Utsman bin Affan Pemilik Dua Cahaya

Utsman Bin Affan

Utsman bin Affan merupakan seorang khalifah yang berkuasa selama 13 tahun, yakni 644 sampai 656 M, atau 23 sampai 35 H.  Ia menjadi khalifah setelah Umar bin Khattab wafat.

Sejak itulah, ia menggantikan Abu Bakar As Shidiq dan Umar bin Khattab, sebagai khalifah ketiga dalam Khulafaur Rasyidin.

Biografi Utsman Pemilik Dua Cahaya

Utsman bin Affan bin Abi Ashim bin Umayah bin Abdi Ayana bin Abdi Manaf  Al-Umawy Al-Quraisy, adalah nama lengkap Utsman bin Affan.

Abu Abdillah, merupakan nama lain Utsman. Pada masa jahiliyyah, berasal dari Bani Umayyah. Dzun Nuraini atau pemilik dua cahaya merupakan julukan baru bagi Utsman.

Karena menikahi dua putri Nabi Muhammad SAW, yaitu Sayyidah Ruqayyah dan Sayyidah Ummu Kulsum.

Utsman Menjadi Khalifah

Utsman naik sebagai khalifah ketiga setelah Umar bin Khattab wafat.

Sebelum wafat, Umar melakukan seleksi terlebih dahulu dengan mengangkat enam orang yang bertugas untuk menentukan khalifah berikutnya.

Keenam orang tersebut, antara lain, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Talhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwal, Abdurrahman bin Said dan Sa’ad bin Abi Waqas.

Dari keenam orang tersebut, akhirnya Utsman bin Affan terpilih sebagai khalifah ketiga di Masjid Nabawi 23 H atau 644 M, saat ia berusia 70 tahun.

Ketika memerintah, ia melakukan ekspansi dengan membentuk angkatan laut. Selain itu, ia membagi wilayah kekuasaan Islam menjadi 10 provinsi.

Pada masa pemerintahan, ia membangun gedung pengadilan, lalu membangun bendungan irigasi, dan memperluas Masjidil Haram sampai membukukan Al-Qur’an.

Membukukan Al-Quran

Pada masa khalifah, Utsman berupaya membukukan Al-Quran.

Hal ini terungkap dalam buku berjudul “Kepemimpinan dan Keteladanan Utsman bin Affan” karya Fariq Gasim Anuz.

Buku ini mengisahkan bagaimana awal mula Utsman dan para sahabatnya membukukan Al-Quran sampai akhirnya berbentuk mushaf Al-Quran.

Penulisan Al-Quran dalam satu mushaf sesuai tulisan aslinya dengan Hafsah menjadi usaha pembukuan di masa Utsman bin Affan.

Saat itu, Utsman memberi tanggung jawab penulisan Al-Quran kepada Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair dan Said bin Hisyam.

Laporan dari Hudzaifah yang mengatakan telah terjadi perselisihan antara umatnya tentang Al-Quran menjadi salah satu pertimbangan.

Pertimbangan lainnya adalah kesalahan dalam membaca Al-Quran pada orang-orang non Arab, daripada orang Arab.

Selain itu, juga akibat dari belum ada upaya membukukan Al-Quran.

Alasan Utsman bin Affan tidak langsung begitu saja menyatukan dalam hal membukukan Al-Quran.

Utsman bin Affan melihat kondisi dahulu saat itu, termasuk menerima masukan.

Sebelumnya, pada masa Rasulullah Al Quran belum berbentuk mushaf. Baru pada masa khalifah Ustman inilah ada upaya menyatukan Al-Quran dengan membuat mushaf.

Upaya ini terjadi setelah Utsman menanggapi laporan Hudzaifah dengan bermusyawarah bersama beberapa sahabat di Madinah.

Metode Utsman dalam Penulisan Mushaf Al-Quran

Upaya membukukan Al-Quran di masa Utsman pertama kalinya dengan membuat beberapa metode.

Pertama, membentuk satu tim ahli melaksanakan penulisan Al-Quran.

Tim ahli ini menurut mayoritas ulama, terdiri dari 4 orang, yaitu Zaid bin Tsabit dari Anshar, Abdullah bin Zubair, Said bin Ash, dan Abdurrahman bin Harits dari Quraish.

Setelah itu, ia mengumpulkan mushaf yang ada pada Hafshah binti Umar bin Khattab. Kemudian menulis ulang sesuai tulisan aslinya.

Ia mengawasi sendiri proses pembukuan Al-Quran. Namun, proses pembukuan tersebut terjadi perbedaan tentang nama surat At-Taubah atau At-Tabuut.

Mendengar telah terjadi perbedaan, maka Utsman  mengatakan untuk menulis At-Taabuut, sebab ia turun dengan lisan Quraisy.

Kemudian usai pembukuan mushaf ia membagi dan memperbanyak menjadi 5 bagian dan sebagian lagi berpendapat mushaf diperbanyak menjadi 5.

