Senin, Oktober 18, 2021
BerandaBerita TerbaruMisi Pembersihan Sampah Luar Angkasa, Upaya Cegah Tabrakan

Misi Pembersihan Sampah Luar Angkasa, Upaya Cegah Tabrakan

Misi pembersihan sampah luar angkasa menguji teknologi baru. Sebuah misi demonstrasi untuk membersihkan puing-puing sampahnya pada ruang angkasa.

Misi demo tersebut diluncurkan Sabtu 20 Maret 2021. Hal ini berlangsung untuk beberapa bulan ke depannya dari Baikonur Cosmodrome di Kazakhstan.

Lebih terkenal sebagai ELSA-d, misi tersebut memamerkan teknologi baru. Tentunya dapat membantu menangkap sampah luar angkasa. Jutaan potongan puing-puing orbit mengapung di atas Bumi.

Baca Juga: Misi Luar Angkasa NASA Terbaru Siap Eksplor Tata Surya, Apa Saja?

Mengenal Misi Pembersihan Sampah Luar Angkasa

Puing-puing sampah meliputi bagian dari satelit lama dan roket yang telah mati di antariksa. Berat puing tersebut mencapai 9 ribu ton atau seukuran 720 bus sekolah.

Melansir Npr, puing-puing tersebut dapat mengancam hilangnya layanan yang diandalkan untuk kehidupan Bumi. Mulai dari prakiraan cuaca, GPS, dan telekomunikasi. Selain itu, juga menimbulkan risiko bagi Stasiun Luar Angkasa.

Pesawat ruang angkasa bekerja untuk melampirkan dirinya pada satelit yang mati. Sehingga mendorongnya ke arah Bumi untuk membakar di atmosfer.

ELSA-d merupakan singkatan dari End-of-Life Services oleh Astroscale. Ada satelit services dan satelit klien yang meluncur bersama. Hal itu menurut Astroscale.

Perusahaan berbasis di Jepang pada belakang misi tersebut. Tentunya dengan menggunakan teknologi docking magnetic.

Servicer akan melepaskan dan mencoba bertemu dengan klien. Klien bertindak sebagai potongan mock dari sampah ruang angkasa.

Misi Astroscale

Saat ini memang perlu menangani ancaman puing secara serius. Tentunya dengan berkomitmen pada program pemindahan puing.

Selain itu, juga mempersiapkan satelit dalam pemindahannya ke masa depan pada akhir masa pakainya. Misi dari Astroscale meluncurkan Roket Soyuz 2 seberat 175 kg.

Dengan satelitnya memiliki berat 17 Kg, terpasang pada luar angkasa. Dalam misinya, mencari sampah dari bangkai peluncuran satelit setiap tahunnya. Seperti halnya yang dilakukan oleh SpaceX.

Astroscale menguji kemampuan pesawat dengan membawanya ke atmosfer Bumi. Pada atmosfernya, tempat di mana bisa terbakar. Hal ini dengan manuver yang berbeda dalam kecepatan mencapai 17.500 mil per jam.

Misi pembersihan sampah luar angkasa ini mengandalkan pelat dok magnetic. Hal itu berguna untuk mengunci satelit.

Astroscale kedepannya berharap, semua satelit baru bisa menggunakan pelat. Sehingga lebih aman dalam pemindahannya, terlebih selama masa operasinya.

Baca Juga: Misi Apollo 11 ke Bulan Bisa Saja Mengakhiri Kehidupan Bumi

Pemindahan Satelit

Pengujian teknologi dalam misi tersebut menargetkan pemindahan satelit yang belum meluncur. Selain itu, juga mengatasi puingnya yang sudah ada di luar angkasa.

Aerospace bekerjasama dengan JAXA dalam proyek pembersihan puing pertamanya. Misi Badan Antariksa Eropa, ClearSpace 1 membuang sampah antariksa dari orbit. Tentunya diharapkan bisa meluncur pada 2025.

Misi pembersihan sampah luar angkasa menggunakan empat lengan robot. Hal itu untuk menangkap puing-puing tersebut.

Masalah Sampah Luar Angkasa

Sampah luar angkasa telah menjadi masalah yang ada selama bertahun-tahun. Menurut laporan terbaru NASA, ada 26.000 dari jutaan sampah luar angkasa dengan ukuran softball mengorbit sepanjang 17.500 mph. Sehingga bisa menghancurkan satelit jika ada benturan.

Lebih dari 500.000 buah yang merupakan ancaman akhir misi. Hal itu karena kemampuannya dalam mempengaruhi sistem pelindung dan tangki bahan bakar. Selain itu, juga pada kabin pesawat ruang angkasa.

Misi pembersihan sampah luar angkasa, pada puing-puing dengan jumlah lebih dari 100 juta buah. Memiliki ukuran butiran garam dan bisa menusuk pakaian luar angkasa.

Hal itu memperkuat risiko tabrakan bencana terkait pesawat ruang angkasa dan krunya. Menurut NASA, membersihkan ruang dan mengatasi risiko yang ada terkait dengan puing-puing, dapat mencegah akumulasi lebih banyak limbah dan secara aktif menghapusnya.

Pada pengembangan teknologi pembersihan yang lain, sudah berlangsung selama bertahun-tahun. Di tahun 2016, badan antariksa Jepang mengirim tether 700 meter ke luar angkasa.

Hal ini untuk mencoba memperlambat dan mengalihkan sampah ruang angkasa. Pada tahun 2018, perangkat bernama Remove Debris berhasil melemparkan jaring sekitar satelit boneka.

Adanya misi pembersihan sampah luar angkasa dalam pengujian teknologi baru, bisa mengatasi puing-puing antariksa yang diperkirakan mencapai 9 ribu ton. (R10/HR Online)

Editor: Jujang

- Advertisment -

Berita Terbaru

spot_img