ini menjadi markas oleh pasukan Sekutu. Akan tetapi para pemuda tidak mengetahui tentang kedatangan Sekutu serta niat dari Sekutu untuk Kota Bandung.

Kota Bandung Mulai Terbakar

Saat Sekutu meminta mengosongkan wilayah Bandung rakyat dari wilayah Bandung Utara menolak untuk menyerahkan wilayahnya. Meskipun melawan dan bertahan atas ancaman Sekutu, namun rakyat Bandung saat itu bingung dengan perintah dari Ibukota yang berada di Jakarta dan Yogyakarta.

Kedua pemerintahan tersebut memiliki perbedaan dalam mengemukakan perintah untuk rakyat. Pemerintah di Yogyakarta meminta rakyat untuk segera mengosongkan wilayah Bandung Utara sesuai permintaan dari Sekutu.

Sedangkan perintah dari pemerintah RI di Jakarta meminta rakyat untuk tidak mengosongkan dan menyerahkan wilayah Bandung Utara kepada Sekutu. Hingga akhirnya para pemuda Bandung mengetahui semua kejadian yang tengah terjadi.

Setelah mengetahui perbuatan Sekutu, lantas para pemuda Bandung mulai menyerang Sekutu pada tanggal 24 Maret para pemuda tersebut dengan  menyerang pos-pos dari Sekutu termasuk rumah dan harta mereka.

Tidak hanya itu para pemuda Bandung juga membakar bagian utara Bandung tempat kedudukan-kedudukan Inggris. Para pasukan penjajah juga menggunakan Hotel Preanger dan Hotel Homann sebagai markas erka.

Oleh para pemuda Bandung juga membakar kedua hotel tersebut yang berada di bagian utara Kota Bandung. Pemuda yang terjun untuk melakukan peristiwa tersebut sebanyak 200 ribu orang pada waktu malam hari selama 7 jam.

Dengan terjadinya pembakaran dimana-mana membuat para Sekutu membatalkan niatnya untuk menjadikan Kota Bandung sebagai markas militer. Kisah dibalik Hari Peringatan Bandung Lautan Api tanggal 24 Maret mengambil dari tanggal peristiwa tersebut.

Tokoh yang Berperan Dalam Peristiwa

Kolonel A.H. Nasution

Kolonel A.H. Nasution merupakan salah satu tokoh yang menjabat sebagai komandan DivISI iii dari Tentara Rakyat Indonesia(TRI). Tentara Rakyat Indonesia saat ini disebut juga sebagai TNI (Tentara Negara Indonesia).

Kolonel A.H. Nasution memiliki peran penting dalam peristiwa Bandung Lautan Api untuk mengambil keputusan besar. Kolonel A.H. Nasution melakukan hal tersebut dilakukan setelah Sekutu memberikan ultimatum.

Para pejuang lainnya. Kolonel A.H. Nasution merasa tidak terima saat Sekutu memanfaatkan Bandung. Sehingga Nasution ini mengumumkan hasil musyawarah dan memerintahkan untuk evakuasi di Bandung.

Pengumuman hasil musyawarah dan perintah tersebut pada Madjelis Persatoean Perdjoangan Priangan (MP3). Tepat saat berada di hadapan semua kekuatan perjuangan pihak dari Republik Indonesia (RI). Dan setelah itu penduduk daerah Bandung langsung membakar serta meninggalkan tempat tinggal mereka.

Mohammad Toha

Mohammad Toha selaku anggota Barisan Rakyat Indonesia (BRI) dan sebagai komandan pejuang. Dia bertugas dalam misi untuk menghancurkan gudang amunisi dan senjata milik dari pasukan Jepang di Bandung.

Mohammad Toha merupakan penduduk asli Kota Bandung, dia menjalankan misinya bersama Mohammad Ramdan. Mohammad Toha gugur saat melaksanakan misinya dalam berjuang dan hasil dari perjuangannya tidaklah sia-sia karena Sekutu mengalami kerugian besar.

Mayor Rukana

Kisah dibalik Hari Peringatan Bandung Lautan Api tanggal 24 Maret, Mayor Rukana adalah sosok yang memiliki ide atas peristiwa tersebut. Mayor Rukana merupakan komandan dari Polisi Militer di Bandung.

Saat musyawarah bersama Kolonel A.H. Nasution, Mayor Rukana memiliki ide untuk meledakkan terowongan Sungai Citarum yang berada di Rajamandala. Ide Mayor Rukana tersebut bertujuan untuk meluapkan sungai dan membuat Bandung menjadi lautan air.

Akan tetapi Mayor Rukana salah dalam menyampaikannya karena dia merasa sangat emosi saat bermusyawarah dalam pembahasan Bandung. Sehingga Mayor Rukana menyebut lautan air menjadi lautan api.

Sutan Sjahrir

Saat terjadinya pertempuran Bandung Lautan Api, Sutan Sjahrir menduduki jabatan sebagai Perdana Menteri Republik Indonesia. Sutan Sjahrir pula tokoh yang menyetujui ultimatum dari Sekutu untuk mengosongkan Bandung. Padahal saat itu Kolonel Abdul Haris Nasution tengah menentang dengan ultimatum dari Sekutu tersebut.

Akan tetapi pendapat Sutan Syahrir tersebut memiliki dasar, Sutan Sjahrir berpikir bahwa TRI tidak bisa menandingi Sekutu karena belum memiliki sarana yang memadai. Dengan sarana yang kurang bisa menimbulkan banyak korban jiwa.

Atje Bastaman

Kisah dibalik Hari Peringatan Bandung Lautan Api tanggal 24 Maret,sosok Atje Bastaman memiliki peran dalam mempopulerkan peristiwa tersebut. Dia sosok wartawan muda yang bekerja menulis artikel di Suara Merdeka.

Atje Bastaman menyaksikan secara langsung peristiwa Bandung menjadi Lautan api yang tampak merah. Dia menyaksikan lautan tersebut terjadi dari daerah Cicadas hingga daerah Cimindi. Hal tersebut disaksikan oleh Atje secara langsung dari atas bukit Gunung Leutik di Garut. (Deni/R4/HR-Online)