Kemudian, ia mengirimkan salinan mushaf ke sejumlah wilayah dari Mekah, Kufah dan Syam.

Mushaf Al-Madinah merupakan mushaf pengirimannya ke Madinah.

Mushaf Al-Imam merupakan salinan mushaf yang ia bawa sendiri.

Dalam pengiriman setiap mushaf, ada seorang pengajar yang menyertainya ke wilayah tertentu.

Pengajar tersebut mengajarkan kaum muslim cara membacanya berdasar hadist shahih dan hadis mutawir.

Abdullah bin Sa’id mengajarkan mushaf ke Mekah. Mughirah bin Syiap mengajarkan mushaf ke Syam, Abu Abdurrahman Sulami di Kufah, dan Zaid bin Tsabit di Madinah.

Memisahkan isi mushaf yang berbeda dengan cara membakar dan mencucinya dengan air sampai tintanya hilang.

Supaya tidak ada perbedaan dan muslimin bersatu dalam satu mushaf.

Kedermawanan Utsman bin Affan

Khalifah Utsman bin Affan, merupakan seorang pedagang kain yang kaya raya. Kedermawanannya terhadap sesama menjadi karakternya yang khas.

Berbisnis, salah satu cara Utsman untuk menyumbangkan sebagian rezekinya kepada orang yang membutuhkan.

Semasa hidupnya, Utsman sering mengelola berbagai macam bisnis, kemudian menghasilkan banyak uang hingga menjadi pedagang kaya raya.

Hasil usaha bisnis tidak untuk foya-foya, tetapi ia membagikan keuntungan bisnisnya dengan membantu orang yang tidak mampu dan kepentingan dakwah.

Ia memanfaatkan semua kekayaannya untuk keperluan berdakwah dan berjihad di jalan Allah.

Kisah Kedermawanannya terlihat jelas ketika terjadi perang Tabuk. Saat itu ia menyumbang ratusan ekor kuda, unta dan dana sebesar 1000 dinar.

Tidak hanya saat terjadi perang Tabuk, ia juga menaruh perhatian besar terhadap fakir miskin. Ia selalu menyisihkan sebagian rezeki kepada orang yang tidak mampu.

Bersedekah sudah menjadi kebiasaan Utsman semenjak ia sukses sebagai pedagang. Meskipun sering bersedekah, jumlah uang simpanannya tidak habis.

Menurut kitab Allah Al-Bidayah wa-an Nihayah, simpanan uang Utsman jumlahnya mencapai 151 ribu dinar dan 1000 dirham atau sekitar 2 triliun rupiah.

Strategi Utsman terjun ke Dunia Bisnis

Ketika menjalankan bisnis, khalifah Utsman menggunakan beberapa strategi, yaitu terjun langsung mengelola bisnis.

Keuntungan yang banyak ia peroleh dengan cara membayar jasa orang ketika membangun bisnis.

Strategi lain dalam merintis usaha, Utsman menyediakan stok barang yang harganya lebih murah dan terjangkau.

Kemudian ia tidak membeli stok barang lama dan selalu membeli barang yang terbaru dan berkualitas.

Menginvestasikan modalnya untuk masa depan menjadi cara lain Utsman dalam berbisnis.

Simpanan investasi tersebut sekarang menjadi warisan cucunya berwujud sebuah hotel, kemudian keluarga besar Utsman bin Affan kini yang mengelolanya.

Detik-detik Pembunuhan Ustman bin Affan

Semenjak Utsman menjadi khalifah ada beberapa kelompok seperti Mesir, Kuffah dan Bashrah yang tidak puas.

Sejumlah cara mereka lakukan untuk merebut kekuasaan dari kekhilafan Utsman. Dari Bashrah  menggantinya dengan Thaihah.

Lalu dari Kufah menggantinya dengan Az-Zubair, dan dari Mesir datang menggantinya dengan Ali bin Abi Thalib.

Berbagai cara mereka lakukan untuk merebut dan menurunkan khalifah Utsman. Sampai akhirnya mereka mengepung rumah dari segala penjuru.

Peristiwa ini, bermula dari surat Utsman untuk Abdullah yang kemudian mereka rampas dari seorang budak utusan khalifah Utsman.

Namun, Utsman mengaku ia bukan penulis surat wasiat itu. Walaupun, dalam surat terdapat cap stempel cincin yang ia miliki.

Desakan supaya ia mengundurkan diri semakin kuat, tetapi Utsman tetap menolak menanggalkan jabatannya itu sampai maut memisahkan.

Pemberontak semakin beringas hingga akhirnya mereka membakar rumah Utsman. Keadaan makin panas setelah seorang pemberontak, bernama Al-Ghafiqi nekad menikam Utsman.

Na’ilah, isteri Utsman, yang sedang berada di rumah berusaha membela sampai jarinya terpotong. Jenggot milik Utsman mereka tarik dan langsung membunuhnya.

Ketika itu, Utsman sedang mengaji dengan mushaf Al-Qur’an masih berada di tangannya. (Deni/R4/HR-Online)