Bank Sampah di Kota Banjar Ubah Sampah Rumah Tangga Jadi Rupiah

Bank Sampah
Bank Sampah Karya Muda Mandiri Lingkungan Tanjungsukur, Kelurahan Hegarsari, Kecamatan Pataruman, Kota Banjar. Foto : Sandi Lukman/HR.

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),- Bank sampah di Kota Banjar, Jawa Barat, mengubah sampah rumah tangga yang disetorkan masyarakat menjadi pundi-pundi rupiah. Seperti halnya yang warga Kelurahan Hegarsari, tepatnya Lingkungan Tanjungsukur, RW. 17. Setiap harinya mereka mengumpulkan sampah sisa rumah tangga.

Sampah yang telah terkumpul selanjutnya mereka setorkan ke Bank Sampah Karya Muda Mandiri yang ada di lingkungannya.

Ketua Bank Sampah Karya Muda Mandiri, Hendi Suryadi, mengaku awalnya merasa prihatin dengan banyaknya sampah dalam selokan Ciroas. Ia pun berpikir untuk membersihkan dan mengolah sampah tersebut menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat.

“Awalnya saya membuat bank sampah ini termotivasi dari banyaknya sampah di selokan. Saya berfikir bagaimana cara mengelola lingkungan menjadi bersih. Dulu mengelolanya disatukan dengan koperasi, dan itu sudah berjalan sekitar lima tahun,” tuturnya, Selasa (06/04/2021).

Lanjut Hendi, Bank Sampah Karya Muda Mandiri baru terbentuk sejak 6 bulan lalu. Bank sampah ini merupakan salah satu program dari Karang Taruna RW 17 Lingkungan Tanjungsukur.

Baca Juga : Polisi Banjar Bantu Jompo di Hegarsari yang Tidur Beralas Kasur Rusak

Bank Sampah Karya Muda Mandiri menjadi salah satu bank sampah di Kota Banjar. Sampai saat ini, dalam kelompok bank sampah lingkungan RW 17 ini sudah terdapat 60 KK (Kepala Keluarga) yang tercatat dan mengumpulkan sampah.

“Bank sampah ini baru terbentuk sejak enam bulan terakhir. Sistemnya selama satu minggu dua kali sampah dari masyarakat kita tarik ke masing-masing rumah. Totalnya ada 60 KK, dan responnya cukup bagus dari masyarakat dengan keberadaan bank sampah ini,” kata Hendi.

Harga Setiap Jenis Sampah

Ia juga menjelaskan, setiap jenis sampah yang terkumpul berbeda harganya. Harga paling tinggi jenis sampah aluminum yang mencapai Rp 5.000 per kilogram. Sedangkan, jenis sampah seperti botol plastik harganya hanya Rp 1.000 per kilogram.

“Kalau sampah itu beda jenis beda harga, dan saat ini juga sedang saya pelajari. Karena ternyata jenisnya itu ada ratusan. Untuk botol plastik dari masyarakat harganya seribu rupiah per kilogram,” terangnya.

Untuk harga paling tinggi itu aluminium. Dari warganya 5 ribu rupiah. Tapi setelah dipilah dan dipilih harga jualnya 12 ribu per kilogram,” terangnya.

Hendi menambahkan, untuk rencana kedepannya akan mengubah sampah menjadi emas mini gold, sehingga bisa menjadi investasi jangka panjang. (Sandi/R3/HR-Online)

Editor : Eva Latifah